Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 114 – Berbicara Dengan Bunda Nadia


__ADS_3

Hari telah berganti. Kini hari Senin telah datang. Hari dimana rasanya semua pekerjaan telah menanti untuk diselesaikan. Hari dimana semua orang harus beraktivitas mulai dari pagi hingga petang nanti.


Dan hari ini, Luna mengajukan cutinya karena semalam Bunda Nadia menghubunginya dan meminta dirinya untuk menemani wanita paruh baya itu berjalan-jalan, serta membicarakan tentang pernikahannya.


Ya, Bunda Nadia bergerak cepat untuk menyelesaikan masalah yang entah kenapa terkesan rumit antara anaknya dan calon menantunya itu.


Luna pun berjanji akan tiba di rumah Bunda Nadia pukul 10.00 nanti. Lalu mereka berdua akan pergi bersenang-senang selama sehari ini. Entah kemana mereka akan pergi karena yang merencanakan jadwal hari ini adalah Bunda Nadia. Luna hanya akan mengikuti kemana pun wanita paruh baya itu melangkah.


Dan disinilah Luna sekarang. Di rumah besar milik Bunda Nadia, calon mertuanya, jika memang dia jadi menikah dengan anak semata wayang dari wanita paruh baya itu.


Asisten rumah tangga yang kebelutan mendengarkan ketukan pintu dari Luna pun segera membukakan pintu tersebut dan mempersilahkan masuk. Ia pun membawa gadis muda dihadapannya itu ke ruang keluarga sesuai


pesan dari Bunda Nadia tadi.


“Mbak Luna tunggu disini sebentar ya. Bunda sedang bersiap. Saya akan memberitahukan kepada Bunda kalau Mbak Luna telah tiba.” ucap asisten rumah tangga itu mempersilahkan Luna duduk dan meminta undur diri untuk

__ADS_1


memanggil majikannya.


Luna pun menganggukan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih dengan senyum yang mengembang dari bibirnya. Hal ini jugalah yang disukainya di rumah ini. Asisten rumah tangga yang cukup ramah kepada siapa


saja.


Tidak perlu menunggu waktu lama, Bunda Nadia pun keluar dari kamarnya. Luna dan Bunda Nadia pun memutuskan untuk segera pergi dari rumah besar itu agar nantinya mereka tidak pulang terlalu malam. Tentunya


karena angin malam tidak baik bagi wanita dengan usia telah lanjut, seperti Bunda Nadia.


Tempat pertama yang mereka kunjungi kali ini adalah sebuah café dengan suasana pantai yang sangat indah. Pantai dengan pasir putih yang bersih dan suara debur ombak yang menenangkan. Dengan konsep layaknya


Luna dan Bunda Nadia pun memesan beberapa hidangan dan tentunya air kelapa segar untuk membuka kebersamaan mereka hari ini.


“Jadi apakah kau tidak ingin memilih gaunmu sendiri, Lun? Bunda tidak tahu gaun seperti apa yang menjadi impianmu.” ucap Bunda Nadia membuka pembicaraannya to the point.

__ADS_1


Selama ini memang Bunda Nadia telah mempersiapkan pernikahan antara Lino dan Luna. Bahkan Bunda juga telah menghubungi pihak wedding organizer agar membantunya mempersiapkan semuanya dan membuat acara itu


menjadi mewah namun berkesan.


Luna yang kala itu sedang menikmati suasana pantai pun sedikit tersentak. Ia tahu betul bahwa Bunda Nadia akan membicarakan pernikahannya itu. Dan kegundahannya pun kembali muncul. Ingin rasanya ia mengatakan yang sebenarnya, tetapi ia juga tidak ingin menyakiti hati wanita paruh baya yang ada di hadapannya itu.


Melihat keengganan di wajah calon menantunya, Bunda Nadia pun tahu bahwa apa yang diucapkan Lino adalah benar adanya. Dan Bunda Nadia yakin anaknya tidak akan berani memaksakan kehendaknya kepada siapapun.


“Kenapa? Kamu masih tidak yakin dengan anak Bunda?” tanya Bunda Nadia sambil memegang tangan Luna yang berada di atas meja. “Atau kamu memiliki laki-laki lain yang telah mengisi hatimu melebihi Lino?”


Luna pun kembali kehabisan kata-kata mendengar penuturan Bunda Nadia. Lidahnya seakan kelu hingga membuatnya tidak bisa berucap.


“Jujurlah sama Bunda, Lun. Kamu tahu kalau Bunda sangat menyayangimu seperti anak Bunda sendiri. Dan Bunda sudah tahu semua tentang kamu dan Lino. Termasuk surat perjanjian kalian. Tapi kemarin, ketika Lino mengatakan ingin menikah denganmu, Bunda tahu bahwa itu dari hatinya.” ucap Bunda Nadia kembali seakan meyakinkan Luna untuk menceritakan semua masalah kepadanya.


Dan Luna pun melihat keseriusan di wajah wanita paruh baya tersebut. Hingga akhirnya Luna pun memutuskan untuk berkata sejujurnya.

__ADS_1


***********


-Bersambung-


__ADS_2