
4 hari berlalu, dimana Shena masih seperti sebelumnya termenung dan selalu mengurung diri di kamarnya. Lirih Chika masuk kekamar sambil memegang lembut pundak Shena dan mengatakan kalau ada Garil yang ingin bertemu dengannya sedang menunggu dibawah. Geleng Shena dengan wajah lesu tak semangat tanpa setitik senyum diwajahnya.
"Ayolah Sen, sebentar aja coba temui Garil. Kasian lo dia, dia selalu nanyain kamu dan pengen ketemu sama kamu. Dia juga khawatir sama kamu, temuin dulu yuk sebentar aja" bujuk Chika.
Lirik datar Shena mengangguk perlahan, senyum Chika mencoba membantu Shena berdiri.
"Nggak, gue bisa kok."
Senyum senang Garil melihat Shena yang sudah mau menemuinya, segara ia berdiri menghampiri Shena dan langsung memeluknya. Senyum tipis Chika pergi meninggalkan mereka berdua, sedih Shena berada dipelukan Garil. Lirih Garil melepaskan pelukannya sembari memegang pipi Shena dan menatapnya lembut.
"Aku kangen banget sama kamu."
"Kamu mau ngapain kesini?. Kan aku udah bilang, kamu nggak perlu lagi nemuin aku" lemas nada Shena.
Garil pun mencoba menghibur Shena dan mengajaknya untuk keluar mencari udara segar yang bisa menenangkan hati dan pikirannya, tolak Shena kalau ia sedang tidak ingin pergi. Bujuk Garil terus merayu Shena agar ia mau ikut, karena ia juga tidak tega melihat Shena yang terus merenung dan mengurung diri didalam kamar.
"Kenapa kamu keras kepala benget sih."
"Terserah, kalau kamu keras kepala. Aku juga bisa lebih keras kepala dari kamu."
__ADS_1
"Aku nggak mau, mending kamu pulang aja."
Hela nafas Garil dengan senyum tipis tanpa basa-basi menggenggam tangan Shena dan menariknya paksa untuk keluar. Lirih Shena meminta Garil untuk melepaskan tangannya karena ia tidak mau ikut, kekeh Garil tak mendengarkan ucapan Shena kali ini. Langsung menuju mobil dan membukakan pintu lalu menyuruh Shena untuk masuk, terhenti Shena terus menolak.
"Nggak mau, kamu mau ajak aku kemana!" tekan Shena dengan nada lemasnya.
"Kamu jangan bawel, sekarang kamu masuk dulu ya sayang" lembut Garil mengucap sedikit memaksakannya.
Intip Chika, melihat Shena dan Garil yang sudah tidak ada di ruang tamu. Harapan Chika pada Garil semoga ia bisa mengubah emosi Shena menjadi stabil dan kembali ceria seperti dulu lagi.
Ditengah perjalanan, Shena kembali melemparkan pertanyaan pada Garil kemana ia akan membawanya. Senyum tipis Garil mengatakan kalau ia akan membawanya ke suatu tempat yang akan membuat pikirannya lebih tenang, lesu Shena tak menjawab dan hanya terdiam. Kerut bibir Garil mengelus lembut kepala Shena, toleh Shena dengan mata sayunya.
"Shena yang dulu udah nggak ada. Hidupnya udah hancur, sehancur itu. Kebahagiannya udah hilang, dan nggak tau apa yang harus dia pertahankan sekarang." ucap Shena dengan mata berkaca-kaca.
Air mata yang tak terben perlahan menetes, dengan lembutnya Garil mengusap air mata itu.
"Apa ini?, Shena itu cewek yang kuat."
"Shena yang sekarang udah nggak punya kekuatan Garil" sesak tangis Shena menutup wajah dengan telapak tangan.
__ADS_1
Citt..
Tiba-tiba Garil menghentikan mobilnya dan bergegas turun membukakan pintu untuk Shena. Merunduk menatap lembut dan menghapus air mata Shena, lalu mengajaknya untuk segera turun.
Heran Shena menatap sekitar, yang mana mereka berhenti disebuah tempat yang sepi. Tanya Shena pada Garil kenapa ia membawanya ketempat ini.
"Sekarang kamu bisa nangis dan teriak sekenceng-kencengnya disini, kamu bisa luapin emosi kamu."
"Buat apa?"
"Coba aja dulu" senyum tipis Garil.
Teriak Shena meluapkan emosinya, menangis sekencang mungkin dan langsung memeluk erat Garil.
"Aku benci.." tangis lirih Shena.
Balas Garil memeluk hangat dan sekejap menutup mata seolah merasakan kesedihan yang Shena rasakan.
***
__ADS_1