
“Pak Felix, tunggu!” kata Luna yang masih berusaha menyesuaikan langkahnya dengan langkah Felix.
Felix pun menghentikan langkahnya. Dan Luna pun akhirnya bisa mengatur nafasnya kembali.
“Sorry, Lun. Gak sadar kalau jalanku terlalu cepat.” ucap Felix ketika melihat keadaan Luna yang terlihat sangat lelah seolah-olah baru saja berlari entah darimana.
“It’s oke, Pak. Tapi tidak untuk lain kali.” ucap Luna setelah bisa mengatur nafasnya dengan baik.
Felix pun menyunggingkan senyumnya dalam diam. Hatinya sangat bahagia malam ini. Bukan saja bisa pulang bersama dengan pujaan hatinya, tetapi dia juga bisa menggenggam tangan gadis itu. Dan lebih lagi, gadis itu bisa memaafkan kesalahan yang memang tidak disengajanya.
Felix hanya terlalu gugup Sehingga tanpa sadar melangkah terlalu cepat dan dengan langkah yang terlalu lebar, tanpa memperhatikan apakah gadis pujaannya itu bisa mengimbangi cara jalannya atau tidak.
Dan dengan penampilan Luna yang menggunakan sepatu heels dan rok span jeans selutut, serta kemeja, tidak heran jika gadis itu sangat kesulitan mengejar langkah atasannya. Dalam keadaan biasa pun, langkah seorang laki-laki dan wanita sudah jelas berbeda. Terlebih dalam keadaan-keadaan tertentu yang membuat seorang wanita lebih sulit dalam melangkah.
Setelah meminta maaf, Felix pun kembali menggenggam tangan Luna untuk membawanya menuju mobil yang telah terparkir di lobby gedung tersebut. Ya, memang selain Lino, ketiga orang kepercayaannya juga mendapatkan
__ADS_1
parkir istimewa yang langsung berada di seberang lobby gedung. Jadi mereka tidak perlu banyak membuang waktu menuju parkiran lain seperti karyawan-karyawan biasa.
Felix pun membukakan pintu mobilnya agar Luna dapat langsung memasuki mobil tersebut. Dan setelah mengucapkan terima kasih, Luna pun segera duduk dengan baik. Felix pun memutari mobilnya dan bersiap untuk
menjalankan mobil tersebut mengantarkan sang pujaan hati.
“Bapak tau alamat saya?” tanya Luna ketika merasa mengenal jalan yang hampir setiap hari dilaluinya itu.
Luna pun sedikit merasa heran. Pasalnya, Luna belum pernah mengatakan tempat tinggalnya kepada siapapun di kantor itu. Bahkan sejak tadi memasuki mobil ini, Felix tidak tampak menanyakan alamat tujuan Luna. Lalu
“Panggil saya Felix saja, Lun.” kata Felix tanpa menjawab pertanyaan Luna.
“Maaf, Pak. Kurang pantas karena Anda atasan saya.” ucap Luna menjawab perkataan Felix.
Bukan Luna tidak ingin memanggil atasannya ini dengan nama saja. Namun Luna tahu maksud dibalik berubahnya sebuah panggilan. Dan Luna sedang tidak ingin menjalin hubungan khusus dengan seseorang, bahkan mungkin tidak juga untuk dekat dengan seorang pria.
__ADS_1
“Kamu bisa memanggilku dengan kak ataupun mas atau apapun yang membuatmu nyaman, Lun. Tapi selain Bapak. Ayolah, Lun. Saya belum setua itu kan untuk menjadi bapak kamu?” kata Felix masih membujuk Luna untuk
mengganti panggilan terhadap dirinya agar mereka bisa menjadi lebih dekat satu sama lainnya.
Luna pun terdiam. Dia tidak tau lagi bagaimana harus menanggapi permintaan dari Felix. Untuk mengiyakan, Luna akan merasa sangat tidak nyaman. Tetapi jika menolak, Luna tahu bahwa Felix akan terus memaksanya hingga keinginannya tercapai. Oleh karena itu, mungkin diam adalah pilihan terbaik agar tidak terus di desak.
Dan tanpa terasa, perjalanan pun telah berakhir dalam diam. Semenjak Luna tidak menanggapi permintaannya, Felix pun tidak membuka suaranya sama sekali. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu.
“Sudah sampai, Lun.” kata Felix akhirnya membuka suara setelah berada di depan rumah yang cukup megah.
“Terima kasih, Pak Felix.” ucap Luna dan segera keluar dari mobil tersebut.
Sungguh, walaupun hanya perjalanan yang cukup singkat karena waktu telah menunjukkan tengah malam dan jalanan juga cukup lenggang, namun perjalanan tersebut sangat tidak nyaman bagi Luna. Dan jika suru mengulanginya, Luna akan berpikir dua kali atau lebih.
****************
__ADS_1
-Bersambung-