
Tiba dijalan depan kampus Shena memesan taksi online, Chika bertanya padanya apakah mereka akan langsung pulang. Angguk Shena mengiyakan, kerut bibir Chika kenapa pulang secepat itu.
Shena hanya mengatakan kalau taksinya akan segera sampai. Setelah menunggu beberapa saat, tiba-tiba shena mendapat notifikasi kalau taksinya akan sampai 1 jam lagi karena macet. Shena pun membatalkan pesanannya dan mencoba mencari taksi lain.
Garil bersama Exel yang melihat Shena dan Chika dipinggir jalan langsung menghampiri, lalu menawarkan tumpangan untuk mereka. Shena menolak dan mengatakan kalau dia akan mencari taksi sendiri. Chika berbisik pada Shena mengatakan kalau Garil sudah baik menawarkan tumpangannya.
Bujuk Chika, "Udah, ayolah sen. Kita bareng mereka aja.. sekalian ngirit duit."
"Eh tunggu!.. kita ikut" lanjut Chika.
Shena menatap Chika dengan menolak, Chika memaksa menarik tangan Shena dan membuka pintu mobil. Chika meledek dengan mengatakan kalau Shena orangnya malu-malu saat bertemu orang baru, tapi kalau sudah lama bisa sebaliknya.
"Apaan sih Cik" Shena menatap sedikit sinis.
Garil dan Exel tersenyum menahan tawa, Shena melihat mereka dengan muka datar mengatakan untuk tidak menertawakannya.
Shena duduk diam melihat pemandangan luar mobil, Garil yang menyupir memperhatikan Shena diam-diam dari spion mobil. Shena melirik sambil mengerutkan alisnya dan mengalihkan pandangan.
"Dia kalo kalem gitu lucu juga" batin Garil dengan senyum tipis.
Chika mencairkan suasana, memuji Garil dan Exel yang bermain basket dengan begitu jago sambil memberikan selamat pada mereka.
"Iya kan Sen?" mencolek Shena.
"Standar" balas Shena.
Exelpun memberi saran, dimana untuk merayakan kemenangan mereka dengan diner nanti malam. Chika dan Garil setuju dengan ide Exel, lirih Chika menanyakan pendapat Shena.
"Dimana Sen, setuju kan?"
Shena mengatakan kalau dia tidak setuju dengan pendapat mereka. Chika sedikit melawak menjawab kalau Shena setuju. Shena mengerutkan alisnya mengulang ucapannya yang tidak setuju.
Ulang Chika, "Tu kan dia setuju."
"Apa sih cik, orang gue nggk mau. lagian yang menang kan mereka bukan kita" balas Shena sedikit kesal.
"Ya kan kampus kita juga yang bangga sen.."
Garil dan Exel setuju dengan perkataan Chika, Shena menggaruk kepala dengan muka pasrah menjawab Chika kalau terserahnya saja. Senyum senang Chika memeluk Shena.
__ADS_1
"Nah gitu dong" ucap Chika.
Tiba dirumah.
Shena dan Chika keluar dari mobil, Garil membuka kaca mobil memanggil lirih Shena berkata kalau dia akan menjemputnya nanti malam.
"Terserah lo" datar Shena berjalan masuk.
"Gue tunggu kalian ntar malem ya!" teriak Exel.
Senyum Chika melambaikan tangan. Didalam mobil Exel bicara pada Garil kalau dia akan ikut kerumahnya malam ini.
"Yaelah Sel, kalo mau tidur dirumah gue ya tinggal tidur sih. Orang tua gue juga lagi kerja diluar kota, jadi gue dirumah sendirian."
Senang Exel, "Seriusan lo?"
"Iyalah."
Kluk..
Pintu kamar terbuka, Shena langsung berbaring dikasur mengusap mukanya dengan tangan dan menutup mata perlahan. Chika membuka pintu berteriak sedikit keras memanggil Shena, membuatnya terkejut dan langsung membuka mata.
"Thank you ya (memeluk shenya). Akhirnya lo mau diajak diner juga."
Balas Shena, "Udahlah batalin aja Cik. Lagian ngapain juga ngajakin kita sih. Kalo mereka mau kan mereka bisa berangkat sendiri, kenapa harus ngajak-ngajak kita."
Chika melepaskan pelukannya, mengatakan dengan humor kalau tidak mungkin mereka diner sesama laki dan ini juga hanya sesekali.
