
“Jadi, bagaimana kamu bisa ada disini, Lun?” tanya Felix kembali karena belum mendapatkan jawaban apapun untuk menjawab keingin tahuannya.
“Udah lah, Bro. Mending kita buruan ke ruang kerja sebelum ada yang marah karena kita telat.” ucap Cleon mengajak Felix beranjak dari tempatnya sebelum sahabatnya itu mengeluarkan banyak pertanyaan lainnya
Mendengar perkataan Cleon, dengan berat hati Felix pun harus mengikuti saran temannya. Karena bagaimanapun juga, Lino adalah orang yang sangat peduli dengan waktu. Jadi, meskipun bukan pada hari dan jam kerja, Lino juga sangat tidak menyukai sebuah keterlambatan.
Akhirnya, Cleon, Felix, dan Roland pun menuju ruang kerja Lino dengan membawa beberapa minuman yang telah diambilnya sendiri di dapur. Mereka juga membawa beberapa cemilan yang sudah tersedia di meja makan.
Memang percapakan antar teman akan kurang lengkap jika tanpa minum dan cemilan, bukan?
Tok..tok..tok..
Pintu ruang kerja Lino pun diketuk oleh ketiga sahabatnya itu dengan sangat berisik. Yah, mau sedewasa apapun, jika sudah berkumpul untuk bersantai, mereka akan selalu menjadi layaknya anak kecil. Jadi, pastikan jangan menilai seseorang dari tampilan luarnya.
“Masuk!” teriak Lino dari dalam ruang kerjanya dengan sangat keras agar terdengar oleh ketiga sahabatnya yang berada dibalik pintu dan sedang mengetuk pintu tanpa henti dengan sangat keras.
Cleon, Felix, dan Roland pun segera berebut masuk ke dalam ruangan setelah pintu dibuka oleh salah satu dari mereka. Jangan ditanya lagi bagaimana tingkah laku mereka saat ini. Mungkin, kalau client Lino melihatnya,
__ADS_1
mereka akan memikirkan ulang untuk melakukan kerja sama karena kelakuan konyol mereka.
“Kalian berisik banget sih. Astaga!!!!” kata Lino dengan senyum yang sangat mengembang di bibirnya dan beranjak dari kursi kebesarannya.
Itulah Lino. Lino yang sehari-hari dikenal cukup tegas dan jarang tersenyum, akan berubah jika sudah bersama dengan ketiga sahabatnya. Dia bisa berbicara, bahkan tertawa dengan sangat lepas. Yah, mau bagaimana kerasnya seseorang, dia akan selalu memiliki tempat untuk menjadi dirinya sendiri.
Setelah sedikit saling menghina, meledek, dan bercanda, akhirnya keempat pria ini pun memilih untuk duduk di lantai dan meletakkan semua cemilan dan minuman yang tadi telah dibawa dari ruang makan. Dan disinilah mereka melanjutkan pembicaraan dengan candaan. Hingga di tengah-tengah pembicaraan, akhirnya Felix pun mengeluarkan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal hatinya.
“No, gue penasaran, kenapa Luna yang dulunya asisten gue, sekarang bisa ada di rumah lu. Gue cuma tahu kalau dia dipindah tugaskan. Emang dia dipindah tugas kemana?” tanya Felix dengan penasaran yang tinggi.
“Kenapa? Elu butuh asisten buat gantiin gadis itu?” tanya Lino dengan santai karena memang dia tidak mengetahui perasaan yang dipendam oleh Felix kepada Yuna selama ini.
“Bukan, No. Seperti yang elu liat, kerjaan gue fine. Ada atau tidak adanya Luna, tidak berpengaruh pada pekerjaan gue.” jawab Felix.
“Lantas?” tanya Lino kembali.
Menurut Lino, jika memang Felix membutuhkan asisten kembali, dia bisa meminta Cleon untuk membuka lowongan pekerjaan dan mencari orang untuk mengisi posisi tersebut. Namun, jika memang tidak membutuhkan, maka Lino juga akan membiarkan semuanya seperti saat ini.
__ADS_1
Kala itu, PT LINO mencari seorang asisten manager keuangan dikarenakan permintaan Felix yang merasa pekerjaannya sangatlah banyak hingga mengahruskan dirinya lembur terus menerus. Namun, sejak kedatangan Luna, pekerjaannya menjadi lebih ringan. Luna pun meminta kepada semua tim keuangan untuk bekerja sama dengan lebih baik ketika membuat laporan keuangan. Jadi bisa dipastikan, untuk saat ini pekerjaan Felix tidaklah seperti dahulu.
Kenapa Felix tidak melakukannya sejak dahulu? Salah satunya adalah karena Felix yang memang sulit untuk mengajarkan ilmu yang dimiliki kepada orang lain. Sedangkan Luna, dia dengan mudah membimbing orang
lain untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan yang diinginkannya.
“Elu penasaran banget sama Luna, Lix?” tanya Roland yang sejak tadi diam tetapi mendengarkan pertanyaan Felix.
“Apa jangan-jangan elu tertarik dengan mantan bawahan elu?” tanya Cleon menebak-nebak sikap penasaran Felix yang sudah ditunjukkannya sejak dari ruang makan.
“Bu.. Bukan begitu. Ah, kalian salah sangka.” ucap Felix terbata-bata.
“Dia asisten pribadi gue. Jadi jam kerja dia mengikuti kebutuhan gue.” ucap Lino kemudian menuntaskan keingin tahuan Felix belakangan ini.
*****************
-Bersambung-
__ADS_1