
“Jadi, tolonglah sahabatmu ini, No. Gue ingin dekat dengan Luna.” ucap Felix kembali mengakhiri ceritanya dengan permohonan kepada sahabatnya.
Lino pun hanya terdiam mendengar perkataan Felix. Sudut hatinya sebenarnya sangat tidak rela jika Luna harus berdekatan dengan laki-laki lain. Namun, Lino tidak tahu bagaimana harus menolak permintaan sahabatnya itu.
Dan ketika Lino sedang dalam keadaan gundah menentukan keputusannya, Roland pun mencoba bertanya kepada Lino.
“Elu gak ada apa-apa kan sama Luna? Atau jangan-jangan elu ada perasaan lebih sama Luna makanya elu jadikan dia asisten pribadi?” tanya Roland menebak-nebak.
Dan benar saja, seketika, raut wajah Lino pun berubah. Namun hanya beberapa detik karena detik berikutnya, Lino pun langsung merubah wajahnya menjadi biasa saja agar tidak diketahui oleh sahabat-sahabatnya.
Sebenarnya bukannya Lino ingin menyembunyikan perasaannya terhadap Luna kepada ketiga sahabatnya. Lino memang memiliki sedikit perasaan khusus kepada Luna. Saat ini memang masih sedikit. Namun, Lino yakin nantinya akan semakin bertambah besar karena memang banyak hal yang sangat menarik dari diri seorang Luna. Oleh karena itu, Lino ingin dekat dengan Luna tanpa diganggu oleh siapa pun.
Namun rasanya keinginan Lino hanyalah tinggal keinginan saja. Karena mendengar Felix juga mungkin memiliki perasaan lebih kepada Luna, membuat Lino dalam keadaan bimbang. Apakah dia akan bersaing secara sehat dan terbuka dengan Felix atau malah menyembunyikan rapat-rapat dan seakan menusuk sahabatnya dari belakang.
“Sorry, hubungan gue professional. Atasan dan bawahan.” ucap Lino singkat menjawab pertanyaan dari Roland.
__ADS_1
“Jadi harusnya elu gak masalah dong kalau Felix mencoba mendekati asisten pribadi elu itu?” tanya Roland memancing.
Roland yang sebenarnya melihat perubahan raut wajah Lino beberapa waktu lalu semakin yakin dengan perasaan Lino terhadap Luna. Namun, Roland juga tidak ingin mengambil kesimpuan terlalu tergesa-gesa. Ia ingin Lino mengaku dengan jelas kepada sahabatnya. Dan jikalau pun harus terjadi persaingan antara Lino dan Felix, biarlah mereka bersaing secara sehat supaya persahabatan ini tetap terjaga.
Namun keinginan Rolan pun harus kandas karena rupanya Lino masih ingin menutupi semua hal yang menyangkut antara dirinya dan Luna. Lino tidak mau terbuka dan bercerita secara jujur kepada ketiga sahabatnya. Tentunya hal ini cukup menyakitkan buat seorang sahabat. Namun, apapun keputusan Lino, Roland tetap menerima dan mendukungnya.
“Harusnya Felix tanya langsung ke Luna, bukan ke gue.” jawab Lino dengan sedikit terbata-bata.
“Ya kalau gak, elu bantu gue lah buat ngomong ama Luna. Mungkin kayak memfasilitasi Luna dengan supir pribadi dan gue siap jadi supirnya.” ucap Felix kemudian masih berusaha untuk meminta bantuan kepada Lino.
Lino yang merasa terpojokkan oleh sahabatnya hanya bisa menghela nafasnya. Sungguh jika bisa, dia sangat tidak ingin dalam posisi ini. Karena jika dia membiarkan Felix mendekati Luna, posisinya akan terancam, terlebih jika nantinya Luna tertarik dengan Felix yang memang terkenal sangat ramah, humble, dan mudah mencairkan suasana. Nilai plus untuk Felix yang berbanding terbalik dengan Lino.
Dan setelah menghela nafasnya beberapa kali, akhirnya Lino pun memberikan keputusannya dengan sedikit berat hati.
__ADS_1
“Tapi gue gak mau ada pemaksaan ya, Lix. Jika memang nantinya Luna tidak mau atau keberatan, elu juga harus menghargainya.” ucap Lino memberikan lampu hijau kepada sahabatnya.
Dan senyum lebar pun terlukis indah di bibir Felix. Ia sangat bahagia karena jalannya dibantu oleh ketiga sahabatnya.
Namun berbeda halnya dengan Lino yang menjadi tampak murung dan berharap Luna akan terus menolak keinginan Felix untuk mengantarkannya.
************
Duh, kayaknya ada yang gak ikhlas banget nih kalau nona nya di deketin dengan laki-laki lain. Kayaknya sudah ada yang main hati dan mengesampingkan profesionalitas nih.
Gimana nih menurut pendapat kalian?
Yuk jangan lupa tinggalkan jejak kalian setelah membaca.
***********
__ADS_1
-Bersambung-