
“Cobalah, Lun. Bunda tidak akan memaksamu. Bunda juga tidak akan memohon kepadamu. Semua keputusan ada ditanganmu. Bersama atau tidak, kamu tetap anak perempuan Bunda. Bunda sangat menyayangimu sama seperti
Bunda sayang terhadap Lino.” kata Bunda Nadia kembali. Perkataan yang cukup menusuk untuk di dengar oleh Luna. Karena di perkataan itu, mengandung sebuah harapan tetapi juga memberikannya kebebesan.
Luna pun memeluk Bunda Nadia semakin erat. Rasanya ia tidak ingin melepaskan moment-moment ini. Rasanya juga ia ingin mencurahkan semua kasih sayang dan pengabdiannya kepada wanita paruh baya ini, sebanyak
Bunda Nadia mencurahkan kasih sayang kepadanya, atau bahkan lebih.
Setelah selesai drama percurhatan antara Luna dan Bunda Nadia, mereka pun memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut dan bersenang-senang ke tempat selanjutnya. Bunda Nadia pun mengajak Luna untuk
mendatangi salah satu mall yang cukup besar di kota itu.
Luna dan Bunda Nadia pun berbelanja berbagai macam barang. Mulai dari pakaian, aksesoris, sepatu, dan diakhiri dengan berbelanja bahan makanan untuk dapur rumah masing-masing.
Memang rencananya Bunda Nadia yang akan membayar semua belanjaan Luna karena wanita paruh baya itu telah
diberikan sedikit uang untuk bersenang-senang oleh Lino. Namun, ternyata Luna tidak membiarkan Bunda Nadia melakukan itu. Jadi jika Bunda Nadia membelikan Luna sesuatu, maka gadis itu pun akan membeli suatu hal lainnya untuk wanita patuh baya itu.
Luna memang bukan tipe gadis yang senang memanfaatkan keadaan. Ia lebih tidak suka berhutang budi. Menurutnya, selama dia masih bisa membayar dengan uang yang dia miliki, ngapain harus orang lain yang membayarkan belanjaannya? Dan jika orang tersebut tetap akan membayarkan apa yang dibelinya, maka ia juga wajib membayar belanjaan orang tersebut agar kedepannya tidak ada ‘hutang’.
__ADS_1
Dan hari pun telah semakin gelap. Bunda Nadia dan Luna pun memutuskan untuk bersantap bersama sebelum kembali ke rumah besar wanita paruh baya itu. Kali ini, Bunda Nadia pun memilih restaurant jepang
untuk mengisi perut mereka yang telah berbunyi nyaring.
Ketika menunggu makanan mereka datang, Luna pun akhirnya menyampaikan keputusannya kepada Bunda Nadia. Menurut Luna, karena Bunda Nadia yang sedikit banyak membuatnya membuka mata, jadi tidak ada salahnya jika wanita paruh baya ini jugalah yang mengetahui pertama tentang keputusannya.
“Bun, boleh Luna bicara?” ucap Luna sedikit bingung untuk memulai pembicaraan. Ia takut jika dia dikira labil dan tidak berpegang pada pendiriannya. Karena sedari tadi, bahkan entah dari kapan, Luna selalu terkesan
menolak keputusan Lino.
“Bicara apa, sayang? Bukannya daritadi kita juga sedang berbicara? Lalu sekarang apa yang ingin kamu katakan?” tanya Bunda Nadia sedikit terkejut tetapi sudah bisa menduga tentang apa yang akan dibicarakan oleh gadis yang ada dihadapannya.
dihadapannya.
Bunda Nadia pun mengulas senyum di wajahnya. Ia sudah tahu bahwa sedari tadi Luna memang memikirkan apa yang dikatakannya. Karena meskipun tampak cerita dan bersenang-senang, ada beberapa saat dimana Luna pun tampak sedang berpikir keras.
“Jadi apa keputusanmu? Bunda harap jangan mengecewakan Bunda ya, sayang.” ucap Bunda Nadia masih dengan senyum yang masih setia berada di wajahnya.
“Luna menerima keputusan Lino, Bun.” kata Luna sambil terus menundukkan kepalanya. Rasanya wajah gadis itu kini telah sangat memerah menahan malu. Ia sangat malu karena akhirnya menyetujui keputusan dari laki-laki yang bahkan belum melamarnya. Yah, keputusan Lino tanpa memberitahui kepada Luna, bukan termasuk lamaran kan?
Bunda Nadia pun tersenyum semakin lebar. Rasanya kalau tidak ada meja yang menghalangi dirinya dan Luna, wanita paruh baya itu langsung ingin memeluk calon menantunya itu. Rasa bahagianya seakan sudah tidak
__ADS_1
terbendung lagi. Dan keinginannya pun terkabul.
“Tapi, bolehkah kalau Luna tidak langsung menikah dengan Lino, Bun? Luna ingin mengenal Lino lebih dalam lagi. Maksud Luna mengenal karakter dan pribadi Lino, diluar hubungan atasan dan bawahan. Kami bisa bertunangan terlebih dahulu, mungkin?” ucap Luna dengan sedikit takut. Ia takut Bunda Nadia akan merasakan kekecewaan yang sangat dalam. Bagaimanapun juga, ia telah melambungkan harapan Bunda Nadia entah sampai ke langitu tingkat berapa. Dan kini, ia menghempaskannya jatuh ke dasar bumi.
Namun ternyata yang dipikirkan oleh Luna berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh Bunda Nadia. Jika Luna merasa takut Bunda Nadia kecewa, lain halnya dengan wanita paruh baya itu yang setuju dengan perkataan
Luna. Karena menurutnya, hubungan Luna dan Lino selama ini masih terlalu kaku dan masih harus dicairkan.
“Bunda 100% setuju sama kamu, sayang. Oke, kita akan mengadakan acara pertunangan kalian segera. Dan setelah itu, Bunda akan memberikan pada kalian waktu enam bulan sebelum mempersiapkan pesta pernikahan.
Bagaimana?” tawar Bunda Nadia dengan sangat bijaksana.
“Luna setuju, Bunda.” ucap Luna segera dengan mata berbinar. Ia tidak menyangka bahwa usulnya langsung disetujui. Dan sekejap mata, rasa takutnya pun menghilang.
Mereka pun menikmati makan malam hari ini. Yang tanpa mereka ketahui ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka dan tersulut emosinya. Orang tersebut pun segera meninggalkan restaurant itu dengan
hati penuh amarah.
***************
-Bersambung-
__ADS_1