
Didalam kamar mandi menatap kaca sambil mengeringkan rambut dengan handuk, melirik tidak sengaja melihat kemeja dan teringat kalau itu milik garil yang lupa ia kembalikan. Perlahan shena mengambil kemeja menatap tersenyum sambil mengingat garil, memeluk hangat kemeja itu mencium aroma parfum yang masih melekat.
Keluar dari kamar mandi tersenyum dengan kemeja yang masih didekapnya dan terduduk dikasur. Chika memakan ciki sambil membaca buku, melihat tingkah shena mengerutkan kening sekejap menghentikan suapannya.
"Lo kenapa sih sen, senyum-senyum gitu." Mata chika melirik pada kemeja yang dipegang shena.
Shena hanya membalas dengan senyum.
"Ohh.. karena kemeja itu. Hemm, dulu aja bilang nggak mau. Tapi sekarang, ahh sudahlah aku tahu." Goda chika.
"Siapa yang bilang nggak mau?." Spontan shena.
"Berati mau dong lo." Menyodorkan wajah mendekat pada shena semakin menggoda.
Gugup shena, "Ya-ya, nggak gitu maksud gue. Apaan sih lo, nggak usah jadi kompor deh."
Chika menatap dengan senyum mengejek,
shena mencoba mengalihkan pembicaraan menaruh kemeja diatas kasur menggulingkan badan mengambil ciki ditangan chika.
"Lagian, lo tumben banget baca buku. Kesambet apa lo."
"Yehh lo mah ngejek gue. Ini nih, gue tadi liat-liat buku lo dan kebetulan gue ngeliat ada buku ini."
"Buku apaan?." Memakan ciki melirik.
__ADS_1
"Hubungan toxic (memperlihatkan buku). Yaa.. biar nambah wawasan gue aja."
"Iya deh.. mau lo baca semua tu satu rak buku juga nggak papa."
Lirih chika memanggil shena perlahan mencoba menanyakan tentang ayahnya yang sudah tidak terlihat dan apakah ayahnya memang sudah benar-benar tidak perduli padanya.
Senyum santai shena mengangguk, "Ya.. gimana ya. Kalau dia perduli sama gue, pasti sekarang dia nyariin gue kan cik. Tapi.. itu kan nggak terjadi. Jadi lo bisa ngartiin sendiri lah."
Lanjut shena berbaring dengan tangan memegang kemeja garil, "Tapi gue masih menaruh harapan, semoga ayah gue bisa berubah jauh jauh lebih baik lagi suatu saat nanti."
Chika memuji, "Tapi gue salut sih sama lo sen. Lo bisa kuat ngadepin sifat ayah lo yang kayak gitu selama bertahun-tahun lo."
Shena menjawab dengan candaan, "Hha, kalo gue kuat nggak mungkin gue kabur dari rumah cik. Udahlah, intinya sekarang kita ikutin aja alur kehidupan ini bakal bawa kita kemana."
Chika mengangguk tersenyum.
Sesaat..
Ponsel shena berbunyi, perlahan merayap-rayap mencari ponsel di bawah badannya. Melihat ponsel yang mana itu notif dari garil yang mengajaknya untuk pergi keluar saat libur kuliah besok.
"Kemana?." Balas shena.
Lanjut garil, "Terserah kamu. Mau ngemoll, makan, nonton atau kemana gitu."
"Tumben banget lo ngajakin gue. Ada apa?."
__ADS_1
"Ya nggak ada apa-apa, kan mumpung libur mending kita healing. Masak iya hidup mau ditumpuk sama tugas kuliah terus, sekalian cari momen juga."
"Gowes aja." Seru shena.
Shena menatap ponsel sambil tersenyum senang, chika melihatnya heran bertanya.
"Lo kenapa sih sen?.." Tertawa heran.
Shena pun mengajak chika untuk ikut gowes bersamanya besok.
Sahut chika menatap melotot, "Tumben lo ngajak gue. Biasanya aja kalo gue yang ngajak lo nggak mau."
"Ya.. sama garil juga." Ucapnya mengulur.
Sedikit chika melempar ejekan pada shena dan mengiyakan ucapannya.
...
Sesaat..
Beberapa kali chika memanggil shena tapi ia tidak menjawab, chika mencoba melihat perlahan dan ternyata shena sudah tertidur dengan sebelah tangan memegang ponsel dan mendekap kemeja garil.
"Lahh.. tidur dia, pantesan gue manggil diem aja. Pakek acara meluk kemeja garil lagi, soswett banget sih.." Lirih chika.
Tawa lirih chika mengambil ponsel sambil memfoto shena yang pulas tertidur.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak ya shay🤗.