
Retha yang tersentak dengan perkataan Luna pun hanya bisa menutupi rasa malunya dengan berlalu dari ruangan tersebut. Untungnya di ruangan tersebut hanya ada mereka bertiga, jika tidak, entah harus diletakkan dimana wajah Retha saat ini.
Dan Lino yang melihat, serta mendengar perkataan Luna pun hanya bisa tersenyum bangga. Ia tidak tahu bahwa setelah ini akan ada badai amarah yang menghantam dirinya.
Setelah kepergian Retha, keadaan di ruangan itu pun kembali hening. Seakan kedua orang yang ada di dalam ruangan itu masih berkutat dengan pikirannya masing-masing. Hingga akhirnya Luna pun membuka suaranya.
“Saya rasa, sudah tidak ada yang perlu saya jelaskan untuk meeting esok. Dan berkas yang harus Anda tanda tangani, telah saya letakkan di meja. Saya permisi.” ucap Luna membuka keheningan sambil meletakkan
berkas-berkas yang tadi dibawanya ke meja kerja Lino.
Lino yang sedari tadi masih merasa diatas awan karena kekasihnya berani melawan wanita yang selalu mengejarnya pun dibuat terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Luna akan merubah nada suara kepadanya. Bahkan berbicara dengan sangat formal. Karena seingatnya, sudah beberapa hari ini Luna jarang berbicara formal, kecuali sedang berada di sebuah pertemuan ataupun sedang banyak kryawan lain.
“Tunggu, Lun.” kata Lino ketika Luna terus melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi kepadanya.
__ADS_1
“Ada yang bisa saya bantu, Pak? Apakah Bapak perlu dipanggilkan nona yang tadi kemari untuk melanjutkan adegan panas kalian?” kata Luna kembali tanpa menolehkan kepalanya. Rasanya jika bisa dilihat, kepala Luna
sudah sangat berasap dan hampir meledak. Namun sebisa mungkin Luna terus menahannya.
Dan Lino pun hanya terdiam mendengar perkataan Luna. Ia tidak menyangka bahwa kekasihnya itu ternyata memendam kemarahannya, bahkan mungkin kecemburuannya dengan sangat baik. Bahkan ia bisa membalas setiap perkataan yang menyerang dirinya dengan santai, bahkan membalikkannya.
Namun, keterdiaman Lino pun tidak berlangsung lama. Karena sedetik kemudian, senyum mengembang dari bibirnya. Ia sudah tidak sabar untuk menghampiri kekasihnya yang telah melangkahkan kakinya keluar setelah
“Kamu cemburu? Kamu mau aku cium?” tanya Lino ketika memasuki ruangan Luna dan masih melihat wajah bete dari kekasihnya itu.
Luna pun memalingkan wajahnya. Malas menghadapi kekasihnya itu. Lagipula, ini masih jam kerja. Jadi Luna pun merasa tidak perlu menanggapi perkataan dari atasannya itu.
“Sayang.. Dengerin aku..” kata Lino kembali mencoba mendaoatkan perhatian dari kekasihnya yang seakan sibuk dengan pekerjaannya.
__ADS_1
“Mohon maaf, Pak Lino. Pekerjaan saya masih banyak. Dan saya rasa, pekerjaan bapak juga masih banyak. Jadi tolong bersikap professional. Lagipula, ini masih jam kantor, masih jam kerja.” kata Luna ‘mengusir’ atasan sekaligus kekasihnya itu.
Bukannya Luna tidak ingin mendengar penjelasan dari kekasihnya. Namun, Luna hanya ingin menenangkan diri. Meskipun ia tahu bahwa wanita tadilah yang mencium kekasihnya, tetapi tetap saja ada perasaan tidak terima di hatinya. Bahkan ketika melihat Lino seakan tidak menolak ciuman dari wnaita itu.
Dan untuk menenangkan diri, tentunya Luna sangat tidak ingin diganggu oleh pembuat masalah itu sendiri. Karena jika ia terus diganggu, maka Luna akan terus emosi dan tidak bisa menenangkan diri.
Lino yang memahami keadaan kekasihnya itu pun memilih untuk meninggalkan ruangan tersebut. Meskipun dengan perasaan tidak rela dan sedikit bahagia karena mengetahui bahwa Luna cemburu, tetapi ia juga tidak ingin menganggu kekasihnya itu.
Dan tentunya Lino bisa meninggalkan Luna dengan tenang karena ia tahu ada Siska yang selalu menemani Luna. Oleh karena itu, laki-laki itu bisa melenggang pergi dan memberikan waktu sebanyak-banyaknya untuk kekasihnya itu menenangkan diri. Dan ia tidak akan menganggunya sebelum perasaan Luna lebih baik.
************
-Bersambung-
__ADS_1