Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 24 – Makan Siang


__ADS_3

“Dia asisten pribadi gue. Jadi jam kerja dia mengikuti kebutuhan gue.” ucap Lino kemudian menuntaskan keingin tahuan Felix belakangan ini.


“Hah?” ucap Felix


Sejujurnya Felix tidak menyangka bahwa Luna akan menjadi asisten pribadi dari Lino. Seperti kebanyakan orang lainnya, yang Felix ketahui pun Lino bukan orang yang mau dekat dengan wanita. Jadi bagaimana bisa Luna menjadi asisten pribadinya? Dan bukankah sudah ada Roland yang menjabat sebagai asistent nya?


“Kenapa? Ada yang salah?” tanya Lino kemudian karena melihat keterkejutan yang ditampilkan oleh Felix.


“Semua tidak akan menyang kalau seorang Lino mau bekerja bersama orang wanita, No.” ungkap Roland menjawab keterkejutan yang terlihat jelas di wajah Felix. Dan pastinya untuk Roland dan Cleon, menebak


keterkejutan sahabatnya itu pun sangatlah mudah.


Mendapatkan bantuan Roland untuk menjawab pertanyaan Lino, Felix pun hanya menganggukan kepalanya tanda menyetujui pernyataan dari Roland.


“Kenapa aneh? Gue memiliki bawahan wanita juga, bukan?” jawab Lino kembali dengan memasang muka yang cukup bingung.

__ADS_1


Menurut Lino tidak ada yang aneh untuk bekerja bersama dengan Luna. Selain itu, di perusahaannya juga memiliki banyak karyawati. Jadi tidak mungkin anggapan bahwa dirinya enggan bekerja bersama dengan wanita adalah benar adanya.


Ketiga sahabat Lino pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Menyadari kebiasaan Lino yang tidak pernah mau kalah ketika berdebat, tentunya membuat mereka malas untuk mengeluarkan suara kembali dan memilih untuk diam.


Tidak berapa lama kemudian, tepatnya pada pukul 11.45, pintu ruang kerja Lino pun diketuk oleh seseorang.


Tok..tok..tok..


“Permisi, Tuan. Makan siang Anda sudah siap.” ucap salah satu asisten rumah tangga yang diminta Luna untuk memberitahukan kepada Lino dan ketiga sahabatnya bahwa makan siang mereka telah selesai disiapkan.


Lino dan ketiga sahabatnya pun bergegas meninggalkan ruangan tersebut dan menuju ke ruang makan. Benar saja, disana telah tersaji banyak sekali hidangan yang dimasak sendiri oleh Luna seperti permintaan dari Lino.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, keempat pria ini pun segera mengambil tempat duduk masing-masing di meja tersebut. Mengambil nasi beserta lauk yang telah disipakan oleh Luna dan memakannya dengan lahap.


Namun, di tengah-tengah acara makannya, tiba-tiba Lino pun menyadari bahwa Luna belum juga berada di meja tersebut.

__ADS_1


“Kemana Luna? Tadi saya sudah meminta kalian untuk memanggilkannya.” tanya Lino kepada salah satu asisten rumah tangga yang berada paling dekat dengan dirinya saat ini.


“Maaf, Tuan. Nona Luna berada di belakang. Tadi kami pun telah memanggilnya.” ucap asisten tersebut dengan sedikit ketakutan karena tidak dapaty menjalankan perintah tuannya dengan benar.


“Sudahlah, No. Makanlah dahulu.” ucap Cleon yang masih memperhatikan Lino yang sedang gelisah hanya karena tidak mendapati seorang gadis di meja makannya.


Akhirnya, demi agar tidak menimbulkan kecurigaan pada ketiga sahabatnya, Lino pun melanjutkan makannya tanpa mengeluarkan suara lagi. Dia memilih untuk menikmati setiap lauk yang telah disiapkan oleh Luna.


Lino sendiri masih heran dengan sikap Luna. Entah kenapa, rasanya wanita itu selalu enggan untuk makan satu meja dengan dirinya. Selalu ada saja alasan yang dikemukakan oleh Luna untuk menghindari perintah dari Lino agar dirinya duduk dan makan bersama di meja tersebut.


Hal itu tentunya menyulitkan Lino untuk mendekati wanita yang kini telah menjadi asisten pribadinya tersebut. Memang perasaan Lino juga belum pasti, apakah cinta atau hanya rasa penasaran saja. Jadi menurut Lino, satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan dekat dengannya.


Jadi, bagaimanakah sebenarnya perasaan Lino? Dan kenapa Luna selalu menghindari permintaan Lino untuk makan bersama dengannya.


**************

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2