
Pulang ngampus, Shena bersama fidin berjalan menuju perpustakaan untuk meminjam beberapa buku yang mereka perlukan untuk presentasi kelompok yang ditetapkan dosen.
Saat masuk kedalam perpustakaan Shena melihat Garil bersama Yola, Shena pun memanggil lirih garil dan menghampirinya. Tatapan tajam Garil pada Fidin.
"Kamu disini juga?," Tanya Shena.
Angguk lirih garil melemparkan pertanyaan yang sama, sahut Shena mengatakan kalau mereka meminjam buku karena ada tugas dari dosen.
"Sama," Lirih Garil.
"Kenapa sama dia sih," Bisik Shena pada garil.
"Kamu juga ngapain sama dia sih," Kata Garil.
"Terpaksa."
"Ya sama."
Merekapun segera mencari buku yang akan mereka pinjam. Tatapan tajam Yola yang tak suka pada Shena, mencoba membuat perseteruan antara Garil dan Shena. Ia pun memanfaatkan kesempatan dengan menyerengkal kaki Shena agar ia terjatuh menabrak fidin, rencananya pun berhasil dimana Shena yang tak bisa menyeimbangkan tubuh langsung menabrak dada fidin.
__ADS_1
Saling menatap sejenak, Shena langsung bangkit dan meminta maaf karena kakinya tadi tak sengaja tersandung. Garil menghampiri Shena dan bertanya apakah dia baik-baik saja, angguk shena mengatakan kalau dirinya tidak kenapa-napa.
Yola menahan wajah kesalnya yang tak sanggup melihat Garil memberikan perhatian pada Shena. Selesai meminjam buku merekapun segera keluar bersamaan, tanya garil pada Shena dengan senyum candaan apakah ia perlu mengantarkannya pulang. Yola yang semakin tak tahan dengan kedekatan mereka pun menegur garil untuk sehati ini fokus pada proyek yang akan mereka kerjakan.
Hela nafas Shena, "Yaudah deh, mending kamu hari ini selesain dulu proyek dari dosen. Biar aku juga selesain tugas aku, kamu pulang duluan aja."
"Terus kamu?."
"Hhe, aku kan bawak mobil" Tawa lirih Shena.
Sebelum pergi, garil mendekatkan wajahnya di wajah shena sambil berbisik.
Tawa shena melihat tingkah garil, "Dahh."
Balas garil melambaikan tangan, "Dah.."
...
Tiba dirumah, Shena bersama fidin langsung bergegas mengerjakan tugas mereka. Saling memberi masukan dengan aktif dengan sedikit candaan mereka yang gabut. Iseng fidin bertanya pada Shena apakah chika adalah saudaranya, Shena pun menjawab kalau chika bukan saudaranya tapi ia sudah menganggapnya lebih dari saudara karena ia dan keluarganya sangat baik dan begitu menyayanginya.
__ADS_1
"Jadi setelah mama gue nggak ada, gue dapet kebahagian dan kasih sayang dari keluarga Chika. Mereka bener-benet baik banget" Sahut Shena dengan raut wajah senangnya.
Senyum tipis Fidin hanya mengangguk, dimana sebenarnya ia ingin bertanya soal ayah Shena namun ia tak ingin mengorek luka lamanya lagi.
Sambil mengerjakan tugas presentasi mereka, merek juga sedikit berbincang agar suasana tak begitu kaku.
"Oh iya, kalo boleh tau. Lo sama si garil itu pacaran ya?" Tanya fidin.
Sahut Shena sedikit menyipitkan mata mengejek, "Ngapain lo nanya-nanya gitu, kepo ya.."
Gugup fidin, "E-nggak gitu, ya gue cuma nanya aja. Soalnya gue liat-liat, kalian deket banget."
"Nggak gue nggak pacaran sama dia, kita cuma.."
Tak sempat menyelesaikan kalimat, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dapur. Kaget Shena dan Fidin saling menatap bingung, merekapun bergegas menuju kedapur.
Tiba didapur iapun melihat kain yang terbakar dengan kobaran yang cukup besar dan pembantu yang mencoba memadamkan api itu. Dengan panik Shena dan fidin ikut memadamkan api dan seketika api itu mati, saling menghelakan nafas lega.
Next👇.
__ADS_1