
“Jujurlah sama Bunda, Lun. Kamu tahu kalau Bunda sangat menyayangimu seperti anak Bunda sendiri. Dan Bunda sudah tahu semua tentang kamu dan Lino. Termasuk surat perjanjian kalian. Tapi kemarin, ketika Lino mengatakan ingin menikah denganmu, Bunda tahu bahwa itu dari hatinya.” ucap Bunda Nadia kembali seakan meyakinkan Luna untuk menceritakan semua masalah kepadanya.
Dan Luna pun melihat keseriusan di wajah wanita paruh baya tersebut. Hingga akhirnya Luna pun memutuskan untuk berkata sejujurnya.
“Luna minta maaf, Bunda.” ucap Luna setelah terdiam cukup lama dari sejak terakhir Bunda Nadia mengeluarkan suaranya dan meminta Luna untuk bercerita padanya. Memang meskipun telah memutuskan untuk bercerita,
tetapi mengeluarkan kenangan pahit itu sangat sulit. Terlebih bagi Luna yang cukup tertutup.
Bunda Nadia pun hanya tersenyum untuk menanggapi permintaan maaf Luna. Ia tahu bahwa Luna tidak bersalah. Ia hanya terlibat dalam permainan konyol anaknya yang ingin dekat dengan gadis itu. Oleh karena itu, tidak ada setitikpun Bunda Nadia mempersalahkan Luna.
“Luna juga minta maaf kaerna hati Luna tidak yakin untuk melangkah ke hubungan selanjutnya. Sebelumnya kami hanya berpura-pura.Namun dalam pernikahan tidak ada pura-pura.” kata Luna kembali. Ia tidak tahu harus mulai dari mana untuk mengatakannya kepada Bunda Nadia.
“Kalau boleh Bunda tahu, apa yang membuatmu tidak yakin, Lun? Apakah kamu tidak yakin dengan Lino? Atau maaf, mungkin dengan dirimu sendiri?” tanya Bunda Nadia berhati-hati ketika bertanya kepada Luna. Bunda Nadia hanya ingin Luna menyadari bahwa semua bukanlah masalah yakin atau tidak, tetapi hanya masalah ketakutan yang ada dalam dirinya.
__ADS_1
Luna pun membelalakan matanya. Ia tidak menyangka bahwa Bunda Nadia akan mengatakan hal itu kepadanya. Namun dalam hati, sebenarnya ia pun membenarkan kata-kata Bunda Nadia. Mungkin memang bisa
dikatakan bahwa Luna tidak yakin dengan dirinya sendiri.
“Mungkin benar kalau Luna tidak yakin dengan diri Luna sendiri. Tapi Luna juga punya ketakutan\, Bunda. Keluarga Luna tidak seharmonis kelihatannya. Bahkan hancur berantakan. Bahkan Luna hampir di******* oleh kakak Luna sendiri.” kata Luna mencurahkan kehancuran hatinya kepada Bunda Nadia yang saat ini memang sangat ia percaya.
Bunda Nadia yang telah mengetahui tentang masa lalu dan seluk beluk keluarga Luna pun hanya terdiam. Ia tahu bahwa itu sangat menyakitkan bagi seorang gadis. Ayah dan Ibunya yang memperlakukan dia layaknya
tambang uang. Serta kakak yang tidak kalah ***** nya karena hampir melecehkan dirinya.
Luna merasa sangat tidak berharga.” cerita Luna kembali sambil mengenang masa-masa lalunya dimana dia banyak dimanfaatkan oleh teman-temannya. Dan begitu dia memberontak, menolak semua yang diperintahkan kepadanya, maka teman-temannya, laki-laki dan perempuan tidak segan-segan untuk melecehkannya.
Memang kala itu bukan pelecehan yang bisa merengut kehormatannya. Namun dengan ************ nya saja\, itu sudah termasuk sebuah pelecehan\, bukan? Atau bahkan kata-kata kotor dan menjijikan yang keluar dari
__ADS_1
mulut orang lain, itu juga sudah bisa masuk dalam pelecehan, bukan?
“Setelah Luna keluar dari rumah\, Luna pikir Luna akan mendapatkan sebuah kebahagiaan\, kebebasan yang sangat besar. Namun ternyata takdir buruk kembali kepada Luna. Mantan atasan Luna sendiri dan sahabat Lino ternyata berhasil ********** Luna. Bahkan dalam keadaan Luna tidak sadarkan diri.” kembali Luna mengeluarkan suaranya. Kali ini dengan tetesan air dari kedua mata cantiknya kala ia mengenang masa-masa saat Felix memaksanya
untuk menikah di luar negeri.
Bunda Nadia yang masih terdiam pun seakan sangat merasakan kesedihan di hati Luna. Merasakan bagaimana pedihnya menjadi seorang Luna Intan Permana. Namun bukankah masa lalu tidak dapat diubah? Tetapi
tentunya kita tetap bisa memperbaiki masa depan, bukan?
“Dimana salah Luna, Bun? Luna tidak minta terlahir di dunia ini. Tapi kenapa Luna tidak bisa merasakan bahagia sejak Luna kecil?” tanya Luna dengan air mata yang berlinang. Ya, akhirnya tangis Luna pun pecah saat itu. Ia tidak bisa lagi menetupi sakit hatinya dengan kekerasan yang selama ini ditunjukkannya.
Bunda Nadia yang melihat tangis Luna pun berpindah tempat duduk. Kini ia duduk di samping gadis yang sangat rapuh itu. Memeluknya dengan kasih sayang. Berharap bisa meringankan sedikit penderitaan yang dialami oleh Luna. Melegakan perasaannya yang penuh dengan tekanan. Karena mau bagaimana pun juga, Luna tetaplah seorang gadis yang akan mengutamakan perasaan daripada logika.
__ADS_1
************
-Bersambung-