
Tiba dikampus, Garil keluar dari mobil berjalan sedikit cepat membukakan pintu untuk Shena. Dara melihat Garil dengan senang mencoba menghampirinya bersama Raya tanpa dia tau kalau didalam mobil itu ada Shena, keluar Shena dari mobil dan membuat Dara langsung menghentikan langkahnya.
"Hah, kok Garil sama cewek centil itu sih!. Jahat banget dia sama gue, kenapa makin hari mereka makin deket. Duhh, sakit hati gue (memegang kepala), Berkali-kali hati gue dipatahkan" rengek Dara.
Raya menenangkan Dara bicara sedikit humor, "Itu kepala dar.."
Dara membentak lirih Raya memintanya untuk diam karena saat orang sedang galau pikirannya begitu kacau.
Lirih Dara, "Haduh, mau pingsan gue."
Garil menggandeng tangan Shena dan mengajaknya masuk kampus, Raya sedikit risih meminta Dara untuk tidak terlalu lebay dan memberitahunya kalau Shena dan Garil sudah masuk ke dalam kampus.
Terus Dara mengejek Raya, "Eh, lo nggak usah sok nasehati gue deh. Orang lo sama aja, ntar liat Exel sama temennya si cewek centil itu palingan nangis lo."
Belum selesai Dara bicara, tiba-tiba mobil Exel datang. Exel keluar dari mobil dibarengi Chika, saling menghampiri dan bergandeng tangan masuk kampus. Raya ikut merengek saat melihat itu sambil menunjuk ke arah Exel, dengan senangnya Dara mengejek.
"Ihh, emang dasar cewek centil!. Kurang apa sih kita, cantikan juga kita. Tapi kenapa dia malah seneng banget sama cewek prik itu."
__ADS_1
Lirih Dara memelaskan wajah, "Kayaknya kurang beruntung deh."
Di aula kampus dosen yang melihat Shena dan Garil menatap sedikit heran, karena tidak biasanya mereka akur seperti itu dengan menyapa dosennya dengan senyum dengan tangan masih menggandeng.
Goda Pak Tono, "Ehh, tumben kalian akur. Sampek pegangan tangan gitu."
Tersadar Shena melongo dan langsung melepaskan pegangannya, gugup Shena menjelaskan pada dosennya kalau mereka hanya berteman.
Santai Pak Tono tertawa lirih, "Hhe, iya nggak papa. Santai aja, bapak seneng kok kalau kalian bisa akur. Yang pasti jangan aneh-aneh aja, selesain dulu kuliahnya, belajar yang rajin."
"Hhe, kita temen kok Pak."
Lanjut Pak Tono mengejek, "Iya sekarang masih temen, tapi nggak tau nanti. Yaudah bapak duluan ya, gandengan lagi nggak papa" berjalan pergi.
Shena tertawa lirih, Garil menggodanya dengan mengatakan kalau dosen saja sudah setuju dan tinggal menunggu lulus saja. Shena mengerutkan kening dengan malu.
"Hhe, apaan sih. Nggak usah ngaco deh, dahlah mau ke ruangan dulu gue" berjalan meninggalkan Garil.
__ADS_1
Toleh mereka saling menatapa, balas Garil bicara lirih memberi semangat pada Shena. Malu-malu Shena mengalihkan pandangan, hela nafasnya lalu berjalan pergi.
Terdiam Garil menatap Shena lumayan lama, tiba-tiba Exel datang mengejutkannya dibarengi Chika. Garil berbalik dengan terkejut bicara sedikit kesal, Exel menggoda dan bertanya apa yang dia lakukan berdiri diam disitu.
Chika memanasi dengan mata memberi isyarat kearah Shena, "Ngapain lagi kalau bukan ngeliatin Shena, orang kalau udah bucin ya gitu. Senyum-senyum sendiri, ngomong-ngomong sendiri hhe."
Exel melirik kerah Shena, "Ohh pantesan, gue tadi berangkat ditinggal. Mana nggak ngasih tau, pas gue keluar dari kamar orangnya udah nggak ada (bicara pada Chika)."
Garil yang merasa disudutkan merasa malu dengan kesal meninggalkan mereka.
"Apaan sih nggak jelas."
"Tu kan, cara ngomongnya aja udah sama persis tu kayak Shena" ucap Chika pada Exel.
"Iya ya, apaan sih" sambung Exel menggoda.
Next👇.
__ADS_1