
“Masuklah. Saya carikan ibu dulu. Entah dimana wanita tua itu.” ucap Jordan kembali mempersilahkan tamunya masuk.
Tanpa perlu menunggu lama, Rianti pun keluar dari bagian dalam rumahnya. Tentunya masih dengan pakaian rumah andalan para ibu-ibu. Dan dengan rambut yang masih berantakan, menunjukkan bahwa dirinya juga baru saja bangun dari mimpi panjangnya.
“Selamat pagi, Nak Felix. Maaf, ibu tidak bisa menyambutnya Nak Felix. Kalau boleh tahu, ada keperluan apa pagi-pagi datang kemari?” ucap Rianti dengan sangat sopan karena memang selama ini Rianti selalu menganggap bahwa Felix adalah tambang uangnya. Oleh karena itu, Rianti harus menunduk dan tidak boleh bersikap arogan dihadapan laki-laki ini, meskipun nantinya laki-laki ini akan menjadi menantunya.
“Selamat pagi. Saya tidak akan lama disini, Bu. Tapi kalau Ibu ingin mempersiapkan diri terlebih dahulu, saya bisa menunggu.” ucap Felix yang tidak nyaman dengan penampilan Rianti saat ini.
Rianti pun melihat penampilannya saat ini. Benar saja, penampilannya sangat memalukan untuk berbicara suatu hal yang cukup serius dengan laki-laki muda yang ada dihadapannya.
Bagaimana tidak memalukan jika rambutnya saja terlihat sangat berantakan dan tidak disisir. Selain itu, pakaiannya juga sangat berantakan. Terusan batik rumahan berkancing depan yang dikenakan terlihat sangat berantakan dengan dua kancing teratasnya yang terlepas dan entah ada dimana. Bercak kemerahan yang mulai membiru pun terlihat hampir di suluruh bagian tubuh Rianti yang terekspose, menandakan seberapa beringasnya partner Rianti semalam bermain.
“Maaf. Duduklah dahulu. Saya akan mempersiapkan diri.” ucap Rianti sambil berlalu dari ruangan tempat Felix menantinya.
__ADS_1
Felix pun kembali duduk di tempatnya semula untuk menunggu calon ibu mertuanya itu mempersiapkan diri. Dan sambil menunggu, Felix pun mempersiapkan berkas-berkas yang telah dibawanya.
Sekitar tiga puluh menit, Rianti pun akhirnya keluar dengan penampilan yang lebih prima. Dengan pakaian yang lebih pantas dikenakan untuk menyambut tamu, meskipun masih terlihat seksi. Riasannya pun telah menutupi bekas-bekas percintaannya semalam. Dan Rianti pun keluar dengan membawa segelas kopi dengan cake yang ada di dalam rumahnya.
“Maafkan Ibu, Nak Felix. Hidangannya hanya seadanya saja. Semoga berkenan.” ucap Rianti sambil mempersilahkan Felix untuk mencicipi hidangan yang telah dibawanya tersebut.
Felix pun hanya tersenyum dan mengangguk untuk menjawab perkataan Rianti yang ditujukan kepadanya.
“Tidak masalah, Nak Felix. Kita sudah sama-sama menyetujui untuk membuat surat perjanjian ini, bukan?” ucap Rianti.
“Ibu bisa membacanya terlebih dahulu agar tidak ada yang merasa dirugikan kedepannya.” ucap Felix kemudian sambil menyerahkan semua berkas yang dibawanya kepada Rianti.
Namun Rianti pun menolak untuk membacanya. Rianti cukup percaya bahwa orang sekaya Felix dengan jabatan pada pekerjaannya, tidak mungkin akan menipu orang miskin seperti dirinya. Karena tidak akan ada yang bisa didapatkan oleh Felix jika memang ingin menipu orang miskin.
__ADS_1
“Tidak perlu. Ibu akan langsung menanda tanganinya. Ibu percaya dengan Nak Felix.” ucap Rianti sambil mengambil berkas perjanjian yang diajukan oleh Felix dan mengambil pulpen yang telah disodorkan juga oleh
Felix.
Tanda tangan pun berjalan dengan lancar dan tanpa terkendala apapun. Felix pun bisa dengan segera memperoleh berkas yang telah ditanda tangani dan berkekuatan hukum tersebut.
“Baiklah jika demikian, saya permisi terlebih dahulu. Saya harap, Ibu Rianti tidak mengecewakan saya. Dan apapun rencana Ibu untuk dapat menyatukan saya dengan Luna, akan saya terima dan akan saya ikuti.” ucap Felix kemudian dan berpamitan dengan Rianti.
Rianti pun menganggukan kepalanya. Dia pun telah memiliki rencana yang cukup matang untuk menjebak anak perempuannya tersebut dengan laki-laki kaya yang ada dihadapannya ini. Dan jika Luna telah menikah dengan Felix, maka hidupnya akan kembali seperti dulu. Rianti pun tidak perlu pusing tentang uang yang akan diperolehnya. Karena pastinya Felix akan menjamin semua keuangan tersebut.
*************
-Bersambung-
__ADS_1