
Keesokan hari, setuju Yola menemui Sandi dan sudah menunggunya cukup lama di Cafe Great. Dumel kesal Yola melihat kesana-kemari mencari Sandi yang tak kunjung datang.
"Kemana sih tu orang, janji siang tapi jam segini belum datang!"
Tak berselang lama sandi datang dengan senyum sumringah menyapa Yola, tatapan datar Yola tak ingin lagi basa-basi.
"Siang, Bos?" ucap Sandi.
"Udah, nggak usah basa-basi lagi, kamu udah buang banyak waktu saya. Sekarang serahin semua bukti itu."
"Sabar Bos, sabar. Bukti itu sudah saya bawa, apa Bos udah siapin uang yang saya minta?"
Hela nafas Yola menahan emosi, membuka tas dan memberikan cek sebesar 500jt sesuai kesepakatan. Senyum Sandi mengambil flashdisk berisi barang bukti kejahatan Yola. Secara bersamaan, mereka memberikan barang yang diminta masing-masing pihak.
Sebelum memberikan cek, Yola meminta ponsel Sandi untuk mengecek apakah kali ini Sandi memang bisa dipercaya.
"Nggak percaya banget sih, Bos" memberi ponsel.
"Karena lo nggak bisa dipercaya, dan kali ini gue nggak mau ambil resiko besar. Gue udah banyak rugi karena satu hal sepele ini!"
Beberapa menit, Yola mengembalikan ponsel Sandi karena mengetahui tidak ada bukti tersembunyi di ponselnya.
__ADS_1
"Nih ambil ponsel lo, dan ini cek yang lo minta. Tapi kalau kali ini lo bohongin gue, lo akan terima akibatnya."
"Tenang Bos, sekarang semua bukti ada ditangan Bos. Kali ini, saya nggak akan ganggu lagi. Terimakasih, Bos" ucap Sandi lalu pergi.
Tajam Yola menatap flashdisk, dan segera pergi meninggalkan cafe untuk melihat isi flashdisk saat tiba dirumah. Sambil berjalan, Yola memasukkan flashdisk itu kedalam tasnya. Namun, tak sengaja salah seorang pengunjung menabraknya dan membuat flashdisk itu jatuh terpental.
"Aduh Mas, kalau jalan hati-hati dong!"
"Maaf Mbak Maaf, saya nggak sengaja."
Lanjut Yola berjalanya tanpa menyadari bahwa flashdisknya telah terjatuh.
"Kamu kenapa sih sayang, kamu laper?. Daritadi megang perut terus."
"Hehe, iya sayang. Nggak tau deh, kenapa hari ini bawaannya laper mulu ni perut."
Senyum Davin dengan penuh pengertian mengajak Sevi untuk makan terlebih dahulu, mobilnya pun langsung berhenti didepan sebuah Cafe yang tidak lain adalah Cafe Great.
"Udah sampek aja" gurau Sevi.
"Ia dong, aku kan sat set."
__ADS_1
Keluar mereka dari dalam mobil, sweet Davin menggandeng tangan Sevi. Saat akan masuk ke dalam cafe langkah kaki Sevi terhenti saat ia merasa ada suatu benda yang terinjak.
"Kenapa sayang?" tanya Davin.
Tunduk Sevi sambil mengangkat kakinya, melihat sebuah flashdisk.
"Flashdisk?" lirih Sevi.
Merunduk Sevi mengambil flashdisk itu, ucap Davin dengan santai menyuruh Sevi untuk membuang saja flashdisk itu karena mungkin saja itu hanya flashdisk rusak.
"Masak sih, tapi masih bagus sayang. Aku ambil aja ya, siapa tau ini flashdisk punya orang yang nggak sengaja jatuh kan."
Angguk Davin, "Iya juga sih. Yaudah, kamu simpen aja dulu.
...
Tiba dirumah, terus Yola mencari flashdisknya yang tak juga ia temukan dengan panik. Sejenak ia teringat saat seorang pria menabraknya, dan ia pun mengira kalau flashdisknya mungkin terjatuh.
"Atau jangan-jangan flashdisknya jatuh?. Hah, bego banget sih! (memukul meja). Semoga aja flashback itu bener-bener hilang dan nggak ada yang nemuin" memegang kepala dengan bingung.
...
__ADS_1