BERIKAN AKU CAHAYAMU

BERIKAN AKU CAHAYAMU
Sakit


__ADS_3

Pagi hari dimana jam menunjukan pukul 07:00 WIB, Shena keluar dari kamar mandi melihat Chika yang masih tertidur dengan selimut di sekujur tubuh dan segera membangunkannya. Memegang pundak Chika dengan sedikit kaget merasa suhu tubuh yang begitu panas, Shena pun meletakkan telapak tangannya dikening Chika.


Lanjut Shena, "Cik, lo demam?. Biar gue panggil dokter ya" muka panik


"Nggak, gue nggak papa kok. Gue cuma demam ringan aja, bentar lagi juga udah sembuh. Udah, lo berangkat aja nggak usah khawatirin gue" lirih Chika.


"Gue kompres dulu aja, biar panas lo reda."


Shena berjalan mengambil air kompres lalu mengompres dikening chyika sambil berkata lirih kalau dia tidak akan berangkat ngampus untuk hari ini dan akan menemaninya. Chika melarang Shena absen dan menekannya untuk segera berangkat dengan mengatakan kalau dia akan baik-baik saja.


"Tapi cik.." terhenti.


"Udah lo berangkat aja, nggak usah berlebihan deh. Gue beneran nggak papa kok, sekarang lo siap-siap terus berangkat ya" lembut Chika.


Sejenak Shena mentap dan mengangguk lirih segera bersiap-siap, mengambilkan air putih dan obat menyuruh Chika meminumnya nanti.


"Lo beneran nggak papa?"


Balas Chika, "Iya, udah buruan berangkat. Tu liat jam berapa."


Senyum tipis Shena menyuruh Chika untuk istirahat lalu bergegas pergi, berjalan dengan kunci mobil ditangannya mencoba membuka pintu. Sedikit terkejut melihat ban mobilnya yang tiba-tiba kempis sambil ngedumel.


Lanjut Shena sedikit kesal sambil memegang kening, "Kalo gue ke bengkel dulu, udah pasti gue telat. Resek banget sih ni mobil."


Dengan terpaksa, Shena pun menghentikan dan memutuskan untuk naik taxi hari ini.


"Cepat dikit ya pak."


Beberapa saat..


Tiba di depan gerbang kampus, turun dari taksi dengan tergesa menuju kampus dan segera masuk. Saat diaula kampus, Dara yang melihat Shena segera menghampiri dengan wajah kesal.


"Wahh, seneng banget ya. Yang semalem abis diner. Dasar cewek caper, sok cantik" kasar Dara.


"Iya dasar cewek caper, mana tuh temen lo yang gatel itu" lanjut Raya.


Kerut alis Shena, "Lo ngomongin gue, apa diri lo sendiri?. Lagian, kalaupun gue sok cantik juga kenapa, lo ngerasa tersaingi?. Nggak penting banget sih" berjalan pergi.


Memasang muka kesal menggeramkan tangan, lirih Dara mengatakan kalau dia akan membuat perhitungan terhadap Shena.


Raya mengompori, " Bener banget Dar, biar tau rasa tu dia."


Shena masuk keruang kuliah dan segera duduk di kursinya, tidak berselang lama dosenpun ikut masuk dan memulai mata kuliah. Fokus Shena mendengar penjelasan dari dosen dan dengan aktif menjawab pertanyaan yang diberikan, sesaat Shena teringat Chika dengan membatin bertanya pada dirinya sendiri.


"Chika gimana ya, gue jadi cemas. Semoga aja demamnya udah turun" memainkan pena.

__ADS_1


Kringg..


Jam istirahat berbunyi, beberapa teman kampus Shena mengajaknya untuk kekantin bersama. Dengan senyum tipis Shena menyuruh mereka untuk pergi duluan dan akan menyusul nanti.


Lanjut temannya, "Yaudah, kita duluan ya."


Shena tersenyum mengangguk, mengambil gadget dari tas dan mengirim pesan pada Chika apakah dia baik-baik saja. Menunggu sebentar, Chika membalas kalau dia sudah merasa mendingan dari sebelumnya. Melihat itu Shena tersenyum senang mematikan gadget dan menutup buku lalu bergegas menuju kantin.


Saat membuka pintu berjalan keluar ruangan dengan kaget melihat Garil yang sudah ada dibalik pintu bersama Exel.


"Astaga!" kaget shena memegang dada.


Garil dan Exel tersenyum mengucapkan selamat pagi, kerut kening Shena sambil bertanya kenapa mereka ada di depan ruangannya.


"Nyari lo, lo mau kekantin kan?. Biar kita temenin" seru Garil.


"Oh iya, temen lo dimana?" tanya Exel melirik mencari Chika.


Shena menjawab kalau Chika sedang sakit, kaget exel dengan bertanya kenapa Chika bisa sakit. Shena menjawab dengan santai kalau dia juga tidak tau lalu berjalan pergi. Disepanjang jalan menuju kantin Garil dan Exel mengikuti Shena dengan pertanyaan-pertanyaan konyolnya yang membuat Shena bingung dan risih.


"Astaga, kalian bisa diem nggak sih!. Ngapain juga ngikuti gue, pergi!" kesal Shena.


Senyum santai Garil, "Nggak."


