
Next, masih lanjutan episode sebelumnya ya guys.
Diruang meating, Sevia menjelaskan pada Garil kalau dia terpaksa datang ke perusahaannya karena orang tuanya mendadak harus keluar kota. Dan sebelumnya ia juga sudah memberi kabar ke sekretarisnya tapi tidak ada jawaban.
"Iya pak, tadi saya lupa kasih tau. Maaf," ucap sekretaris Garil (Mili).
Yola kembali ke kantornya dengan kesal, penuh emosi ia melempar beberapa barang yang ada di atas mejanya. Ia tak percaya dengan kehadiran wanita yang sangat mirip dengan Shena.
"Susah payah gue singkirin Shena, tapi sekarang masalah baru dateng lagi!. Siapa cewek itu, apa bener dia bukan Shena?. Aaa!.. bisa gila gue mikirin ini!. Nggak, gue nggak bisa tinggal diem. Gue nggak bisa kehilangan Garil lagi" ucap Yola menghapus air mata.
Tiba-tiba salah seorang karyawan datang ke ruangan Yola karena mendengar sesuatu yang terlempar, lirihnya bertanya pada bosnya apakah ada masalah di ruangannya. Angguk Yola meminta karyawannya mengambil beberapa barang serta dokumen yang jatuh di lantai.
"Udah buk, ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Nggak. Kamu pergi aja dan jangan ganggu saya."
__ADS_1
Angguk karyawan itu menundukkan kepala lalu segera keluar, hela nafas Yola mengusap wajah.
Angguk Garil meminta maaf atas perlakuan tidak nyamannya, karena spontan saja saat ia melihat wajahnya ia teringat seorang wanita dimasa lalunya yang sangat ia cintai dengan wajah yang mirip sekali dengannya.
"Yaudah lah ya. Lagian disini kita mau bahas soal pekerjaan, bukan yang lain."
Merekapun segera memulai meating mereka tentang pembangunan sebuah proyek besar yang akan segera mereka kerjakan. Sevia memulai meating itu dengan memberikan beberapa arahan tentang apa yang harus di lakukan kedepannya dan membuat proyek itu berjalan tanpa ada kendala.
Fokus Garil teralihkan pada wajah Sevia dan terus memandanginya. Beberapa saat berlalu, Sevia meminta pendapat dari Garil apakah ia setuju dengan sarannya. Gugup Garil tersadar sedikit terkejut, ia yang tidak memperhatikan langsung menerima semua arahan dari Sevia.
"Saya setuju dengan semua rencana anda. Dan saya yakin, proyek ini akan berjalan tanpa ada kendala dan menjadi proyek pertama kita yang akan sangat menguntungkan bagi perusahaan dan juga masyarakat" lanjut Garil.
"Maaf pak, saya harus pergi. Tangan saya" lirih Sevia.
Segera Garil melepaskan pegangannya dan meminta maaf, angguk Sevia mengatakan kalau mereka akan bertemu 4 hari lagi.
__ADS_1
"Biar saya antar" ucap Garil.
"Oh, nggak. Nggak perlu" balas Sevia.
Tanya Garil pada Mili apakah ia berfikir hal yang sama dengannya, geleng Mili menjawab tidak dengan wajah polos. Mili adalah salah seorang yang sangat Garil percaya, ia juga tidak segan-segan menceritakan masa lalu dan keluh kesahnya.
"Aku sih nggak begitu tau sama Shena ya Bos. Tapi yang saya tau, tadi itu cuma kebetulan. Jadi, jangan terlalu dipikirin. Nanti kalo Bos stress, pekerjaan akan kena imbasnya Bos" heboh Mili.
"Kamu doain saya stress!"
"E-enggak gitu bos.."
Tak mau banyak berdebat, Garil menyuruh Mili membereskan berkasnya lalu berjalan pergi masuk ke ruangannya.
Di perjalanan pulang, Garil terus terfikir pada Sevia.
__ADS_1
"Nggak nggak, mungkin ini memang cuma kebetulan. Karena kalau seandainya dia Shena, pasti dia bakal inget sama gue."
***