
Next, masih lanjutan episode sebelumnya!.
Tiba di taman, Garil mengajak Shena untuk turun dan bergegas keluar membukakan pintu. Keluar dari mobil, merekapun segera bersiap-siap jogging dengan berlari kecil beriringan.
...
Berlari lebih dari 30 menit dengan keringat yang keluar dari tubuh mereka, lirih Garil mengejek Shena apakah dia masih kuat.
"Kuat dong. Kenapa?, lo capek"
Garil menggelengkan kepala dan membalas kalau dia tidak capek, justru dia merasa sangat senang.
Beberapa menit kemudian, Garil mengajak Shena untuk beristirahat dan menyuruhnya duduk di kursi. Angguk shena dengan senyum dan segera duduk mengelap lirih keringat dengan baju.
Garil mengelap lirih wajah Shena dengan kain yang sudah dia bawa sebelumnya sambil menatap lembut, tertegun Shena menatap Garil. Tersadar, Shena langsung mengambil kain lap dari tangan Garil dengan gugup.
"Gu- gue bisa lap sendiri" memalingkan pandangan.
Garil berjalan pergi, teriak Shena dan bertanya pada Garil dia akan pergi kemana. Garil berjalan menyuruh Shena untuk menunggunya sebentar dan mengatakan kalau dia tidak akan lama.
Keluh Shena menunggu Garil yang tak kunjung datang dan mengira kalau dia telah di tinggal sendiri. Tak lama, Garilpun datang dengan membawa air minum.
"Lo kemana aja, lama banget."
Goda Garil, "Kenapa, kangen?."
Salting Shena dan memalingkan pandangan, "Apaan sih, orang cuma nanya."
Senyum senang Garil lalu memberikan minuman yang sebelumnya ia beli, "Nih, gue beliin minum. Tadi yang jual jauh, jadi lama. Sorry ya."
"Makasih.."
Kesulitan Shena saat membuka tutup botol, penuh pengertian Garil mengambil botol minum dari tangan Shena dan membukakannya.
__ADS_1
"Sini, biar gue yang bukain."
Senyum Garil, lirik Shena bertanya pada Garil kenapa ia senyum-senyum seperti itu. Garil membalikkan pertanyaan pada Shena dan bertanya apakah senyum itu di larang.
"Ya, nggak sih. Yaudah lah, terserah lo deh."
...
Kring kring..
Tak lama penjual eskrim lewat, teriak Garil memanggil dan memesan 2 eskrim untuknya dan Shena. Tersenyum Shena mengucapkan terimakasih dan memakan eskrim itu begitu lahap.
Wuss wuss..
Tiba-tiba angin datang dengan kencang, membuat debu beterbangan dan masuk ke mata Shena.
Lirih Shena sambil mengelap mata, "Aduhh."
"Kenapa?"
Garil menyuruh Shena tenang dan membuka mata sambil meniup lirih beberapa kali, Shena mengucek matanya dengan sakit dan tanpa di sadari es ditangannya mengenai wajah Garil. Garil tetap tenang dan terus meniup matanya.
"Sakit sih sakit, tapi es lo jangan dikenain muka gue dong" senyum Garil.
Sambil mengucek lirih matanya, Shena mengatakan kalau matanya sudah baik-baik saja. Membuka pelan mata melihat Garil dengan sedikit kaget dan senyum geli bertanya pada Garil kenapa wajahnya begitu cemong.
Tawa Garil, "Siapa lagi kalo bukan lo yang buat."
"Hha hha astaga. Sorry sorry, sini sini biar gue bantu bersihin."
Tenang Garil menatap lembut melihat tawa lepas diwajah Shena, tertegun sebentar saling menatap dan tersadar sedikit gugup mengatakan kalau wajahnya sudah bersih.
Lanjut Shena menatap langit berkata pada Garil sepertinya malam ini akan turun hujan, Garil ikut menatap dan mengiyakan lalu mengajaknya untuk pulang.
__ADS_1
Mereka berjalan menuju mobil, baru setengah perjalanan tiba-tiba hujan sudah mengguyur tubuh mereka. Garil mencoba melindungi Shena dari hujan dan menggandeng tangannya, saat akan masuk mobil Shena malah menarik tangan Garil dan bertanya apakah dia tidak ingin bermain-main dengan hujan.
berjalan Shena ke depan mobil diiringi Garil yang menyusulnya, "Hujan itu indah dan dia juga baik, dia mampu menutupi kesedihan seseorang dan juga membuat orang yang berada dibawahnya bisa merasa begitu bahagia. Walaupun rintiknya sakit, tapi dia mampu mendinginkan hati yang panas (berbaring didepan mobil sambil menutup matanya menikmati hujan)."
Garil ikut berbaring bersama Shena, "Terus kenapa.. ketika hati lo sedih, lo nggak berdiri dibawah rintik hujan tanpa harus menutup diri."
Bukw mata Shena menatap Garil dan mengatakan kalau semenjak mamanya meninggal 2 tahun yang lalu dia sudah tidak pernah merasakan dinginnya air hujan, karena dia merasa kebahagiaannya sudah berakhir dan nggak perlu di cari lagi.
Garil berdiri mengajak shena menyuruhnya untuk menatap hujan, "Lo bilang rintik hujan sakit kan (lembut Garil). Saat hujan jatuh dia juga ngerasain hal yang sama yaitu sakit, tapi coba deh lo liat. Meski dia sakit tapi dia nggak berhenti untuk menebar kebahagian dan manfaat buat orang-orang, sama halnya kamu yang harus bisa menebarkan kebahagiaan sama banyak orang (memegang pundak Shena dan saling menatap)."
Sahut Shena, "Tapi dia beda."
Lembut garil, "Iya beda. Di benda mati, sementara kamu bernyawa kan?. Tapi masak iya sih kamu yang bisa berjalan, yang bisa berlari kesana kemari, yang bisa melihat indahnya dunia harus insecure sama hujan. Karena yang namanya kita hidup itu ya harus saling melengkapi. Terus larut dalam kesedihan itu nggak baik, dan terlalu senang dengan keadaan juga nggak baik. Kamu paham kan?" tersenyum.
Angguk Shena tersenyum lembut menatap wajah Garil, lirih Garil membelai wajah dan membenarkan rambut Shena.
"Thank you" lirih Shena.
"Main hujan?" ajak Garil.
Angguk Shena membalas dengan senyum dan bercanda asik bermain air hujan. Garil memasang bunga kecil di rambut Shena yang membuat Shena terlihat cantik dengan tawa riang diwajah mereka. Letih mereka membaringkan badan di atas mobil sambil bergandeng tangan.
Garil menatap romantis, "Kamu percaya nggak sih, kalo dibalik hujan itu ada pelangi yang indah."
Senyum Shena membalas dengan wajah tidak percaya, "Ya ngggak lah. Kan malem, mana ada pelangi."
Isyarat Garil, "Ya ada lah, masak kamu nggak liat sih."
Tertegun Shena sambil menatap bingung dan tersadar kalau yang dimaksud Garil adalah dirinya. Ia tersenyum salting dan berkata kalau Garil hanyalah cowok modus, Garil yang baru pertama kali melihat Shena tersenyum lepas pun ikut bahagia.
"Foto yuk?" ajak Garil.
Shena tersenyum mengangguk setuju, merekapun berfoto dan tertawa dengan begitu bahagia bercanda saling mengejek.
__ADS_1
Next episode👇.