
Jam kampus berakhir, mahasiswa/i keluar ruangan satu persatu. Shena dan Chika beranjak dari tempat duduk mengambil tas.
"Sen, lo pulang bareng gue kan?"
Angguk Shena memainkan alis memberi isyarat setuju, merekapun segera keluar dari ruangan. Diaula kampus dengan asik berbincang, Garil memanggil berjalan dengan sedikit cepat disusul Exel dibelakangnya. Shena dan Chika langsung berbalik badan.
"Ehh, sorry ya gue lama, lo pulang bareng gue kan?" tanya Garil.
Shena yang akan menjawab tiba-tiba dipotong Chika, "Shena pulang bareng gue. Soalnya dia mau pindah kerumah gue, jadi kita mau beres-beresin. Iya kan Sen?"
Kerut alis Shena dengan senyum terpaksa, "Hmm.."
"Kapan?" tekan Garil.
Sahut Chika, "Hari ini lah. Tapi nanti sore dia pindahnya."
"Gue ikut ya!" sambung Garil.
Kaget Shena dan Chika bersamaan, "Haa!.."
"Nggak, maksud gue.. gue bantu bawa barang-barang kalian. Kalo udah tau rumah lo kan enak, kalo mau main."
Sambung Exel, "Betul tu, masak iya rumah pacar sendiri nggak tau."
"Ya.. tanya aja sama Chika, gimana cik?" kata Shena.
Seru Chika, "Ya nggak papa lah. Kalo mau ikutan pindah kerumah gue juga nggak papa" lawaknya.
"Jadi gimana sekarang, apa kita kerumah lo?" tanya Garil pada Shena.
__ADS_1
Balas Shena, "Nggak, jangan sekarang. Nanti sore aja, gue mau beres-beres aja dulu."
"Oh iya, ini kemeja lo. Lupa gue, btw makasih ya" mencoba melepas kemeja di pinggangnya.
"Ehh, nggak usah biarin. Lo pakek dulu aja nggak papa" tahan Garil.
"Tapi ini kan kemeja lo."
"Udah nggak papa. Mau ambil juga nggak papa kok."
"Ehh jangan. Yaudah gue pakek dulu ya, nanti gue balikin. Tapi gue cuci dulu, sekali lagi makasih lo."
"Udah, santai aja lah. Kayak siapa aja."
"Yaudah, kita pulang dulu ya" lanjut Shena.
Tiba di tempat parkir, Chika menggoda Shena, "Ciee, pulang dulu ya.."
Datar Shena melirik Chika, "Apaan sih, nggak jelas banget."
Tanya Shena pada Chika dimana ia menaruh mobilnya, kerut bibir Chika menunjuk ke arah mobil Shena.
"Baru digituin aja udah lupa segalanya," ejek Chika.
...
Didalam mobil perjalanan pulang, Shena bertanya apakah tidak apa-apa jika dia tinggal dirumahnya.
"Ya nggak papa dong Sen. Justru orang tua gue yang minta gue untuk bujuk lo biar mau tinggal dirumah gue. Karena Mama Papa gue khawatir sama lo. Kita tu bukan orang asing Sen, jadi santai aja lah."
__ADS_1
"Tapi Cik.." terputus.
Klung-klung.
Ponsel Chika berbunyi, yang mana itu mamanya yang menelfon.
"Nih, baru juga diomongin. Mama gue udah nelfon."
Chika segera menjawab dan bertanya pada Mamanya, sahut sang Mama pun bertanya tentang Shena apakah dia mau untuk tinggal dirumahnya. Shena memainkan alis sambil berbisik bertanya pada Chika.
Lanjut Chika, "Mama gue nanyain lo, katanya lo jadi kan tinggal dirumah gue."
Chika kembali berbincang dengan mamanya dengan mengatakan kalau Shena jadi tinggal dirumah mereka. Dona (Mama Chika) tersenyum senang dan bertanya apakah mereka sudah pulang dari kampus.
"Udah Mah, ini masih dijalan mau kerumah Shena dulu. Beres-beres barang dia."
"Yaudah, hati-hati ya sayang" lembut Mama Dona.
"Iya nah, bai.."
Lanjut Chika pada Shena, "Tu Sen. Mama gue aja seneng banget, sampek nanyain lo. Jadi udah ya, buang rasa nggak enak lo itu deh."
Hela nafas Shena mengerutkan bibir memberi senyum tipis, lirih mengucapkan terimakasih pada Chika karena dia selalu ada untuknya.
"Saudara tak sedarah" ujar Shena.
Senyum senang mereka saling menatap.
***
__ADS_1