Shena memasang muka bete berjalan cepat menuju kantin mengambil minum dan memesan bakso lalu segera duduk. Garil dan Exel mengikuti, duduk dan bicara pada Shena kalau dia akan menjenguk Chika setelah pulang ngampus nanti.


Lanjut garil, "Oh iya, lo tadi naik (terhenti).."


Shena sedikit kesal memasukkan bakso kemulut Garil menyuruhnya untuk diam dan tidak berisik, Exel tertawa lirih mengejek Garil kalau jadi cowok jangan rempong. Sedikit nyolot Shena membalas Exel dengan mengatakan kalau dia juga sama saja, memasang muka kesal berjalan meninggalkan makanannya dan menyuruh Exel membayar.


"Lah kok gue" lirih Garil sedikit bingung dengan bakso dimulutnya.


Menyalahkan Exel, lalu mengambil bakso dan ikut memasukan kemulut Exel.


"Makan tu, lo yang bayar. Bik!, baksonya dibayarin sama Exel" teriak Garil pada penjaga kantin.


"Kenapa jadi gue, resek lo (teriak exel).


Tapi enak juga sih, mubazir kalo nggak dimakan" mengambil bakso lalu memakannya.


Garil menyusul Shena berjalan sedikit cepat di belakangnya dengan spontan Shena berbalik badan, tidak sengaja Garil menabraknya membuatnya hampir terjatuh dan sigap menangkap. Tertegun sebentar saling menatap, Shena mengerutkan kening mendorong Garil dengan kesal.


"Lo ngapain sih ngikutin gue terus!. Jauh-jauh dari gue deh" menatap sinis Garil.


Shena berjalan pergi dan di susul Garil yang meminta maaf dengan senyum tipis.

__ADS_1


"Lo tadi berangkat naik apa?"


"Naik unta" kesal Shena.


Sedikit menahan tawa, "Nggak gitu juga, maksud gue kalo lo nggak naik mobil bisa bareng gue kok."


"Gue pikir-pikir dulu" cuek Shena berjalan masuk ruang kampus.


Garil mencoba menyusul, tiba-tiba dosen datang memanggil dan bertanya akan pergi kemana dia. Karena ini bukan ruangannya, lalu menyuruh untuk masuk ke ruang kampusnyap.


Gugup Garil dengan senyum garing, "Hhe, i-iya pak kelewatan. Kirain tadi disini ruangannya, permisi Pak."


Pak Tono menggelengkan kepala menyebut lirih nama Garil.


Jam kampus berakhir..


Seperti biasa setiap pulang Shena akan mengembalikan beberapa buku yang dipinjam dari perpustakaan. Mahasiswa/i sesi pagi pun pulang satu persatu dan Shena berjalan menuju ruang perpus yang sudah sepi dan tidak ada orang.


Klukk..


Membuka pintu dan segera masuk, dimana Dara dan Raya yang melihat Shena masuk perpustakaan. Berjalan mengendip-endip menguncinya dari luar lalu pergi dengan membawa kunci perpustakaan.


Lirih Dara, "Rasain lo."


Shena membuka pintu dengan sedikit kaget karena pintunya tidak bisa dibuka, mencoba beberapa kali tetap tidak bisa. Berteriak sambil mengetuk-ngetuk pintu meminta tolong.


"Ahh resek siapa yang ngerjain gue, tolong!.. tolong bukain!.." teriak Shena berulang kali.


Raya menatap dara bertanya apakah tidak apa-apa menguncikan shena di perpustakaan, Dara menjawab santai untuk tidak perlu khawatir karena nanti pasti ada yang membukakan.


"Ahh elah (kesal Shena), oh iya hp (mengambil hp di tas). Astaga, pakek acara lowbat segala" kembali berteriak meminta tolong.


Garil yang baru keluar dari WC mendengar suara meminta tolong dan segera mendekat, saat didekati ternyata itu suara Shena yang terkunci.


"Garil" lirih Shena.


Shena berteriak meminta tolong untuk membukakan pintu, Garil mencoba membantu dan menanyakan dimana kunci pintu itu. Shena menjawab kalau kuncinya ada disitu, ucap Garil mengatakan kalau kuncinya tidak ada.


Sahut Shena, "Kayaknya gue dikerjain deh."


Pak Tono lewat, Garil menghampiri dan menanyakan apakah ada kunci serep perpustakaan karena Shena terkunci didalamnya. Pak Tono menjawab kalau kuncinya biasa tergabung jadi satu dan jika kampus belum tutup kuncinya masih tergantung di pintu. Garil sedikit bingung mengatakan pada pak tonyo bagaimana mengeluarkan Shena, Pak Tono pun menyuruh Garil mendobrak saja pintu itu.


Setuju Garil, berteriak pada Shena untuk sedikit menjauh karena dia akan mendobrak pintu itu. Beberapa ia mencoba dan belum berhasil, di percobaannya yang ke-4, dengan dorongan sedikit kencang akhirnya berhasil. Tapi karena terlalu kencang mendobrak membuatnya melaju kencang kedepan dan menabrak Shena, merekapunl terjatuh bersama.


Pak Tono yang melihat sedikit kaget dengan wajah humor, sejenak saling menatap, kedip mata Shena mendorong Garil dan segera bangkit sambil mengelap-elap baju.

__ADS_1


"Ihh cari kesempatan banget sih lo" berdiri mengambil tas.


***


__ADS_2