
Tiba dirumah, Shena bersama Chika segera masuk kamar membereskan barang-barang yang akan dibawanya. Mengambil koper dan tas besar, memasukan satu persatu barangnya mulai dari pakaian dan buku-buku yang dikemas dalam kardus.
"Okeh.. sekarang kita mulai" lirih Shena mengambil nafas dan segera bertindak.
...
Beberapa jam kemudian merekapun selesai mengemasi barang-barang dan sudah menaruhnya diruangan bawah, sambil menunggu Garil. Merasa lelah, mereka membaringkan badan di atas sofa.
"Hah.. akhirnya selesai juga, capek banget ni badan" kata Shena.
Sambung Chika, "Duh, sama aja Sen. Gue mau istirahat dulu deh, lagian ini juga baru jam 2 (melihat jam di ponsel dan menutup perlahan mata)."
Jawab lemas Shena yang memejamkan mata, "Iya Cik, gue juga ngantuk banget."
Merekapun tertidur dengan pulas.
...
Kling klung..
Bel rumah berbunyi berkali-kali, dimana itu Garil dan Exel yang menunggu didepan rumah selama beberapa menit. Sementara Shena dan Chika masih pulas tertidur, Chika yang mendengar lalu membangunkan lirih Shena dengan mata tertutup dan nada lemas.
"Sen.. itu siapa sih berisik banget!" menyenggol tangan Shena beberapa kali.
Bangun Shena mengusap wajah dengan mata yang masih tertutup, "Apa sih Cik.."
"Itu.. bel rumah lo."
__ADS_1
Spontan Shena terbangun terkejut karena teringat Garil yang mengatakan kalau dia akan datang kerumahnya.
"Hah, Garil!"
Dengan nyawa yang belum terkumpul, Shena bergegas bangkit dari tidurnya. Chika yang mendengar Shena menyebut nama Garil spontan terduduk.
"Garil!"
Tergesa Shena untuk keluar, namun ia justru lupa membuka pintu dan membuatnya menabrak pintu dan jatuh terpental. Teriaknya kesakitan sambil memegang kening, memuncungkan mulut dengan wajah lucu.
"Aduhh, kepala gue kepentok pintu."
Tawa geli Chika melihat Shena terjatuh, "Hha.. Makannya Sen, kalau bangun tidur tu kumpulin dulu tu nyawa. Melek aja belum udah main cabut aja, kepentok pintu deh tu kepala. Hha hha.."
"Ihh apaan sih lo Cik. Bukannya bantuin, malah ketawa. Bahagia diatas penderitaan orang lain," segera berdiri dengan wajah cemberut.
Ledek Chika melihat kening Shena yang memegang, melongo Shena dan berlari kecil menuju cermin.
Chika hanya tertawa melihat tingkah Shena, dan menyuruhnya segera menemui Garil yang mungkin sudah lama menunggu.
"Oh iya, sampek lupa" lirih Shena.
"Hati-hati, awas tu pintu lo tabrak lagi" tawa lirih Chika.
Garil sedikit mengeluh dan bertanya pada Exel kenapa mereka lama sekali membuka pintu, Exelpun mengatakan kalau dia juga tidak tahu dan menyuruh Garil kembali menekan bel.
"Siapa tau mereka nggak kedengeran."
__ADS_1
"Iya.. sebentar.." teriak Shena berlari kecil.
Membuka pintu melihat Garil dan Exel sudah didepan rumah, lalu meminta maaf dan bertanya apakah mereka sudah lama menuggu.
"Nggak kok, malah kurang lama" candaan Exel.
Senyum garing Shena, "Hhe, ya sorry. Gue tadi ketiduran."
"Hmm pantesan. Oh iya dimana barang-barangnya?. Udah selesai beres-bereskan?"
"Udah kok, aman. Ayo masuk dulu" kata Shena.
Tik tik tik..
Chika turun menghampiri mereka dan menyapa.
"Hai" sahut Garil dan Exel.
Exel berjalan menghampiri Chika, "Seger banget tu muka bangun tidur. Liat nih muka gue, sampek kering nungguin kalian keluar."
Tawa Chika, "Haha.. ya maaf ayank."
Garil menatap Shena dan melihat tanda merah dikeninggnya, lalu bertanya pada Shena luka apa itu. Chika menjawab sekaligus menggoda Shena.
"Tadi tu dia masih tidur, terus denger bunyi bel dan keinget lu. Jadi dia buru-buru bangun padahal matanya masih merem. Saking senengnya sampek-sampek pintu itu nggak dibuka lagi. Jadi kayak gitu tu, kepentok pintu hhe."
Shena menyangkal, "Ihh sembarang. Nggak ada, bukan gitu ya. Orang tadi gue refleks, dahlah nggak usah dibahas. Kan lo tadi niatnya mau bantuin gue, yaudah ayo bantuin (menarik tangan Garil)."
__ADS_1
"Hmm malu-malu meong" lirih Chika.
***