Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 147 – Menginap Bersama


__ADS_3

“Jangan memaksa wanita, Bung.” ucap laki-laki yang tadi sedang tertawa bersama dengan Luna.


“Bukan urusan Anda!” kata Lino dengan kekesalan yang memuncak, terlebih melihat Luna yang masih diam saja tidak mengikuti perintahnya.


Akhirnya, Lino pun mengambil keputusan. Ia pun mengangkat tubuh Luna dipundaknya. Dan membawanya pergi dari tempat tersebut tanpa mempedulikan teriakan Luna.


**********


“Kau mau bawa aku kemana?” teriak Luna ketika mobil yang membawanya dan Lino telah meninggalkan area parkir dari pusat perbelanjaan dimana Luna mendatangi tempat gym tersebut.


Lino pun terdiam mendengar pertanyaan Luna. Namun, dalam keterdiamannya, Lino terus melajukan mobilnya dengan kecepatan yang diatas rata-rata. Beruntungnya jalanan masih sangat lenggang sehingga Lino tidak perlu memainkan klakson dan membahayakan pengendara lainnya.


Mobil Lino pun terus melaju hingga menuju tol yang menghubungkan kota tersebut dengan kota lainnya. Entah kemana Lino akan membawa wanitanya ini dengan emosi yang meluap-luap.


“Nono, kita mau kemana? Ini arah keluar dari kota ini.” lanjut Luna dengan mata yang membulat dan ketakutan yang mulai merayapi perasaannya. Terlebih dengan pakaiannya yang belum diganti dan masih menggunakan

__ADS_1


pakaian olahraga.


Lino pun masih terdiam. Ia terus melajukan dan menginjak pedal gas. Menghindari beberapa mobil yang menghalangi jalannya sehingga mobil itu terus bergerak ke kiri dan ke kanan. Hal ini pun semakin membuat Luna ketakutan hingga akhirnya ia pun memilih untuk memejamkan matanya dan memegang pintu sekuat tenaga yang ia bisa.


Hingga akhirnya, setelah beberapa jam berlalu, mereka pun sampai disebuah hotel yang entah berada di kota mana. Lino pun memarkirkan mobilnya di area parkir yang telah disediakan disana. Lalu, ia pun mulai membuka pintu, membuka seatbelt Luna, dan menggendong wanita itu di pundaknya kembali.


“Bookingan atas nama Adelino Damaresh.” ucap Lino singkat ketika telah mencapai resepsionis tanpa menurunkan Luna sedikit pun. Ia pun tidak mempedulikan teriakan dari Luna sejak tadi keluar dari mobil. Bahkan pukulan-pukulan kecil Luna pun tidak dirasakannya.


Dan setelah mendapatkan kunci kamarnya, Lino pun segera menuju lift yang akan membawanya ke kamar president suit di lantai paling atas hotel tersebut.


Sesampainya di kamar, Lino pun segera menjatuhkan tubuh Luna di tempat tidur yang berada disana. Tempat tidur yang cukup besar terletak di tengah-tengah ruangan.


“Kau harus membayarnya, Nana. Kamu telah membuat emosiku naik hingga meninggalkan semua pekerjaanku dan kamu juga berani-beraninya memperlihatkan lekuk tubuhmu di tempat umum. Bahkan, kamu tertawa bahagia dengan laki-laki lain.” ucap Lino dengan penuh emosi dan penekanan tentang semua kesalahan Luna.


Luna yang masih mencerna semua perkataan Lino pun hanya bisa menampilkan wajah tercengang. Ia tidak menyangka bahwa kekasihnya akan semarah itu. Padahal disini yang seharusnya pertama marah adalah dirinya karena melihat kekasihnya diam saja dihinggapi ulat keket ketika di kantor.

__ADS_1


Namun untungnya Luna hanya perlu waktu sesaat untuk mencernah itu semua. Dan setelahnya, ia pun menyemburkan apa yang sudah menyumpal di tenggorokannya sejak tadi.


“Lalu bagaimana dirimu? Ditempeli ulat keket diam saja. Bahkan dadanya yang sebesar semangka itu menghimpit lenganmu. Bahagia? Tentu saja kan? laki-laki mana yang tidak bahagia mendapatkan semangka utuh. Dua biji pula.” sembur Lana dengan kekesalan yang kembali kepadanya.


Mendengar apa yang dikatakan Luna, Lino bukannya terkejut, tetapi malah tersenyum bahagia. Terlebih ketika wajah Luna seketika berubah memerah dan menahan emosi yang tadi sempat dihilangkannya di gym.


“Kamu cemburu? Lalu kamu mau membalasku? Memancing kecemburuan dan emosiku? Kamu salah Luna Intan Permana.” kata Lino tetap dengan senyum yang mengembang di wajahnya sambil mengunci pergerakan Luna. Rasanya bahagia sekali melihat wanitanya cemburu kepadanya. Tetapi ia juga tidak dapat memungkiri bahwa pembalasan yang Luna lakukan itu membuat emosinya berada di ujung kepalanya.


Lino pun terus memandang wajah wanita pujaan yang kini berada dibawahnya. Ia tidak akan pernah bosan seumur hidupnya untuk memandang wajah ini.


“Lepaskan, aku mau pulang. Kamu meninggalkan mobilku.” teriak Luna mencoba membebaskan dirinya dari kuncian Lino. Ya, meskipun sempat terpesona dengan laki-laki yang ada diatasnya itu, tetapi Luna dengan cepat menyadarkan dirinya lagi. Ia ingin segera pulang dan menghilang sesaat dari laki-laki itu. Menyerahkan semua masalah yang terjadi pada kekasihnya dan tampil sebagai pendamping pada harinya nanti.


“Tidak akan. Kita akan menginap disini. Mengulang apa yang pernah kita lakukan dengan kesadaran penuh.” kata Lino mengakhiri pembicaraannya dengan Luna dan mulai ‘menyerang’ wanita yang masih berada dibawah tubuhnya itu.


**********

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2