
Bingung Sevi melihat tingkah Yola yang begitu emosional saat berhadapan dengannya, ia yang merasa di pojokan saat itu pun mencoba menjelaskan pada tunangan Garil itu apa yang sebenarnya terjadi agar tidak terjadi salah paham. Namun, karena merasa begitu kesal, Yola pun langsung memotong pembicaraan Sevi dan menghinanya.
"Bisa-bisanya ya lo, udah deketin Davin, dan sekarang lo deketin juga abangnya. Bener-bener cewek nggak tau malu ya lo!" teriak Yola dengan kasarnya pada Sevi.
Toleh orang-orang yang berada di dalam resto karena merasa terganggu. Tekan Garil meminta Yola untuk menghentikan tindakan kekanak-kanakannya itu.
"Gue nggak peduli!" keras Yola.
Pemilik resto yang mendengar keributan itupun langsung turun tangan, tegurnya meminta agar mereka menyelesaikan masalah pribadi dan tidak mengganggu kenyamanan pengunjung yang lain. Wajah bersalah Garil meminta maaf pada pemilik resto atas keributan yang terjadi, ia lalu menarik tangan Yola dan mengajaknya keluar restoran. Lirih Garil juga meminta maaf pada Sevi atas sikap Yola padanya, lirik Sevi hanya membalas dengan anggukkan.
Geram Yola menatap sinis Sevi karena merasa di permalukan, kesalnya langsung melempar keras tangan Garil dan berjalan pergi. Geleng Garil merasa kewalahan dengan sikap Yola yang menurutnya begitu labil, lalu berjalan menyusul Yola.
__ADS_1
Hela nafas Sevi membelai rambut, perlahan meraih dan duduk di kursi kosong yang ada di sebelahnya.
"Hah, ada-ada aja deh. Cuma mau makan, ada aja dramanya. Lagian lo juga sih Sev, ngapain pakek acara sakit kepala segala" lirihnya ngedumel dengan diri sendiri.
Disisi lain perdebatan antara Garil dan Yola masih berlangsung di luar resto, lelah Garil melihat tingkah Yola yang selalu mempermasalahkan hal kecil dan tidak penting.
"Gue capek Yol, gue capek sama tingkah ke kanak-kanakan lo ini!. Kayaknya emang hubungan kita udah nggak sehat, dan akan lebih baik kalau kita akhiri hubungan kita sampek disini" lanjut Garil segera masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Yola.
Bujuk Yola dengan wajah cemasnya meminta Garil untuk tidak meninggalkannya, namun Garil tetep tidak mendengarkan Yola karena ia merasa memang sudah tidak ada kecocokan lagi antara dirinya dengan Yola sejak Yola pergi meninggalkannya kala itu.
"Nggak, Garil nggak boleh mutusin hubungan kita gitu aja. Aku nggak akan biarin kamu pergi dari aku Garil, aku nggak akan biarin itu!. Kamu itu, cuma milik aku. Kalau aku nggak bisa miliki kamu, yang lain juga nggak akan bisa!" senyum tangis Yola.
__ADS_1
Sambil mengendarai mobil, Yola terus menangis bingung apa yang harus ia lakukan agar Garil kembali ke pelukannya.
"Sekarang gue harus apa, gue harus apa!" emosinya melampiaskan pada barang yang ada di dalam mobil.
Henti mobil Yola di sebuah tempat dan bergegas turun, berjalan lirih ia masuk ke dalam sebuah bangunan yang tidak lain adalah klub malam. Karena menurutnya, perasaannya akan lebih tenang jika ia berada di tempat itu. Tak ingin terlalu bersenang-senang, Yola pun hanya memesan secangkir minuman untuknya.
Tak sengaja, pertemuan Yola dan Vano pun kembali terjadi saat mereka berada di tempat yang sama. Senyum Vano saat melihat Yola dan segera menghampirinya, Yola yang tak ingin basa-basi langsung menaruh gelas dan bergegas pergi menjauh.
Sett..
Vano langsung memegang tangan Yola, dengan tenangnya sambil memainkan mata ia meminta Yola untuk tetap duduk. Terus Yola menolah dan mengatakan kalau ia ingin pergi sambil melepas keras pegangan tangan Vano.
__ADS_1
"Yola, Yola.. kamu nggak perlu menghindar kayak gini dari aku. Aku tau kamu, segelas minuman (mengusap lembut gelas minuman yang tersentuh bibir Yola), nggak akan membuat kamu tenang (mengangkat gelas dan meminta 1 tuang minuman ke dalam gelas Yola)" lembut Vano memberi gelas pada Yola.
***