Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 83 – Kesadaran Luna


__ADS_3

Setelah menghubungi Felix, Rianti pun kembali melakukan kegiatannya. Kali ini, kegiatan yang dilakukannya adalah membuat makan siang untuk anak perempuannya. Ya, kali ini Rianti harus menyiapkan sendiri semua kebutuhan Luna karena itu adalah salah satu pesan dari Felix untuk memperhatikan semua kebutuhan calon istrinya.


Hingga 1 jam berlalu. Semua menu yang akan dihidangkan untuk Luna telah siap. Rianti pun sengaja memberikan banyak makanan yang bergizi dan memiliki rasa yang cukup nikmat. Namun, dibalik itu semua, Rianti juga sudah memasukkan obat yang telah dibelinya beberapa waktu lalu agar Luna tetap tertidur.


Setelah menyelesaikan masakannya, Rianti pun kembali untuk melihat keberadaan Luna. Ia hanya ingin memastikan bahwa ikatan yang dibuat oleh Boy cukup kencang tetapi tidak menyakiti tangan dan kaki Luna.


Karena ia tidak ingin Felix mengetahui bahwa Luna diikat dengan sangat kencang hingga menimbulkan memar yang sulit dihilangkan di bagian tangan dan kakinya.


Dan karena Luna masih lelap dengan tidurnya yang entah kapan akan terbangun, Rianti pun akhirnya memilih untuk membersihkan dirinya sendiri terlebih dahulu. Karena setelah ini, terlebih setelah Luna terbangun, ia akan sangat disibukkan dengan mengurus anak perempuan satu-satunya yang bisa menjadikannya kaya raya tanpa harus bersusah payah bekerja keras mengumpulkan uang.


1 Jam Kemudian


“AAAAAAAAAAA!!!! TOLONGGGG!!!! TOLONG LEPASKAN SAYA!! SIPAPUN TOLONG SAYA..” terdengar suara teriakan yang mengagetkan Rianti. Dan Rianti tahu darimana suara itu berasal. Ya! Suara tersebut adalah suara


Luna yang telah tersadar dari tidur panjangnya. Kini, saatnya Rianti beraksi untuk menghentikan semua drama yang dibuat anak gadisnya agar tidak dicurigai oleh tetangga sekeliling rumah tersebut.


Rianti yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya dan menggunakan pakaian rumahnya agar lebih santai ketika menghadapi anak gadisnya. Setelah selesai berpakaian, Rianti pun segera melintasi ruang keluarga untuk bisa mencapai kamar Luna.

__ADS_1


“Hai, anak gadis Ibu yang semakin hari semakin cantik.” ucap Rianti yang telah memasuki kamar anak perempuannya dengan sangat santai dan tanpa perasaan bersalah dan berdosa karena telah menculik dan


menyekap anak perempuan satu-satunya. Bahkan Rianti juga tidak merasakan adanya penyesalan karena telah membuat anak perempuannya itu tampak ketakutan tetapi tidak bisa menggerakkan kaki dan tangannya.


“I.. Ibu..” ucap Luna terbata-bata ketika melihat seorang wanita yang sangat ia kenali masuk ke dalam kamarnya.


Ya, Luna memang sangat mengenali bahwa dia sekarang berada di kamarnya sendiri. Dan hal itu membuat Luna menjadi ketakutan karena mengingat kejadian yang menimpanya kala itu di tempat ini. Namun, ia mencoba


menepis perasaannya takutnya karena melihat beberapa perabot yang ada bukanlah seperti miliknya. Luna masih mencoba berpikir positif bahwa dia diculik oleh sekumpulan pria semalam dan membawanya ke tempat lain. Namun, harapannya pupus ketika melihat wanita paruh baya itu masuk ke dalam ruangan tersebut.


“Kamu pasti sangat merindukan kamar ini kan, sayang? Kamu pasti sangat merindukan rumah ini dan tentunya kamu pasti merindukan ibumu ini kan, darling?” ucap Rianti yang mencoba untuk menghilangkan ketakutan Luna


“Lepaskan Luna, Bu.” ucap Luna masih terbata-bata sambil menundukkan kepalanya. Sejujurnya, Luna sangat takut melihat keberadaan Ibunya itu. Bagaimana tidak jika selama ini tidak pernah ada kasih sayang yang


diterimanya? Entah apa kesalahannya, Luna sendiri tidak tahu. Yang Luna tahu, keluarganya tidak ada yang mencintai dirinya sejak dia kecil.


“Nanti akan Ibu lepaskan. Kamu jangan takut. Sekarang kamu makan terlebih dahulu. Kamu tidur sangat lama, sayang. Ibu sampai berpikir untuk mencarikanmu pangeran berkuda putih untuk menciummu agar kamu

__ADS_1


terbangun dari tidur panjangmu itu.” ucap Rianti sambil membelai lembut kepala Luna. Hal yang tentunya tidak pernah dilakukannya selama hidup Luna.


Dan setelah mengucapkan hal tersebut, Rianti pun segera keluar dari kamar Luna untuk mengambilkan makanan yang telah disiapkan. Tak lupa, Rianti kembali mengunci pintu yang ada di kamar anak perempuannya itu.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Rianti telah membawa sepiring makanan yang berisi nasi dan beberapa macam lauk pauk. Tak lupa juga Rianti membawakan secangkir jeruk dingin untuk melengkapi gizi bagi anak perempuannya itu.


“Luna, makan dulu.” ucap Rianti yang telah masuk kembali ke kamar Luna.


“Bu, lepaskan Luna, Bu. Luna mohon, Bu.” ucap Luna sambil terisak dan memohon kepada sang Ibu untuk melepaskan dan membebaskan dirinya.


“Kamu makan dulu. Ibu suapin kamu ya, sayang. Buka mulutnya.” ucap Rianti kembali sambil menyodorkan sesendok penuh makanan dari piring yang dibawanya.


Luna yang tidak ingin mengecewakan ibu kandungnya sendiri pun menerima suapan demi suapan yang disodorkan oleh Rianti tanpa menaruh curiga apapun. Tidak membutuhkan waktu lama, Luna pun telah menghabiskan makanan dan minumannya. Dan Luna pun kembali tertidur sesaat setelah makanan itu habis. Bahkan sebelum Rianti keluar dari ruangan tersebut, Luna telah kembali tidak sadarkan diri. Ya, obat yang diberikan Rianti memang


cukup keras dan memiliki efek yang cukup cepat. Jadi pastinya tidak membutuhkan waktu lama untuk Luna kembali tertidur setelah menghabiskan makanan yang terdapat kandungan obat tersebut.


Rianti pun melenggang keluar dari kamar tersebut dengan tanpa beban. Kini, dia harus banyak bersandiwara di depan anak perempuannya itu agar mendapatkan image yang baik sebagai ibu. Namun, dia tidak membutuhkan waktu lama karena Luna akan terus tertidur.

__ADS_1


*************


-Bersambung-


__ADS_2