BERIKAN AKU CAHAYAMU

BERIKAN AKU CAHAYAMU
Rasa yang tak seharusnya


__ADS_3

Diaula kampus, dibalik dindingnya click Fidin melihat kebersamaan Shena dan Garil dengan begitu asiknya. Menatap datar seolah tak suka dengan kebersamaan mereka yang begitu mesra, berdiri Yola disamping Fidin menatapnya heran.


"Lo kenapa?. Gue liat dari tatapan lo, kayak nggak suka gitu ngeliat mereka happy?"


Gugup Fidin menjawab kalau ia biasa saja, lalu bergegas pergi meninggalkan Yola.


"Aneh," lirih bingung Yola.


Diperpuskaan, terduduk Shena dan Fidin mengerjakan beberapa tugas kuliah mereka. Lirih Fidin bertanya sedikit canggung pada Shena.


"Emm, gue boleh tanya nggak sih?"


"Tanya apa?" sahut Shena dengan mata yang fokus pada buku.


"Eee, gue liat-liat. Lo akrab banget sama Garil, kalian pacaran?"


Tawa lirih Shena bertanya pada Fidin kenapa ia menanyakan mengenai hal itu, gugup Fidin menjawab tidak ada apa-apa dan hanya ingin tahu saja.


"Hhehe, gue sama Garil tu nggak pacaran. Tapi kita ngejalin komitmen."


Angguk Fidin, "Udah berapa lama?"


"Belum ada setahun sih."

__ADS_1


Tatapan lembut Fidin membatin, "Gimana caranya gue bilang, kalo gue suka sama lo Sen."


Bingung Shena menatap, "Lo kenapa?, gitu banget ngeliatin gue. Awas tu mata ntar copot."


"Hhe, bisa aja lo" lirih Fidin menggaruk kepala.


Klung klung..


Bunyi ponsel Shena yang mana itu panggilan dari Garil, lirihnya pada Fidin kalau ia mau menjawab telfon dulu. Lembut Garil bertanya pada Shena dimana dia berada karena ia menunggunya di tempat parkir, ucap Shena mengatakan kalau ia akan segera kesana. Bergegas Shena mengambil tas dan bukunya diatas meja.


"Oh iya, gue pulang dulu ya. Nanti kita kerjain lagi tugas bareng, dahh.." senyum Shena segera pergi.


Lirih Fidin berteriak mencoba menahan Shena, namun ia mengurungkan niatnya itu.


Tak lama Shena sampai ditempat parkir, tersenyum menyapa garil yang sudah menunggunya. Tanya ia pada Garil apakah sudah menunggunya lama, senyum Garil membalas.


"Nggak, baru aja."


"Lagian, tadi aku nunggu kamu. Tapi, kamu nya belum keluar. Jadi tadi aku ke perpustakaan dulu deh" ucap Shena.


"Maaf ya sayang. Ayo pulang" lembut Garil memegang pundak Shena.


Sipu malu Shena mangangguk.

__ADS_1


...


Malam hari, keluar Shena dari sebuah warung makanan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya dengan membawa sekantong makanan yang sudah dibelinya. Terhenti ia didepan rumah makan itu karena tiba-tiba turun hujan deras.


"Yah, kok hujan sih?. Perasaan tadi cuacanya cerah banget, mana nggak bawa payung lagi" wajah bete Shena.


Menunggu beberapa saat, namun hujan tak kunjung reda. Shena pun berniat untuk menerobos hujan itu, batyu selangkah tiba-tiba ia tidak merasakan guyuran hujan ditubuhnya. Shena menatap langit-langit dan melihat sebuah payung diatas kepalanya, cepat ia menoleh siapa yang membawa payung itu. Kerut alis Shena melihat Fidin yang ada dibelakangnya dengan payung yang ia pegang


"Lo?. Lo kok bisa disini?" heran Shena.


Santai Fidin mengatakan kalau ia tadi tidak sengaja lewat dan melihatnya, "Jadi gue kesini, kayaknya lo lagi butuh peneduh. Jadi gue bawain payung buat lo."


"Terus, lo?"


"Udah, santai aja. Rumah gue deket, gue juga udah biasa ujan-ujanan. Jadi lo pakek aja ni payung."


"Deket?. Perasaan rumah lo malah lebih jauh, jadi kamu aja yang pakek" sedikit perdebatan mereka hanya masalah payung.


"Heh, dasar kepala batu (lirih Shena). Daripada kita debat, mending kita pakek payung ini berdua. Lagian, rumah kita juga serah kan. Lo nggak kebasahan, dan gue juga nggak kebasahan. Dil!"


Angguk Fidin dengan senyum memainkan alis.


Kira-kira, Fidin akan jadi ancaman buat hubungan Shena sama Garil nggak ya?🤔.

__ADS_1


Tungguin episode-episode selanjutnya ya👇.


__ADS_2