
Setelah diperiksa oleh dokter, Shena pun bertanya apa yang sebenarnya terjadi padanya. Dan apakah ada tanda-tanda ia mengalami pelecehan, dimana ia memang sebelumnya sudah mempunyai niat untuk memeriksakan diri.
Senyum tipis dokter itu menatap Shena, dan mengatakan kalau sama sekali tidak ada tanda bekas pelecehan pada dirinya. Kerut alis Shena tertegun sejenak dan kembali melemparkan pertanyaan kenapa ia mual-mual dan tak jelas.
"Kamu cuma butuh istirahat aja. Nggak ada yang serius sama kondisi kamu. Dan ini, surat hasil pemeriksaan" ucap dokter.
Terdiam Shena tak percaya, mengambil surat itu dan mengucapkan terima kasih lalu segera keluar ruangan. Berjalan Shena dengan wajah datar memegang surat pemeriksaan itu dan bergegas masuk kembali ke taxi.
"Sekarang, kita mau kemana mbak?"
"Jalan dulu aja pak" lirih Shena.
Sejenak Shena mengingat Fidin karena sudah menuduhnya melakukan perbuatan keji itu, tapi di sisi lain ia juga bingung kenapa Fidin sampai melakukan hal itu tanpa menyakitinya.
"Apa dia sengaja untuk buat malu gue?. Tapi kenapa?" batinnya.
__ADS_1
Shena lalu teringat dengan video yang ditunjukkan Fidin padanya, dan berfikir apakah yang diucapkan Fidin waktu itu benar kalau memang ada campur tangan orang lain yang sengaja ingin menghancurkan mereka.
"Tapi siapa?. Lagian, aku juga nggak bisa percaya gitu aja sama dia. Siapa tau, orang itu nggak lain suruhan dia."
Memasukkan surat itu ke dalam tasnya dan mencoba mengambil ponsel, tak sengaja botol kecil keluar dari tasnya dan terjatuh. Kerut kening Shena menatap bingung dan perlahan membungkukkan badan mengambil botol itu.
"Obat bius?. Gimana bisa ada di dalem tas gue?. Perasaan, gue juga nggak pernah beli ini obat."
Berfikir Shena sambil mengingat, ia pun teringat saat berada di resto waktu lalu bersama Fidin. Karena saat itu tiba-tiba kepalanya mendadak pusing, dan mengira apakah itu milik Fidin yang tak sengaja jatuh ke dalam tas saat membantunya.
Tak lama, taxi yang di tumpangi Shena berhenti di sebuah tempat. Dimana itu adalah resto yang waktu itu ia kunjungi, segera Shena keluar dari taxi dan masuk. Bicara Shena pada salah satu pelayan dan meminta izin apakah ia boleh melihat rekaman cctv pada tanggal kejadiannya waktu itu. Sopan pelayan itu mengizinkan Shena dan mengantarnya masuk ke ruangan cctv.
"Oh iya pak, saya boleh salin rekaman ini?"
Dengan senang hati, penjaga itu mengiyakan dan menyakinkan rekaman itu ke ponsel Shena.
__ADS_1
"Terimakasih ya pak!"
...
5 hari berlalu, dimana Shena tak kunjung pulang dan juga tak ada kabar darinya. Bingung Chika dan orang tuanya harus mencari Shena kemana lagi.
Disisi lain, Garil yang juga cemas dengan keadaan Shena selalu mendapat ancaman dari sang mama yang sangat melarangnya menemui Shena. Mama Ika yang selalu mengancam akan menyakiti dirinya jika sampai Garil menjalin hubungan lagi dengan Shena, hal itu lantas membuat Garil khawatir dan membuatnya terpaksa berbohong pada mamanya demi bisa mencari Shena.
Hembus nafas Yola berbaring di atas kasur dengan wajah bahagianya karena besok malam adalah hari pernikahannya dengan Garil.
"Nggak butuh waktu lama, untuk gue bisa dapetin Garil. Dan lo Sen, selamat menikmati kesedihan hahaha. Tapi tenang, lo nggak perlu khawatir Sen, gue pasti undang lo untuk menyaksikan momen bahagia gue sama Garil."
"Eh, tunggu tunggu. Lo kan, masih diculik ya?. Mana bisa lo hadir, hahaha. Shena shena, kasian banget hidup lo" lanjut Yola.
Yola tak mau mengambil resiko dengan keberadaan Shena yang dapat mengancam pernikahannya dengan Garil, lantas ia melanjutkan kerja sama dengan ayah Shena untuk menculiknya dalam beberapa hari ini tepat saat ia keluar dari resto 5 hari yang lalu.
__ADS_1
Yang dilakuin Yola itu apa bisa disebut perjuangan cinta, atau cinta buta ya?. Gimana nih tanggapan kalian reader?.
***