
Sudah hampir pukul 03:00 pagi, namun Garil tetap tidak bisa menemukan keberadaan Yola. Lelahnya menghentikan laju mobil sambil mengusap wajah, dengan penuh penyesalan ia menyalahkan dirinya.
"Kalau tadi gue nggak marahin dia, dia nggak akan pergi kayak gini. Gue nggak tau harus cari dia kemana lagi."
Klung klung klung..
Ponsel Garil berbunyi, yang mana itu panggilan dari Mama Rita yang kembali menanyakan Yola. Hela nafas Garil dan menjawab panggilan itu, lirihnya meminta maaf pada Mama Rita kalau ia tetap tidak bisa menemukan Yola. Sedih Mama Rita langsung mematikan ponsel, ia khawatir kalau Yola melakukan hal yang tidak baik.
"Mah, Yola itu bukan anak-anak lagi, dia udah dewasa. Paling dia sekarang pergi kerumah temennya, Mama nggak perlu khawatir gitu lah. Yola nggak akan kenapa-napa, dia pasti baik-baik aja" ucap Papa Yola mencoba menenangkan istrinya.
Wajah cemas Mama Rita yang tidak bisa dibohongi, meski ia tahu kalau anaknya itu sudah dewasa, namun ia paham dengan sifat anaknya, jika perihal asmara ia (Yola) seperti orang bodoh bahkan nekat.
...
Keesokan pagi, terbangun dengan mata sayu. Terkejut ia saat melihat Vano berada di sampingnya dengan tangan yang memeluk tubuhnya dan langsung melempar keras tangan Vano.
__ADS_1
Iapun begitu syok dengan apa yang ia lihat dan membuat ia tertegun tak bisa berkata-kata, tak berselang lama Vano pun terbangun dengan senyum senang dan tanpa rasa bersalah menyapa lembut Yola.
"Eh sayang, kamu udah bangun. Kenapa sih, tegang banget mukanya, santai aja dong" membelai lembut rambut Yola.
"Lepasin!. Nggak nggak, ini nggak mungkin!" histeris Yola dengan air mata yang mengalir.
"Kenapa nggak mungkin, yang terjadi, sudah terjadi" ucap Vano.
Tangis Yola dengan wajah emosi langsung menampar Vano dan bergegas bangkit dari tempat tidur.
"Laki-laki brengsek, menjijikan!"
"Gue bilang, jangan deket-deket!, atau gue akan..."
"Akan apa? (patah Vano langsung mendekat dan memegang erat tangan serta lengan Yola). Kamu tampar aku?, mau pukul aku?, aku akan terima itu semua. Ini adalah timbal balik, karena kamu udah kasih aku kebahagian meskipun singkat."
__ADS_1
"Lepasin gua!. Bener-bener cowok nggak punya malu, cowok brengsek!" teriak Yola mencoba melepaskan pegangan Vano.
"Terkadang, apapun bisa orang lakuin demi cinta (membelai lembut rambut Yola). Baik itu benar, ataupun salah."
Risih Yola dengan wajah emosi mendorong Vano, "Apa yang lo lakuin ini nggak bener, lo udah kelewatan batas!" tangisnya lalu mengambil tas dan bergegas pergi.
Senyum Vano menggelengkan kepala, "Emosi yang meledak-ledak kamu ini yang buat aku makin tertarik sama kamu, Yola."
Mondar mandir Mama Rita yang menunggu kepulangan anaknya di ruang tamu dengan wajah yang begitu cemas dan ponsel ditangan.
"Kamu kemana sih sayang?"
Tak lama terdengar suara langkah kaki, dan pintu rumah pun terbuka. Senang Mama Rita saat ia melihat kalau itu adalah putrinya (Yola), iapun segera menghampiri Yola dan menanyakan keadaannya yang semalaman tidak pulang. Namun, gelagat Yola tidak seperti biasanya, yang mana Yola hanya terdiam tanpa sepatah kata dengan tatapan kosongnya ia langsung berjalan pergi.
"Sayang, kamu kenapa diem aja!" teriak Mama Rita.
__ADS_1
Ia pun semakin cemas dan segera menyusul Yola yang berjalan ke kamarnya.
***