Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 120 – Mengatur Tanggal


__ADS_3

Selesai permasalahan panggilan yang cukup membuat orang bingung, kini Lino pun membawa Luna ke rumah utamanya. Selain ia ingin berterima kasih kepada Bunda, Lino juga ingin membicarakan tentang tanggal pertunangan mereka.


Namun, sebelum sampai ke rumah utama, Lino pun mengajak Luna untuk makan malam terlebih dahulu. Mengingat waktu telah menunjukkan jam untuk mengisi perut. Dan perut Lino yang tidak terbiasa


terlambat makan pun telah berbunyi.


Lino pun membelokkan mobilnya ke rumah makan terdekat yang dilalui oleh mobilnya. Dan karena restaurant yang ditujunya adalah salah satu tempat makan cepat saji, maka ia dan Luna pun tidak membutuhkan waktu lama untuk menyantap hidangan.


Setelah selesai dengan urusan perut, mereka pun kembali melaju untuk segera mencapai rumah utama. Bukan karena tanpa alasan mereka ingin sampai disana. Selain karena telah lelah bekerja, waktu juga semakin malam sehingga mereka hanya memiliki sedikit waktu lagi untuk berbincang besama.


Suasana di mobil Lino kali ini pun cukup hangat. Dipenuhi dengan canda dan tawa, Luna dan Lino pun saling melempar candaan. Tidak ada kekakuan dan ketegangan seperti sebelum-sebelumnya.


Dan tanpa terasa, mobil pun memasuki pekarangan rumah utama.

__ADS_1


“Kalian datang?” tanya Bunda Nadia yang melihat kedatangan anak dan calon menantunya dari ruang keluarga.


“Iya dong, Bunda. Kan Lino kangen sama Bunda.” ucap Lino sambil memeluk Bunda Nadia dengan sangat erat seakan tidak ingin melepaskan wanita paruh baya itu.


“Gombal. Bilang aja kamu bahagia kan? Jadi kapan kalian akan melangsungkan pertunangan? Bunda ingin membuat acara yang sangat meriah agar seluruh rekan kerjamu tahu bahwa kalian telah bertunangan.”  kata Bunda Nadia dengan semangat sambil melepaskan pelukan Lino yang sangat kencang di badannya.


“Boleh kami menyerahkan kepada Bunda?” tanya Luna malu-malu karena ia tahu bahwa kesibukannya dengan Lino pasti akan membuat harapan Bunda Nadia terbengkalai. Oleh karena itu, gadis ini memilih untuk


menyerahkan semuanya kepada wanita paruh baya itu. Luna sangat percaya dengan selera Bunda Nadia yang terlihat sangat elegant dan mewah, meskipun tanpa harga yang tinggi.


“Adakan di salah satu hotel kita saja, Bunda. Luna besok akan menghubungi manager disana. Kita adakan di hari Sabtu saja agar kita dan para tamu masih memiliki waktu istirahat di Hari Minggu, sebelum memulai pekerjaan lagi di Hari Seninnya.” ungkap Lino memberikan pendapatnya.


Luna dan Bunda Nadia pun menyetujui usul Lino.

__ADS_1


“Bagaimana dengan temanya? Apakah kalian punya tema yang akan digunakan?” tanya Bunda Nadia.


“Untuk tema, biar Luna yang mengaturnya, Bunda. Lino tahu pasti wanita memiliki harapan tersendiri untuk sebuah pesta.” ucap Lino sambil memandang Luna dengan tatapan penuh cinta.


Luna yang mendapatkan tatapan dari Bunda Nadia dan Lino pun hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia sebenarnya malu jika pesta impiannya harus diwujudkan oleh orang lain tanpa ada andil dari gadis itu sendiri.


“Katakan saja, Luna. Kami akan mencoba mewujudkan semua keinginanmu.” kata Bunda Nadia yang memahami keengganan Luna.


“Sebenarnya Luna sangat suka dengan winter, Bunda. Jadi jika bisa, Luna ingin pesta dengan tema winter dimana warna putih menjadi dominasi warnanya. Menurut Luna, putih itu melambangkan kesucian.” ucap Luna


memberitahukan keinginannya yang cukup sederhana menurut Lino dan Bunda Nadia.


“Baik. Kita akan mewujudkannya.” kata Bunda Nadia dengan senyum mengembang.

__ADS_1


**************


-Bersambung-


__ADS_2