
"Malam ini, pasti lagi ada drama seru dirumah Garil. Kasihan Shena, pasti dia hancur ngedenger pernyataan dari Mamanya Garil."
Senang Yola sambil memainkannya u ponsel, karena sebelumnya Mama Ika sudah membicarakan hal ini padanya dan mamanya.
"Sebentar lagi, tujuan aku untuk memiliki Garil akan tercapai. Dan kamu, kalah.. Hahaha."
Tuk tuk tuk..
Terdengar ketukan dari pintu kamar Yola, diiringi suara mamanya memanggil. Toleh Yola menyuruh mamanya masuk, senyum sang mama menyapa Yola. Balas Yola dengan lembut segera memeluk mamanya dengan senang.
"Makasih ya Mah, malam ini aku seneng banget!. Mungkin kalau Mama nggak bantu aku, aku nggak akan bisa deket sama Garil dan keluarganya."
"Apapun akan Mama lakuin demi kamu sayang, apapun itu" saling memberikan pelukan hangat.
Di dalam taxi, terduduk Shena menahan isak tangis terngiang dengan ucapan Mama Ika. Mengusap wajah dengan air mata yang mengalir dan mencoba menenangkan dirinya.
"Apa aku siap ngeliat Garil sama wanita lain. Kenapa hubungan aku sama dia jadi serumit ini, hati aku hancur."
__ADS_1
Bergegas Garil masuk ke dalam kamar dengan wajah gelisah mengambil ponsel dan mencoba menelfon Shena. Garil semakin dibuat cemas karena ia tidak bisa menghubungi Shena, ia mencoba menelfon Chika untuk menanyakan apakah Shena sudah pulang. Kerut alis Chika melihat panggilan dari Garil dan segera mengangkatnya.
"Shena?. Loh, bukannya Shena sama kamu?"
Perlahan Garil menjelaskan apa yang sudah terjadi, kaget Chika mendengar penjelasannya.
"Astaga, terus sekarang Shena kemana?. Pasti dia sedih dan terpukul banget. Tapi gimana bisa Mama lo jodohin lo sama Yola?"
"Gue juga nggak tau, kenapa Mama bisa mikir untuk jodoh gue sama Yola?. Sekarang gue bener-bener khawatir sama Shena, gue takut dia ngelakuin hal yang aneh-aneh."
"Biar gue cari Shena" ucap Chika.
"Aku ada urusan bentar Ma" sahut Chika dengan tergesa.
"Sayang, kamu mau kemana!. Astaga, mau kemana sih tu anak. Kenapa buru-buru gitu."
Ditengah perjalanan, Chika terfokus pada ponsel mencoba menelfon Shena. Beberapa kali ia menelfon tetap tidak ada jawaban, ia mencoba sekali lagi dan tetap sama. Fokus Chika pada ponsel dan tak sadar kalau ada mobil yang melintas, terkejutnya langsung menghentikan mobil.
__ADS_1
"Maaf cik (ucap Shena sambil melihat ponsel lalu mematikannya). Aku nggak bisa diem aja, aku harus ambil keputusan ini sekarang" batin Shena seperti akan merencanakan sesuatu.
Kerut kening Chika seperti mengenali mobil itu, yang mana itu adalah mobil Exel. Iapun segera turun, disusul Exel segera menghampiri. Lirih Exel bertanya kemana ia akan pergi malam-malam seperti ini, ditambah lagi raut wajah Chika yang terlihat begitu cemas.
Chika pun menceritakan apa yang sedang terjadi dengan Shena, terkejut Exel mendengar ucapan Chika kembali bertanya kenapa hal itu bisa terjadi.
"Aku juga nggak tau, aku cuma takut Shena kenapa-napa. Mana aku telfon nggak dia angkat lagi."
"Terus, kamu mau cari Shena kemana?" lembut Exel memegang pundak Chika.
"Aku nggak tau, yang pasti aku cuma pengen nyari Shena. Aku kasian sama dia, pasti dia sekarang beranggapan kalau nggak ada laki-laki yang bisa di percaya."
Tiba-tiba Shena merasa begitu mual dan kepalanya terasa pusing, khwatir sopir taxi itu dan bertanya pada penumpangnya.
"Kepala saya pusing pak."
"Mau saya anter ke rumah sakit mbak, nanti mbaknya kenapa-napa."
__ADS_1
Sayup mata sambil berfikir apa yang terjadi, curiganya mengira apakah ia hamil. Ia lalu menyuruh sopir taxi itu untuk berhenti di klinik yang tak jauh dari tempat itu.
Wah, kira-kira Shena beneran hamil nggak nih?. Jawabannya ada di episode selanjutnya ya👇.