BERIKAN AKU CAHAYAMU

BERIKAN AKU CAHAYAMU
Pecahan!


__ADS_3

Kembali Sevi masuk dan duduk dikursi kerjanya, mengerjakan beberapa tugas kantor yang belum selesai. Lelahnya menyandarkan tubuh ke kursi dengan wajah menghadap langit-langit sambil mengusap wajah.


"Huh, capek banget kalo ngerjain tugas kantor sebanyak ini (hela nafas). Kayaknya, otak gue perlu yang seger-seger. Mending, gue baca buku aja deh, sekalian cari motivasi hidup."


Mencari-cari beberapa buku di tumpukan rak buku dan kembali duduk ke kursi. Heningnya membaca dengan teliti setiap bait kata yang tertulis. Tangan merangkak mengambil pena diatas meja dengan tatapan mata yang masih terfokus pada buku. Karena kurang hati-hati, wadah pena pun terjatuh dan membuat pena berhamburan.


"Yaelah, kerjaan banget deh. Pakek acara jatoh segala."


Merunduk Sevi untuk mengambil beberapa penanya yang jatuh, menjulurkan tangan dengan sulit saat mengambil pena yang jatuh ke kolong tempat tidur.


"Duh, mana sih!. Ngerepotin aja lu pen" dumel Sevi dengan tangan yang merayap-rayap.


Tertegun Sevi saat ia tak sengaja menemukan suatu benda yang sedikit asing menurutnya, segera ia mengeluarkan tangannya dari bawah kolong tempat tidur. Kerut alisnya dengan bingung saat melihat sebagian pecahan gelang yang ia temukan.


"Pecahan gelang siapa ini?. Perasaan, gue nggak punya gelang modelan kayak gini."


"Eh, tapi kan gue amnesia. Siapa tau ini emang gelang punya gue kan, kalo bukan, paling juga punya Mami. Lagian, kalo diliat-liat model ni gelang bagus juga. Mending gue simpen aja deh" santai Sevi dengan nada candaan segera bangkit dan melupakan penanya yang masih ada di kolong tempat tidur.


...


Pagi hari, duduk Mami Dena dan Papa Glen diruang makan untuk sarapan pagi. Toleh-toleh Papa Glen mencari Sevi yang belum turun dari kamarnya untuk sarapan.

__ADS_1


"Loh, Sevi nggak ikut sarapan Mih?" tanya Papa Glen sambil menyantap makanan yang sudah dihidangkan.


Belum sempat Mami Dena menjawab, Sevi pun turun dengan pakaian yang sudah rapi. Lembut Sevi mengucap selamat pagi pada orang tuanya.


"Cantik banget anak Mami satu ini."


"Anak Papi juga Mi," lirih Papi Glen.


Senyum manis Sevi, "Iya, kan Sevi emang anak Mami sama Papi."


"Sini sayang, sarapan dulu."


Sahut Sevi sedikit terburu-buru mengatakan kalau ia harus berangkat lebih awal pagi ini karena ada meating pagi.


Hela nafas Sevi dengan senyum menatap sang Mami, mengambil roti yang sudah disiapkan dan memakannya sambil berjalan.


"Dah, Sevi berangkat dulu ya Mih, Pih" bersalam.


"Heh, makan sambil duduk!" teriak Mami Dena.


"Iya, nanti duduk dimobil!. Sevi berangkat!" sahut Sevi teriak dari kejauhan.

__ADS_1


"Tu anak ya. Kalo udah kerja, disuruh makan aja susah" dumel Mami Dena.


"Udahlah Mi, siapa tau ini emang meating besar, jadi Sevi takut telat. Nantikan dia juga bisa makan dikantor."


Dengan bergegas Sevi membuka pintu rumah, dan dengan kagetnya ia menabrak Davin yang ternyata sedang berdiri didepan pintu rumahnya.


"Aduh.. (mengangkat kepalanya dari dada Davin). Loh, sayang?. Kamu ngapain, pagi-pagi kayak gini udah didepan pintu rumah aku aja?. Nggak kamu jagain, ni pintu juga nggak bakal ilang kok. Untung tadi yang nabrak aku, bukan Papa aku," ucap Sevi dengan nada humornya sambil membenarkan rambut yang berantakan.


"Ngapain aku jagain pintu rumah kamu, mending aku jagain kamu, ya kan?. Lagian, aku kesini tu mau jemput kamu. Udah, ayo berangkat" memegang lembut jemari Sevi.


Sampainya di mobil, dengan penuh pengertian Davin membukakan pintu untuk Sevi.


"Soswett.."


"Nggak lagi ngegombal. Udah, buruan masuk."


Fokus Sevi menatap Davin dengan senyum humornya sambil masuk ke dalam mobil. Karena kurang hati-hati, kepalanya pun terbentur atap mobil.


"Aduh, kepentok!" mengusap kepala.


Ketawa Davin seolah mencibir, "Makannya, jangan jelalatan" mengusap lembut kepala Sevi.

__ADS_1


"Ya kan ngeliatin kamu" nada bete Sevi.


...


__ADS_2