
Setelah berpamitan dengan Bunda Nadia, Lino pun mengantarkan Luna untuk kembali kekediamannya. Lino tidak mungkin membiarkan Luna pulang sendiri malam itu. Bukan karena apa, tetapi pastinya akan menimbulkan kecurigaan dari Bunda Nadia jika Lino membiarkan Luna pulang seorang diri. Selain itu, Luna adalah seorang gadis yang tentunya akan berbahaya jika dia seorang diri malam-malam begini.
Oleh karena itu, Lino memilih untuk mengantarkan Luna dan menjamin keselamatan gadis yang diam-diam telah berhasil mencuri hati dan perhatiannya.
“Terima kasih untuk tadi. Dan maaf atas pertanyaan Bunda yang mungkin menyulitkanmu.” ucap Lino membuka perkataan setelah mereka terdiam cukup lama di dalam mobil.
“Tidak masalah. Kita sudah sepakat.” jawab Luna singkat tanpa mengalihkan perhatiannya dari pemandangan jalanan.
Ya, sedari keluar dari pekarangan rumah Bunda Nadia, Luna selalu melihat pemandangan jalanan melalui kaca jendela yang ada di sebelahnya. Dan ketika Lino memulai pembicaraan, Luna pun masih tetap pada pandangannya tersebut.
Sebenarnya, ada sebersit perasaan iri di hati Luna meilihat kedekatan antara Lino dengan Bunda Nadia. Luna yang sedari kecil tidak pernah merasakan kehangatan seorang ibu, harus dihadapkan dengan hubungan yang sangat erat antara ibu dan anak di hadapannya tadi. Jika boleh, Luna juga ingin diperlakukan seperti Lino. Namun, mengingat tentang ibu kandungnya sendiri, malah membangkitkan lagi kenangan buruk, trauma, dan sedikit dendam di hati Luna.
“Apa kamu bisa memenuhi keinginan Bunda untuk sering berkunjung ke rumah?” tanya Lino kemudian membuyarkan lamunan Luna.
“Entahlah saya tak yakin.” jawab Luna sambil mengangkat bahunya sejenak.
__ADS_1
Luna paham situasinya akan menyulitkan dirinya saat ini. Bukannya Luna tidak menghargai permintaan Bunda Nadia. Tetapi, menilik hubungannya dengan Lino saat ini, Luna juga tidak ingin Bunda Nadia memiliki ekspektasi lebih. Ia takut Bunda Nadia terlanjur berharap banyak tetapi Luna tidak bisa merealisasikannya.
“Kenapa tidak mencobanya?” tanya Lino kembali.
Jika ditanya, tentu saja Lino sangat ingin Luna bisa mengikuti keinginan Bunda Nadia. Menurut Lino, dengan Luna sering bersama Bunda Nadia, bisa saja hubungan ini akan beralih menjadi sesuatu yang lebih serius. Siapa tahu, bukan?
“Maaf, tapi saya tidak ingin melukai perasaan Bunda terlalu jauh. Terlebih jika beliau mengetahui bahwa hubungan ini hanya pura-pura dihadapannya.” ucap Luna menyampaikan kenyataan.
Mendapati perkataan Luna, Lino pun tersadar. Rasanya beberapa saat lalu, Lino berada di dalam mimpi dimana dirinya bisa memiliki Luna. Namun ternyata, semuanya hanya mimpi dan angan-angannya sendiri. Karena Luna sendiri telah kembali menjaga jarak sejak keluar dari pekarangan rumah Bunda Nadia.
Luna tidak menyangka bahwa Lino akan menyampaikan kata-kata yang sangat tidak masuk akal. Untuk menyetujui kerja sama ini saja membuat Luna cukup sulit tidur. Luna takut apa yang pernah dilakukan oleh kakaknya terulang kembali apabila dia menyetujui kerja sama dengan Lino. Karena dengan adanya kerja sama ini, bisa dipastikan Luna harus menjalin sebuah kedetakan dengan atasannya itu meskipun beberapa saat.
Dan tiba-tiba saja tubuh Luna menjadi bergetar. Dia tahu saat ini, mungkin traumanya sedang muncul kepermukaan sehingga memmbuat tubuh Luna mengeluarkan reaksi berlebih. Dan jika sudah seperti ini, Luna harus mulai menenangkan dirinya. Tentunya Luna tidak ingin menunjukkan kelemahannya ini kepada orang lain. Hanya dirinya dan Vina yang mengetahui tentang trauma dalam dirinya.
Beberapa saat kemudian, setelah Luna berhasil menenangkan dirinya. Luna pun bisa menjawab pertanyaan Lino yang menurutnya sangat absurd.
__ADS_1
“Maaf, Pak Lino. Tapi rasanya saya tidak berminat dengan pertanyaan Anda.” ucap Luna dengan tegas dan lugas.
Lino pun tampak shock dengan penolakan yang dilakukan oleh Luna. Namun, Lino tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat ini. Lino hanya bisa berjuang kedepannya untuk mendapatkan hati seorang Luna.
Dan akhirnya, Luna pun tiba di rumah Vina dalam keterdiaman bersama dengan atasannya. Setelah mengucapkan terima kasih, Luna pun segera memasuki pekarangan rumah tersebut tanpa menoleh kebelakang lagi.
**************
Hai, semua..
Terima kasih buat kalian yang sudi mampir ke novel Mith yang satu ini.
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian disini ya.
**************
__ADS_1
-Bersambung-