BERIKAN AKU CAHAYAMU

BERIKAN AKU CAHAYAMU
Teman


__ADS_3

Bujuk Yola terus meminta maaf pada Garil dan memintanya untuk tidak meninggalkan dirinya, ia juga berjanji kalau ia akan bersikap lebih dewasa.


"Aku janji, aku bakal berubah. Tapi kamu jangan tinggalin aku," ucap Yola mencoba meyakinkan Garil sambil memegang tangannya.


"Tapi hubungan kita ini..." henti Garil.


"Ada apa sama hubungan kita?. Hubungan kita udah sejauh ini Garil, kita juga udah tunangan (menunjukkan cincin di tangan). Kasih aku kesempatan sekali lagi, Garil."


"Iya, iya udah aku kasih kamu kesempatan untuk berubah."


"Hubungan kita?"


Angguk Garil yang tak tega melihat Yola dengan harapan kali ini Yola benar-benar bisa berubah dan menurunkan egonya agar tidak terjadi banyak kesalahan pahaman.


...


Kling klung..


Ponsel Sevi terus berbunyi, yang mana pagi ini Sevi sedang duduk santai menikmati cemilan sambil menonton tv. Kerut alis Sevi meletakan cemilan di atas meja dan segera mengangkat panggilan.


"Livi?" lirih Sevi.


"Iya Vi, kenapa?" santai Sevi.


(Note : Livi merupakan sekretaris pribadi Sevi sekaligus sahabatnya).


Lucu Livi menghelakan nafas sambil menepuk keningnya, "Astaga, Sevia!.. Masak lo lupa sih, hari ini kan kita ada meating. Dan ini udah hampir jam 10, lo belom siap-siap juga?"

__ADS_1


"Astaga, gue lupa!" terkejut Sevi langsung mematikan ponsel dan berlari menuju kamar mandi.


Teriak Livi berulang kali mencoba memanggil Sevi, saat ia melihat ponselnya, ternyata panggilannya sudah di putus.


"Kebiasaan banget deh ni anak," keluhnya.


...


Lega Sevi dan Livi yang telah selesai dengan meating mereka bersama salah satu perusahaan investor.


"Hah, akhirnya selesai juga. Untung aja tadi gue nggak telat, bisa-bisa batal semua kerjasama kita" ucap Sevi pada Livi.


"Makannya, jangan Davin terus yang di pikirin, jadi lupa semua kan."


"Ihh.. apaan sih lo Liv. Sok tau deh, gue lupa itu bukan karena mikirin Davin, tapi capek."


"Udah deh ya, daripada lo berisik, mending sekarang kita cari makan di luar.


Bangkit Sevi berjalan keluar ruangan meninggalkan Livi, teriak lirih Livi meminta Sevi agar menunggunya dan segera bangkit menyusul Sevi dengan beberapa lembar berkas ditangan.


Saat keluar ruangan, Sevi di kagetkan dengan kedatangan Davin "Hei.. kamu ngapain di sini?"


"Kenapa, nggak boleh ya aku kesini?" candaan Davin.


"Hehe, nggak gitu. Kok kamu kesini nggak ngabarin sih?"


"Sengaja. Makan siang bareng?" ajak lembut Davin.

__ADS_1


Senyum Sevi mengangguk mengiyakan ajakan Davin, menggandeng nyaman tangan Davin. Kerut bibir Livi melihat kemesraan sahabatnya dan sang kekasih, guyon Livi mengejek Sevi.


"Hmm.. ternyata gue cuma mau di jadiin obat nyamuk."


Kerut alis Sevi menahan senyum melihat tingkah Livi, ia lalu merayu dan merangkul Livi.


"Dihh, jealous ni ceritanya?. Udah tenang aja, nanti gue cariin pasangan disana."


Tiba di resto, mereka bicara asik sambil menunggu menu makanan yang sudah di pesannya. Toleh-toleh Livi melihat sekeliling ruangan resto, dan sejenak menatap laki-laki lanjut usia dengan penampilan yang begitu stylish.


Kerut alis Sevi menatap sorot mata sahabatnya, senyumnya menyenggol Livi dengan sedikit ejekan.


"Gitu banget ngeliatnya. Kenapa, udah beda lagi kriteria pasangan lo?"


"Ihh, apaan sih Sev. Gue cuma liat aja, lagian gue juga pengen kali dapet cowok yang masih seger. Kayak cowok lo ini" candaan Livi.


"Jangan cowok gue yang lo ambil."


"Ya nggak lah, gue bukan orang yang suka nikung sahabat sendiri kali Sev."


Beberapa lama menunggu, makanan pun tiba.


"Silahkan di nikmati Pak, Bu" ucap pelayan menyuguhkan makanan.


Basa-basi Davin bertanya pada Sevi apakah proyeknya dengan Garil sudah selesai.


Sahut Sevi sambil memakan makanan yang sudah di pesan "40%"

__ADS_1


***


__ADS_2