BERIKAN AKU CAHAYAMU

BERIKAN AKU CAHAYAMU
Secarik kertas


__ADS_3

Berjalan Yola bersama Mama Rita diruang rumah sakit setelah selesai mengantarkan Mamanya memeriksakan diri. Tak sengaja, secara kebetulan Yola melihat Sevi yang juga sedang berada dirumah sakit berjalan masuk ke ruang dokter spesialis.


Sejenak Yola menghentikan langkahnya, mengerutkan alis, "Sevi?"


Yola yang diliputi rasa penasaran pun mencoba mengikuti Sevi dan tidak menghiraukan Mamanya yang berjalan lebih dulu, mengintip dan mendengarkan perbincangan Sevi bersama dokter dari balik pintu luar ruangan.


"Iya Dok, bagaimana hasil pemeriksaan saya kemarin?" ucap Sevi.


Jelas Dokter perempuan itu sambil memegang hasil diagnosis mengatakan kalau dari hasil pemeriksaan yang sebelumnya dilakukan, ia menemukan terdapat luka memar yang belum sembuh total di bagian kepalannya (Sevi).


"Dan jika saya lihat dari hasil pemeriksaan ini, sepertinya, ini luka yang cukup parah. Biasanya luka ini disebabkan karena sebuah insiden (kecelakaan), dan mengakibatkan bagian kepala mengalami benturan yang amat fatal" lanjut Dokter itu.


"Apa?. Tapi, saya nggak pernah mengalami kecelakaan, Dok. Apalagi, kecelakaan yang fatal?"


"Kecelakaan?" lirih Yola tertegun.


"Yola?" teriak Mama Rita memanggil.

__ADS_1


Terkejut Yola dan bergegas berjalan menghampiri Mamanya.


"Tapi luka ini, tidak bisa bohong. Saya pernah menangani pasien yang sama seperti ini, dan biasanya orang yang mengalami cidera dibagian kepala ini, juga mengalami cedera otak yang mengakibatkan pasien akan mengalami amnesia" lanjut Dokter.


"Amnesia?"


...


Malam hari, mondar-mandir Yola didalam kamarnya, teringat ia dengan ucapan Dokter bersama Sevi saat dirumah sakit yang membuat hatinya bimbang. Lirihnya bertanya-tanya apakah Sevi dan Shena memanglah orang yang sama.


Disisi lain, tenang Sevi berdiri menatap langit malam dari balkon kamarnya, ia juga masih teringat dengan ucapan Dokter padanya sambil memegang secarik kertas.


"Kalau yang dibilang Dokter itu nggak bener, tapi kenapa gue nggak bisa inget masalalu gue ya. Masa kecil gue, ataupun masa remaja gue. Apa emang gue amnesia?. Tapi, masak iya sih gue amnesia?" ragu Sevi.


Tak berselang lama, lirih Mami Dena menyapa lembut menghampiri Sevi.


Kejut Sevi dengan senyum tipis, "Ehh, Mami."

__ADS_1


"Kamu lagi mikirin apa?. Kalau ada beban pikiran, cerita sama Mami. Jangan di pendem sendiri. Kenapa, apa dikantor ada masalah?"


"Nggak kok, Mi. Mmm..oh iya Mi, Sevi boleh tanya sesuatu nggak?"


"Ya boleh dong, kamu mau tanya apa sayang?"


"Apa bener, kalau sebelumnya Sevi pernah mengalami kecelakaan yang buat Sevi jadi amnesia?" ucap Sevi sambil memberikan lembar hasil diagnosis dari Dokter.


Lirik Mami Dena mengambil secarik kertas dari tangan Sevi, hela nafasnya setelah membaca isi kertas itu dan mengiyakan pertanyaan anaknya. Singkatnya menjelaskan kalau beberapa tahun lalu ia (Sevi) pernah mengalami suatu insiden yang mengakibatkannya harus kehilangan ingatan untuk sementara waktu.


"Udah, kamu nggak perlu mikirin soal masalalu kamu itu ya sayang. Yang penting, sekarang kamu baik-baik aja. Karena, Mami sama Papi nggak akan biarin hal buruk terjadi lagi sama kamu" mengusap tulus wajah Sevi.


"Sama sekali Sevi nggak mikirin soal masalalu Sevi, Mih. Sevi cuma pengen tau aja, apa yang sebenarnya terjadi. Yang terpenting buat Sevi sekarang adalah, Mami sama Papi terus bareng sama Sevi."


Hangat mereka saling memeluk.


...

__ADS_1


__ADS_2