"Pokoknya lo harus ikut.. titik!" lanjut Chika.
"Maksa banget sih lo, dahlah gue mau tidur!. Ngantuk."
Chika tersenyum lalu mengambil hp nya, bertanya pada Exel apakah dia sudah sampai dirumah. Exel membalas sudah, mengatakan kalau dia akan tinggal beberapa hari dirumah Garil. Mereka basa-basi dengan humor, Chika bertanya jam berapa mereka akan menjemput.
Chatting Exel, "Jam 8 ya."
Shena dan Chika tertidur, Chika yang bangun duluan pun bersiap-siap dan mencarikan baju untuk dipakai Shena. Satu persatu baju dikeluarkan Chika dari lemari dan melemparnya ke kasur yang membuat baju Shena sedikit berantakan. Tanpa sengaja ada baju yang mengenai muka Shena dan membuatnya terbangun dengan kaget.
Mengangkat baju dari mukanya dan membuka mata, dengan terkejut melihat baju yang berantakan. Shena berteriak memanggil nama Chika lalu beranjak dari tempat tidur, Chika yang kaget malah tidak sengaja melempar baju mengenai muka Shena. Shena mengambil baju dimukanya dengan sedikit kesal, menanyakan dengan muka sedih sekaligus humor pada Chika kenapa dia membuat bajunya berantakan.
__ADS_1
Teriak Shena, "Chika.. ini apa-apaan!. Kenapa lo buat baju gue berantakan satu kampung!"
Chika tersenyum dengan muka yang tidak bersalah menjawab dengan PD kalau dia hanya ingin mencarikan Shena baju yang bagus untuk nanti malam. Shena menepuk kepalanya dengan sedikit mengeluh.
"Tapi nggak gini juga Cik. Baju satu lemari lo keluarin semua. Kan ini banyak baju yang bisa di pakek. Pokonya nanti, lo beresin semua ni baju gue. Gue nggak mau tau" tekan Shena.
Balas Chika, "Gampang. Ntar gue beresin ni semua. Tapi sekarang lo mandi dulu, terus siap-siap ya. Buruan deh."
Shena berjalan ke kamar mandi dengan muka sedikit bete mengerutkan kening dan menutup mukanya dengan handuk. Chika yang sudah bersiap-siap, mendengar suara mobil, lalu bergegas turun dan berteriak pada Shena akan menunggunya diruang tamu. Chika mengatakan pada Shena untuk segera keluar dan turun.
"Iya iya.." jawab Shena.
Chika membukakan pintu untuk Garil dan Exel, menyuruhnya untuk masuk dan duduk. Exel melihat Chika dengan pandangan kagum karena penampilannya dan memuji penampilan Chika yang begitu cantik, sipu malu Chika. Garilpun bertanya pada Chika dimana Shena, sahutnya kalau Shena sedang bersiap-siap.
"Sen, buruan turun!" teriak Chika.
Beberapa saat menunggu akhirnya Shena turun. Dengan penampilannya yang begitu cantik dan elegan serta rambut yang terurai membuat mata Garil, Chika dan Exel memandang terpesona. Shena berjalan dengan anggun dengan muka datarnya.
Lirih Garil, "Beautiful.." dengan tatapan penuh kagum.
"Wah-wah Sen, ini beneran lo!. Gilasih ini, cantikk banget" kagum Chika.
Lanjut Exel, "Hmm.. bener banget."
Shena mengatakan untuk tidak berlebihan dan mengajak mereka untuk segera berangkat, Garil menatap lembut hingga membuat Shena sedikit bingung.
Lanjut Shena, "Mau berangkat apa cuman mau bengong disini aja (Garil terkejut)" muka datar.
Gugup Garil, "Heh.. iya iya cantik kok."
Exel tersenyum menggoda Garil dan mengatakan kalau Shena mengajaknya untuk berangkat, bukan bertanya soal cantik atau tidak. Garil memasang muka sedikit terkejut dan malu.
"Hah.. i-iya berangkat iya" gugup Garil.
Shena berjalan duluan keluar dibarengi Exel dan Chika dibelakangnya. Garil mengusap muka sambil tersenyum malu lalu menyusul keluar.
"Ahh.. malu-maluin aja lo Ril" senyum malu Garil.
***
__ADS_1