
“Apakah tidak ada laki-laki lain, Luna? Atau kamu sengaja bekerja di perusahaan besar untuk mendapatkan bosnya? Kamu mau hidup enak tanpa harus bekerja keras?” ucap Enriko lagi dengan nada berapi-api.
Selama ini, Enriko memang tahu bahwa banyak laki-laki yang menginginkan seorang Luna Intan Permana. Namun ia tidak menyangka bahwa akhirnya ada satu laki-laki yang berhasil menaklukan Luna. Dan ia lebih tidak percaya lagi bahwa laki-laki itu adalah atasan gadis itu sendiri.
Oleh karena itu, semua ucapannya keluar begitu saja dari mulutnya tanpa bisa terkendali. Ia menuduhkan suatu hal yang sama sekali ia tidak ketahui tetapi terlintas begitu saja di kepalanya saat ini.
Mendengar semua perkataan Enriko, Luna pun hanya terdiam dan menyunggingkan senyumnya. Ia sudah tahu bahwa reaksi itulah yang akan diberikan oleh laki-laki yang sering kali mengganggunya itu.
Namun, berbeda halnya dengan Lino. Laki-laki yang masih tetap berada di depan Luna itu merasa geram dengan semua perkataan partner bisnisnya itu. Rasanya ia ingin menghajar laki-laki yang lebih muda yang tidak bisa mengontrol mulutnya itu. Tetapi, Luna menahannya. Luna mengulurkan tangannya untuk menahan tangan kekasihnya itu agar tidak berbuat hal-hal yang nantinya akan merugikan.
“Aku juga punya perusahaan. Kamu bisa menikah dengan aku kalau cuma mau memiliki banyak uang. Atau karena perusahaan keluargaku masih jauh dibawah perusahaan Pak Lino sehingga kamu menolak aku secara tidak
langsung?” kata Enriko kembali dengan lebih berapi-api karena merasa tidak mendapatkan tanggapan apapun dari gadis itu.
__ADS_1
“Rasanya tidak ada yang perlu saya jelaskan, Pak Enriko. Dan kalau boleh saya katakan lagi, kita tidak sedekat itu untuk harus memberikan penjelasan apapun.” kata Luna dengan santai
“Enggak, Luna. Aku tidak akan membiarkan acara ini berlangsung. Sudah aku katakan bukan kalau kamu jodoh aku? Berarti kamu harus sama aku, Luna. Bukan bersama Pak Lino ataupun laki-laki lainnya.” putus Enriko
dengan sedikit berteriak lebih keras daripada sebelumnya.
Luna pun hanya mengangkat bahunya untuk menanggapi perkataan terakhir Enriko. Bukannya tidak sopan, tetapi menurut Luna, perkataan tersebut tidaklah patut untuk ditanggapi karena bukanlah sesuatu yang penting.
Namun ternyata tidak demikian dengan Lino. Dengan emosi yang telah sampai di ubun-ubun, Lino pun menarik kerah baju dari Enriko dan menariknya hingga menuju pintu ruangan tersebut.
“Jika Anda adalah seorang pria sejati, maka Anda tidak akan pernah memaksa wanita dan menghargainya dengan semua pilihannya. Tetapi yang telah Anda lakukan hanya menunjukkan bahwa Anda hanya seorang pecundang.” ucap Lino sambil memandang sinis kepada laki-laki yang masih terduduk di lantai.
“Sekarang mungkin Anda bisa jumawa karena bisa mendapatkan Luna. Tetapi sebentar lagi, saya akan membuat Anda meratapi kepergian wanita itu dari hidup Anda. Karena saya pastikan, dia akan memilih saya menjadi pendamping hidupnya.” kata Enriko membalas setiap ucapan Lino sambil berdiri dan membersihkan debu dari celananya.
__ADS_1
Lino melayangkan pukulannya dan mengenai wajah Enriko yang kala itu belum siap menghadapi hantaman dari lawannya. Dan seketika Enriko pun terjatuh kembali ke lantai. Akhirnya pergulatan pun terjadi. Mereka
bergantian memukul dan menendang. Mereka bahkan berguling-guling di lantai seakan tidak ada yang mau kalah.
Lino benar-benar sudah tidak dapat mengontrol emosinya. Ia sangat tidak terima wanitanya dihina hingga seperti itu. Terlebih laki-laki yang menghinanya tidak mengetahui kehidupan gadis itu. Ia pun tidak mengetahui bagaimana susahnya Lino menaklukannya.
Hingga akhirnya, Luna pun harus turun tangan untuk menghentikan pemukulan tersebut sebelum Enriko masuk rumah sakit karena ulah atasannya.
“Cukup! Kalian terlalu seperti anak kecil. Lebih baik, kalian jadi pasangan dan berdampingan saja seumur hidup. Saya rasa, kalian lebih cocok menjadi pasangan. Sama-sama kekanakan.” ucap Luna sambil menarik lengan Lino yang kala itu sedang berada di atas Enriko.
“Tunggu saja. Semua apa yang kuucapkan akan terjadi.” ancam Enriko sambil meninggalkan perusahaan itu dengan emosi yang masih memuncak.
Dan Luna pun kembali ke ruangannya, meninggalkan Lino sendirian yang masih berdiri di tempatnya.
__ADS_1
*************
-Bersambung-