
Lanjutan yang diatas ya🤗.
Panik garil meminta shena untuk tenang sambil mencabut perlahan kayu yang menusuk kakinya, shena menahan kakinya dengan tangan dan wajah menahan sakit.
"Aduh!. Sakit!." Teriak shena saat kayu ditarik.
"Tahan ya." Ucap garil.
Kayu pun tercabut dengan darah yang mengucur, garil mengambil p3k dari sepeda yang tidak lupa selalu ia bawa. Dengan tenang mengobati luka shena, menutup luka dikaki dengan kain.
"Duh!." Spontan shena.
Lembut garil menatap mata shena, "Tahan ya, nggak lama kok."
Selesai mengobati garil langsung membantu shena untuk berdiri, karena kaki yang terlalu sakit dan sedikit terkilir shenapun sulit melangkahkan kakinya.
"Aduhh.. kaki gue kayaknya terkilir deh, sakit banget.." Memegang kaki.
Tanpa basa-basi garil langsung membopong shena.
"Ehh, mau ngapain lo?. Sepeda gue?." Menatap terkejut.
"Udah, nanti biar gue suruh orang buat ngambil sepeda lo. Lo jalan aja susah apalagi mau naik sepeda, emang bisa?."
"Ya.. nggak sih (jawab shena sedikit berfikir). Tapi nanti kalo ilang."
"Nanti gue beliin." Sahut garil berjalan menuju sepedanya.
"Sepeda temen gue itu." Lirih shena berbisik.
__ADS_1
Shena duduk di bagian depan, menatap mata garil. "Emang lo kuat?."
"Duhh.. berat banget ternyata lo." Canda garil mencoba mengayuh sepeda.
Shena menepuk pelan dada garil memasang wajah cemberut, "Ihh.. resek lo."
Tawa garil, "Hha.. nggak-nggak, ringan kok."
Kembali mengayuh sepeda. Karena garil yang mengayuh dengan mendadak dan shena yang belum sempat berpegangan membuat kepalanya menabrak dada garil dan spontan tangannya memegang erat pinggang garil. Merekapun saling menatap memberi reaksi saling kaget.
"Ehh.. maaf (shena menjauhkan sedikit kepalanya dari dada garil dan perlahan melepaskan pegangan tangan). Lagian lo sih mendadak banget." Lirihnya.
Kedip mata garil tenang, "Iya sorry juga. Kenapa pegangannya dilepas, pegangan aja nggak papa."
Dengan senyum garing memegang baju garil, "Gue pegangan baju lo aja."
"Awas!, ntar jatuh." Goda garil.
...
Beberapa menit berlalu dengan sepeda yang terus melaju, tatap shena kewajah garil melihat keringat garil yang perlahan menetes. Shena mencoba membantu mengelapnya dengan handuk kecil dileher garil, sentuhan shena membuat garil terkejut dan memainkan alis.
"Kenapa?." Bingung garil.
Shena memainkan jari tangan mengarahkan kewajah memberi isyarat dan kembali mengelap wajah garil.
"Lo keliatan capek banget deh, mending kita istirahat dulu aja ya?."
"Kamu capek?, mau istirahat?." Lembut garil.
__ADS_1
Shena menggelengkan kepala, "Nggak, tapi kamu."
Garil menghentikan sepeda, "Oke, kita berhenti bentar ya. Gue minum dulu."
Shena mengangguk dan memberikan botol minum, tersenyum tipis menatap garil dengan beberapa teguk air yang masuk kedalam tenggorokannya.
"Ngapain sengum-senyum gitu?." Heran garil menatap shena.
Dengan senyum menggelengkan kepala, "Hhe, nggak papa."
"Lanjut lagi?.." Tanya garil.
"Okey.." Lirih shena.
Karena merasa lelah, shenapun tertidur dengan kepala bersandar didada garil. Garil langsung melirik shena dan melihatnya sudah tertidur.
"Lah.. malah tidur dia." Lirih garil.
Garil memegang tangan shena agar ia tidak terjatuh, sentuhan itupun membuat tangan shena bergerak memeluk erat garil.
Senyum senang garil merasakan pelukan shena, "Dasar ni anak."
Sementara chika dan exel istirahat duduk ditaman, berbincang dan bercanda dengan senangnya sambil menunggu garil dan shena."
"Garil sama shena mana ya?, tumben lama banget."
Sahut exel, "Yah.. maklumin ajalah. Mumpung ada kesempatan buat ber-2, jadi dilama-lamain. Kalo bisa aja sampek nya besok."
Merekapun saling tertawa dan membenarkan ucapannya.
__ADS_1
"Hha.. bener juga ya." Tawa chika menepuk lirih tangan exel.
Next👇.