BERIKAN AKU CAHAYAMU

BERIKAN AKU CAHAYAMU
Santai aja


__ADS_3

Fidin berjalan dibelakang shena, Shena pun curiga kalau fidin sedang mengikutinya. Shena langsung menghentikan langkah dan berbalik, namun fidin yang berjalan begitu cepat menabraknya.


"Aduhh.. lo kalo jalan nggak bisa hati-hati apa!" Kesal Shena.


Fidin lalu membalikkan ucapan Shena, "Kan lo sendiri yang berhenti mendadak."


"Nyalahin gue?, udah lupain. Yang mau gue tanya, lo ngikutin gue kan!."


"Siapa yang ngikutin?" Bingung fidin.


Sahut shena sedikit nyolot, "Ya lo lah masak gue!."


Fidin lalu mengatakan kalau dia tidak mengikutinya, dengan lantang dan wajah lucunya Shena mengatakan kalau dia sedang berbohong.


"Terus kalo lo nggak ngikutin gue kenapa lo ngikutin jalan dibelakang gue!. Nggak bisa jawab kan."


Fidin menghelakan nafas, " Oke, sekarang gue yang tanya. Lo mau kemana?."


"Pulang lah."


"Terus kalo pulang jalannya lewat mana?" Lanjut fidin.


Sahut shena sedikit berfikir, "Ya lewat sini lah."


"Nah itu tau, kalo gue lewat sini artinya gue mau pulang. Udah, gue mau pulang bukan ngikutin lo."

__ADS_1


Shena menatap curiga, memainkan dua jari ke matanya dan mata fidin bak ingin mengamati.


"Awas lo ya," Lirih Shena berjalan pergi.


Fidin menggelengkan kepala lalu berjalan lirih.


Saat diparkiran Shena bertemu dengan teman ceweknya, temannya menyapa dan bertanya padanya kenapa ia tidak pulang bersama garil.


"Enggak, hari ini gue berangkat sendiri" Senyum Shena.


"Oh, gue kira kenapa. Soalnya tadi gue liat garil pulang bareng cewek yang pindahan dari Jerman itu?."


Shena sedikit berfikir, "Yola maksud lo?."


"Iya, Yola kayaknya. Yaudah ya gue pulang dulu, udah dijemput."


"Apa.. garil belum bisa move-on dari Yola?," Tanya Shena pada diri sendiri sambil berfikir.


Tiba dirumah Yola, ia ditawarkan Yola untuk mampir dulu kerumahnya. Namun, ia menolak dan mengatakan kalau dia ada urusan.


"Lo bisa jalan sendiri kan?," Tanya garil seperti teman.


Yola paham maksud Garil yang tidak mau mengantarnya, ia lalu mengangguk lirih.


"Iya.. bisa."

__ADS_1


Sebelum pulang garil menyempatkan diri mengabari Shena dan menelfonnya, dengan wajah datar Shena mengangkat telfon dari garil.


"Kenapa?."


Garil lalu memberi tahu kalau ia tadi mengantarkan Yola pulang, Shena menjawab dengan nada lemas.


"Udah tau, tadi temen aku yang ngasih tau."


Garil lalu meminta maaf karena ia belum bicara padanya dan mengatakan kalau ia mengantarkan Yola hanya karena dia kasihan melihatnya sakit dan hampir pingsan.


"Kamu marah ya?," Kata Garil


Hela nafas Shena mengerutkan bibir, "Nggak lah, kenapa harus marah. Udah santai aja, aku nggak papa kok. Aku nggak seegois itu, lagian kalo aku diposisi kamu aku juga bakal bantu dia."


Merekapun ngobrol begitu asik saling melempar rayuan dan candaan. Tak lama shenapun sampai dirumah, membuka pintu kamar dan melihat Chika yang sedang duduk santai.


"Baru pulang sen, kemana aja lo lama banget?."


"Tadi gue pinjem buku dulu," Kata Shena.


Chika menatap Shena dengan seksama, "Eh tunggu tunggu, muka lo kenapa lecek gitu. Ohh.. gue tau, pasti karena rumah tangga lo sama garil kan."


Tawa lirih Shena, "Dihh, rumah tangga. Gue belom nikah woy, hhe."


"Tapi iya kan?.. atau jangan-jangan karena nenek lampir Yola itu?."

__ADS_1


"Apaan sih sembarangan, nggak usah kepo deh. Mending lo urusin hubungan rumah tangga lo aja, hha" Ejek Shena.


"Rumah tangga gue mah baik-baik aja, hhahaha."


__ADS_2