Berhak Bahagia

Berhak Bahagia
Episode 125 – Gangguan (2)


__ADS_3

“Tapi kenapa, No? Kita sudah dijodohkan. Bahkan Bunda Nadia sendiri yang merencanakan perjodohan kita dengan mamaku.” kata Retha kembali setelah dari keterkejutannya, mencoba mengingatkan Lino tentang


perjodohan mereka.


“Perjodohan batal sejak aku menolak untuk dijodohkan. Silahkan tanyakan kepada mamamu karena mama dan papamu sudah mengetahuinya.” ucap Lino kembali.


Dan sebelum Lino hendak membuka mulutnya kembali, tiba-tiba Retha memeluk Lino dengan sangat erat. Bahkan mencoba untuk mencium laki-laki yang mungkin telah menjadi obsesinya.


Bersamaan dengan itu, pintu di ruangan Lino pun terbuka. Disana tampaklah Luna yang memasuki ruangan tersebut dengan membawa beberapa berkas yang harus ditanda tangani oleh Lino, serta beberapa dokumen


yang akan digunakan untuk meeting esok hari yang harus dilihat dan dipelajari oleh atasannya.


Mendapati pemandangan atasan sekaligus kekasihnya sedang berciuman dengan perempuan lain, tentunya membuat hati Luna seakan tercubit. Namun, saat ini, statusnya adalah sebagai asisten pribadi, bukan


sebagai kekasih. Oleh karena itu, Luna pun harus bisa bersikap professional tanpa melibatkan perasaannya.


Luna pun memilih untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut sambil memeriksa kembali beberapa dokumen yang akan diserahkan. Ia tidak ingin pekerjaannya mendapatkan kritik karena kurang maksimal.

__ADS_1


Dan ternyata, tidak membutuhkan waktu lama, adegan panas yang ada dihadapan Luna pun selesai. Lino yang menyadari kehadiran Luna segera mendorong Retha hingga terhuyung kebelakang dan terjatuh karena heelsnya


yang tidak stabil ketika berpijak.


Lino pun meninggalkan tempatnya saat ini berdiri dan berjalan menuju Luna yang masih setia duduk bersama dokumen yang kini telah beralih ke meja di depan kursi.


“Kamu siapa? Tidak tahu sopan santunkah kamu sehingga memasuki ruangan atasan tanpa mengetuk pintu?” sembur Retha yang memang tidak mengetahui bahwa wanita yang dimakinya adalah calon tunangan


laki-laki yang sejak dahulu dikejarnya.


Luna pun hanya tersenyum dengan sinis sambil melirik ke arah wanita yang entah berbicara dengan siapa.


Retha yang geram karena merasa diacuhkan oleh seorang bawahan pun segera menghampiri Luna yang duduk disebelah Lino sambil membahas beberapa dokumen untuk mereka meeting esok hari.


“Hai kamu! Jangan kurang ajar ya! Saya bicara denganmu daritadi!” ucap Retha sambil menarik tangan Luna yang tidak digunakan untuk memegang dokumen.


Dan karena terkejut, serta tarikan yang cukup kencang, dokumen yang dipegang Luna pun terjatuh dan Luna pun sedikit berteriak. Namun Retha tidak melepaskannya. Bahkan gadis itu kini handak menyeret Luna untuk keluar dari ruangan Lino karena dirasanya bahwa kedatangannya cukup menganggu.

__ADS_1


“STOP RETHA!” teriak Lino menghentikan langkah Retha yang baru saja beberapa itu.


Luna yang mendengar teriakan Lino pun memanfaatkan kesempatan untuk menghempaskan tangan Retha yang memegangnya. Dan Luna pun bersedekap sambil memandang gadis yang sempat menarik dan membentaknya itu.


“Perkenalkan, Nona. Saya adalah Luna Intan Permana. Saya rasa, Anda sudah mendapatkan undangan dari Bunda Nadia, bukan?” ucap Luna dengan wajah datarnya dan memandang Retha tanpa rasa takut.


Retha yang mencoba mengingat nama Luna dan kata undangan yang disebutkan Luna pun tersadar. Ia tidak menyangka bahwa baru saja membentak calon tunangan Lino. Dan Retha juga tidak menyangka bahwa gadis itu


tidak ada rasa takutnya.


“Dasar wanita *******! Ternyata untuk menaikkan derajat\, kamu merayu atasanmu sendiri. Sangat rendahan caramu.” kata Retha dengan nada sinis dan merendahkan. Rasanya Retha tidak sadar berhadapan dengan siapa.


“Oya? Lalu bagaimana dengan wanita yang tidak diharapkan tetapi mengemis-ngemis cinta laki-laki? Lebih ******* mana ya? Bahkan sampai mencium paksa laki-laki tersebut. Sungguh rendahan.” balas Luna dengan nada yang tidak kalah sinis dan masih dengan wajah datar tanpa ekspresi apapun.


Retha yang tersentak dengan perkataan Luna pun hanya bisa menutupi rasa malunya dengan berlalu dari ruangan tersebut. Untungnya di ruangan tersebut hanya ada mereka bertiga, jika tidak, entah harus diletakkan dimana wajah Retha saat ini.


Dan Lino yang melihat, serta mendengar perkataan Luna pun hanya bisa tersenyum bangga. Ia tidak tahu bahwa setelah ini akan ada badai amarah yang menghantam dirinya.

__ADS_1


***********


-Bersambung-


__ADS_2