
Rumah Bunda Nadia – pukul 18.45
Tok..tok..tok..
“Silahkan masuk. Tuan, Nyonya, dan Nona.” ucap asisten rumah tangga yang membukakan pintu rumah.
“Terima kasih” ucap Yoris Kusuma
Ya, tamu yang datang adalah orang yang telah dinantikan oleh Bunda Nadia. Keluarga dari Yoris Kusuma atau keluarga dari Retha, teman wanita Lino.
“Wah, kalian sudah datang. Silahkan duduk terlebih dahulu. Sebentar lagi Lino juga akan turun.” ucap Bunda Nadia yang turun menyambut kedatangan keluarga yang telah dinantikannya itu.
Untuk malam ini, Bunda Nadia memang telah benar-benar mempersiapkan diri. Ia bahkan menggunakan pakaian yang cukup elegan dan make up natural yang menonjolkan kecantikan alaminya.
“Makasih lho, Jeung sudah ngundang kita makan malam.” ucap Cerelia, ibunda dari Retha.
“Saya yang makasih, Jeung karena kalian mau meluangkan waktu untuk datang kesini. Kehormatan banget lho, apalagi kalian kan orang yang sangat sibuk.” ucap Bunda Nadia berbasa basi.
Ya, mungkin inilah kehidupan dari orang-orang kaya. Terlalu banyak berbasa basi di depan namun entah bagaimana di belakangnya. Bisa jadi mereka saling menusuk satu sama lainnya. Tidak akan ada yang tahu.
Tak berapa lama, Lino pun turun dan langsung menuju ruang tamu di rumahnya. Lino bisa langsung menuju ke ruangan tersebut karena memang telah diberitahu oleh salah seorang asisten rumah tangga atas perintah dari Bunda Nadia.
“Selamat malam, Om dan Tante.” ucap Lino memberikan salam kepada Yoris Kusuma dan Cerelia.
__ADS_1
“Selamat malam, Lino. Sudah lama kamu gak main ke rumah kami.” ucap Cerelia membalas sapaan Lino.
Sewaktu kecil Lino memang sering bermain di rumah Retha. Selain karena rumah mereka yang sangat dekat, Retha juga anak yang pintar dan ramah. Jadi Lino cukup senang bermain di rumah Retha. Di rumah itu, Lino juga sering belajar bersama dan mengerjakan tugas-tugas yang ada.
Namun, ketika beranjak dewasa, kebiasaan itu pun semakin terlupakan. Terlebih ketika keluarga Retha memutuskan untuk pindah rumah ke tempat yang lebih dekat dengan perusahaan Yoris.
Beruntungnya, suatu ketika Bunda Nadia bertemu dengan Cerelia di sebuah acara sosial. Dari situlah ide Bunda Nadia untuk menjodohkan Lino dengan Retha muncul. Ide dari Bunda Nadia pun langsung disetujui oleh Cerelia. Ya, siapa yang tidak ingin memiliki menantu seperti Lino? Sudah kaya raya yang gak akan habis selama tujuh keturunan, tampan, pintar, dan yang jelas tidak pernah main wanita. Memang benar-benar calon menantu idaman, bukan?
Sejak saat itulah Lino dan Retha mulai di dekatkan kembali oleh Bunda Nadia. Dengan harapan, semuanya akan berjalan lancer dan mereka berdua bisa menjadi sepasang suami istri.
Oke, sekarang kita kembali ke ruang tamu di kediaman Bunda Nadia, dimana kedua keluarga telah berkumpul untuk menunggu hidangan makan malam disediakan. Sambil menunggu, kelima orang ini pun membicarakan
Dan tepat pukul 19.00, Minah, salah satu asisten kepercayaan Bunda Nadia pun keluar untuk memberitahukan bahwa hidangan telah selesai disiapkan dan kelima orang yang ada disana sudah bisa menikmati makan
malamnya.
“Maaf, permisi, Bu, Den, makan sudah siap semua.” ucap Minah setelah membungkukkan badannya seraya memberi hormat kepada majikan dan tamu-tamu yang ada disana.
Bunda Nadia pun menganggukan kepalanya sebagai jawaban dari perkataan Minah. Dan kemudian, ia pun mengajak ketiga tamunya untuk berlalu dari ruang tamu tersebut dan menuju ruang makan.
“Yuk, Mas Yoris, Jeung Cere, Retha, kita ke dalam. Kita makan dulu. Tapi maaf ya, hidangannya cuma seadanya saja. Maklum, sudah mulai tua, badan rasanya gak bisa diajak bekerja sama seperti dahulu.” ucap Bunda Nadia berbasa basi dan mempersilahkan ketiga tamunya untuk masuk.
__ADS_1
Bunda Nadia pun jalan bersamaan dengan Cerelia. Mereka seakan seperti sahabat lama yang sudah sangat lama tidak berjumpa. Rasanya banyak sekali cerita yang ingin dikatakan. Jadi tidak heran jika selama berjalan dari ruang tamu hingga ruang makan, kedua wanita ini masih saja berbicara.
Berbeda halnya dengan Retha. Ketika dilihatnya Lino belum beranjak dari tempatnya, gadis ini pun berinisiatif untuk mendekati laki-laki yang digadang-gadang akan menjadi suaminya itu.
“Hai, No.” sapa Retha kepada Lino yang masih berada di tempatnya.
“Hmm” jawab Lino.
Jika boleh jujur, sebenarnya Lino malas dengan kedatangan keluarga Retha. Terlebih untuk makan bersama. Karena Lino tahu, pasti akan ada permintaan ‘aneh’ dari Bundanya. Dan Lino pun sudah membayangkan apa yang akan dikatakan oleh Bunda Nadia nantinya.
Lino seakan menyambut kedatangan ketiga tamunya tadi dengan ramah, seakan-akan hanya untuk memberi muka kepada Bunda Nadia itu sendiri. Jadi jika sudah berhadapan berdua dengan Retha seperti saat ini, Lino akan kembali pada sifatnya yang cuek dan dingin.
“Kita masuk yuk. Sepertinya orang tua kita sudah menanti kita.” ucap Retha masih berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi sedikit menegangkan diantara mereka berdua.
Tanpa banyak berkata lagi, Lino pun segera berlalu dari tempatnya berdiam diri sejak tadi. Ia pun langsung menuju ruang makan tanpa menunggu Retha berjalan di sebelahnya.
Dan benar seperti perkataan Retha, bahwa ketiga orang tua itu sudah menunggu kedatangan anak-anak mereka. Tentunya dengan senyum bahagia karena apa yang mereka bayangkan, tidak seperti kenyataannya.
Setelah semuanya lengkap di meja makan, makan malam pun dimulai. Tentunya dengan senda tawa dan obrolan-obrolan ringan diantara Bunda Nadia, Retha Cerelia, dan Yoris. Tidak dengan Lino karena laki-laki itu memilih menikmati makannya dalam diam.
*************
-Bersambung-
__ADS_1