Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 162 – Berbaikan


__ADS_3

Ia pun mulai merenungkan kata demi kata yang dikeluarkan oleh kekasihnya itu. Tidak menampik bahwa apa yang dikatakan Lino benar adanya. Dan bagaimana pun juga, yang dilakukan oleh kekasihnya itu juga untuk keselamatannya. Namun, sedikit ada perasaan tercubit di hatinya mengingat bahwa yang mengancam keselamatannya itu adalah keluarganya sendiri.


Rasa marah dan jengkel yang sejak tadi Luna rasakan pun sedikit demi sedikit menjadi berkurang. Kini, perasaan marah itu pun berubah menjadi perasaan bersalah kepada kekasihnya yang selama ini berusaha untuk terus menjaganya. Namun untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf saat ini juga, Luna masih terlalu gengsi melakukannya.


Mungkinkah nantinya Luna akan meminta maaf terlebih dahulu dan membicarakan apa yang dikatakan Jordan kepadanya? Dan apakah Luna akan menyetujui permintaan Jordan untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, terutama Rianti yang katanya sedang sakit parah itu?


Dua jam berlalu. Luna masih tidak bisa berkonsentrasi terhadap pekerjaannya. Kepalanya dipenuhi oleh semua perkataan Lino yang dibenarkan oleh hatinya. Gadis itu pun menjadi semakin gelisah di ruangannya.


Akhirnya setelah tiga jam berlalu, Luna pun akhirnya memutuskan untuk meminta maaf kepada kekasihnya itu. Ia pun ingin menceritakan semua yang dikatakan oleh Jordan kepadanya. Dan tentunya Luna juga ingin meminta pendapat Lino tentang keputusannya untuk menemui Rianti entah kapan itu.


Luna pun merapikan mejanya. Membawa beberapa file yang memang telah selesai dipersiapkan dengan susah payah karena ketidakfokusannya itu. Dan ia pun berlalu dari ruangannya menuju pintu ruangan atasannya


sekaligus kekasihnya.


Tok..tok..tok..


Luna pun mengetuk daun pintu yang ada dihadapannya.

__ADS_1


Tok..tok..tok..


Ketukan kedua pun Luna lakukan karena ketika di tiga ketukan pertama ia tidak mendapatkan balasan apapun dari orang yang berada di dalam sana. Dan Luna yakin bahwa Lino ada di dalam sana.


Namun sayangnya, hingga tiga ketukan ketiga pun tidak ada tanggapan apa-apa dari pemilik ruangan itu. Luna pun akhirnya memtuskan untuk memasuki ruangan itu tanpa mengetuknya lagi. Gadis itu cukup curiga dengan apa yang dilakukan kekasihnya hingga tidak menyadari ketukan yang dilakukan olehnya itu.


“Permisi.” ucap Luna sambil membuka sedikit pintu ruangan atasannya itu dan memasukkan kepalanya dari lubang yang cukup kecil itu untuk mengetahui keadaan yang ada di dalam ruangan tersebut.


Dan betapa terkejutnya Luna ketika melihat Lino yang duduk di singgasananya sambil menopangkan dagunya pada kedua tangannya, serta menghadap pintu dengan tatapan yang sangat tajam tanpa mengedipkan matanya.


“Maaf, ada berkas yang harus Anda tanda tangani.” ucap Luna dengan sangat takut sambil melebarkan pintu yang telah sedikit dibukanya itu dan berjalan menuju singgasana Lino yang berada tepat tega lurus


“Saya akan mengambilnya kembali setelah Anda menandatangani nya.” lanjut Luna sambil meletakkan berkas yang dibawanya ke meja Lino.


Ketika tidak mendapati reaksi apapun dari Lino, Luna pun akhirnya memilih untuk berbalik dan meninggalkan ruangan tersebut. Luna tidak siap terintimidasi dengan tatapan Lino yang sangat tajam seperti itu meskipun biasanya ia bisa merubah tatapan seperti itu menjadi lebih hangat.


“Okh dan saya juga hendak meminta maaf atas semua perkatan dan tindakan saya tadi. Saya tahu kalau saya sudah keterlaluan. Tapi saya cukup tidak terima dengan perkataan Anda tentang keluarga saya.” ucap Luna

__ADS_1


setelah melamgkahkan kakinya beberapa langkah dari meja tempat Lino duduk dengan tenang itu.


Dan setelah mengeluarkan kata-kata permintaan maafnya itu, Luna pun melanjutkan langkahnya. Meja Lino dan pintu membutuhkan hingga lebih dari sepuluh langkah. Oleh karena itu, ia harus segera berlalu jika tidak ingin lebih merasakan ketakutan terhadap tatapan atasannya itu.


Namun sayangnya, setelah empat langkah dan melewati sofa yang ada di ruangan itu, badannya terasa terbang. Dan hal ini tentunya membuatnya terkejut.


“AAAAAAAAAAA..” teriak Luna karena keterkejutannya. Luna pun segera mengalungkan tangannya ke leher seseorang yang mengangkat badannya dari belakang tanpa aba-aba itu. Dan ia pun pasrah dengan perlakuan orang tersebut.


Jadi apakah dengan begini bisa dikatakan bahwa Luna dan Lino sudah berbaikan? Seharusnya sih tentu saja ya. Tapi, kita tidak ada yang tahu, bukan?


**********


Dukung terus novel ini yuk. Jangan lupa love, like, komen, dan share nya ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah mau membaca novel ini.


**********

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2