
Tahan Fidin menghentikan Shena dengan memegang tangannya, hancur Shena dengan tangis yang tak terbendung merasa malu. Kasarnya meminta fidin melepaskan tangannya.
"Lepasin!. Pergi lo, gue benci sama lo!. Gue nggak mau liat muka lo lagi" pecah tangis Shena berlari keluar dan menghentikan sebuah taxi.
"Gue bisa jelasin Sen, biar gue anter lo pulang ya" khawatir Fidin.
"Nggak perlu!" emosi Shena segera masuk kedalam taxi.
Terdiam Shena membayangkan kejadian yang begitu memalukan dan membuat batinnya terisak sakit tak bisa berkata-kata. Bingung Fidin tak mengerti bagaimana hal itu bisa terjadi, penuh emosi mencengkeram rambut dengan serba salah.
"Hah!. Bagaimana bisa gue ngelakuin kesalahan ini!, gue harap lo nggak ngelakuin hal yang fatal Fit" kesalnya pada diri sendiri.
Sejenak ia mencoba mengingat, dan baru sadar kalau semalam mobilnya dihadang oleh seseorang hingga ia dipukul dan membuatnya jatuh pingsan tak sadarkan diri. Fidin pun bertanya-tanya siapa orang itu dan apakah orang itulah yang membawanya kerumah ini. Kembali masuk dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, saat tiba dikamar Fidin melihat beberapa botol minuman keras berserakan.
__ADS_1
Tertegun memegang botol itu, "Astaga, apa gue semalem minum ini?" cemas Fidin.
Berdiri Yola disebuah tempat, tak lama seseorang datang menggunakan jaket dan masker. Perlahan masker itu dibuka, dimana itu adalah ayah Shena yang sudah membuat janji bersama Yola.
Flashback, beberapa hari yang lalu tak sengaja Yola bertemu dengan ayah Shena disebuah jalan. Ia yang tahu kalau hubungan Shena dan ayahnya tidak baik-baik saja mencoba memanfaatkan situasi dan menjalin kerjasama bersama ayah Shena untuk menghancurkannya dengan imbalan uang yang akan Yola berikan sebesar 500 juta. Yola juga tahu sebenarnya kalau Fidin sudah lama menyukai Shena, dan saat ia mengetahui rencana Fidin untuk menggagalkan pertemuan Shena dan Garil. Iapun segera bertindak dan menyusun rencana itu dengan matang.
"Ini, cek yang anda minta. Tapi, serahin dulu barang yang saya minta sesuai perjanjian kita" senyum lebar Yola.
Angguk ayah Shena mengeluarkan sebuah amplop dari saku jaketnya, "Nih, sesuai perjanjian" mengambil cek sambil mengibaskan dengan senang.
"Kamu nggak akan tau" datar ayah Shena segera pergi.
Tak mau ambil pusing dengan ucapan laki-laki itu, senang Yola menatap amplop karena salah satu rencananya berjalan sesuai rencana.
__ADS_1
"Tahap selanjutnya, pasti bakal lebih seru. hahaha."
Klung klung..
Ponsel chika berbunyi, dimana itu panggilan dari Garil yang bertanya soal Shena. Cemas Chika menjawab kalau Shena belum pulang sejak semalam, iapun meminta tolong Garil untuk mencari Shena lagi dengan khawatirnya.
Belum sempat Garil menjawab, Shena pulang dengan raut wajah lainnya lemas tak berenergi dan selendang yang menutup pundaknya. Senang Chika sekaligus cemas melihat keadaan Shena yang terdiam, segera menghampiri Shena dan bertanya kemana saja dia dari semalam.
"Halo cik, cik!. Kayaknya Shena udah pulang" lirih Garil.
Terdiam Shena tak menjawab, jatuh terduduk dan menangis tersedu dengan selendang terlepas dari pundaknya menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Chikapun semakin dibuat cemas dengan keadaan Shena yang seperti itu, ditambah lagi terdapat bekas robekan dibaju Shena. Chika mencoba menenangkan Shena dan segera mengajaknya untuk pergi ke kamar.
Emang yah, musuh yang paling berbahaya itu terkadang malah temen sendiri. Apalagi temen palsu, duh bahaya banget tuh!.
__ADS_1
Next aja ya👇.