
Malam hari, Shena datang bersama Garil yang menjemputnya untuk memenuhi undangan dari Mama Ika. Lirih Shena mengatakan kalau ia malu dan bertanya pada Garil kenapa mamanya mengundangnya untuk makan malam bersama, sahut Garil menjawab kalau ada hal penting yang akan mamanya bicarakan mengenai hubungan mereka kedepannya. Tatapan lembut Garil sambil menggenggam erat jemari Shena dan segera membawanya masuk.
Sapa Shena pada kedua orang tua Garil yang sudah menunggunya dimeja makan, senyum mereka membalas. Beberapa saat setelah menikmati hidangan yang ia siapkan, Mama Ika lalu bertanya pada Shena apakah ia tahu maksud dan tujuannya mengundangnya ke tempatnya.
"Ng-nggak Tan," Geleng Shena.
Hela nafas Mama Ika sambil menaruh sendok dan garpu yang di pegang, iapun segera mengatakan maksudnya.
"Disini, Tante undang kamu baik-baik dan membicarakan hal ini dengan baik-baik. Pada intinya, disini Tante mau membicarakan soal pernikahan Garil."
Senyum senang Garil menatap dan memegang tangan Shena, gugupnya sekaligus senang mendengar ucapan Mama Ika. Lanjut Mama Ika mengatakan kalau minggu ini Garil akan menikah dengan wanita yang tepat dan terbaik untuknya.
"Beneran Mah?. Mama retuin aku sama Shena menikah?" senang Garil.
"Hehe, bukan sama Shena. Tapi sama Yola" sambung Mama Ika.
Garil dan Shena dibuat kaget mendengar hal itu, spontan Garil melepaskan pegangannya dan langsung berdiri.
__ADS_1
"Maksud Mama apa, kenapa Yola?. Mama tau kan kalau Garil cinta sama Shena!. Kenapa mama lakuin ini!, Garil nggak mau ma."
"Mama nggak perlu persetujuan kamu. Mama lakuin ini karena mam sayang sama kamu, dan mama mau kamu dapet wanita yang baik."
Telan ludah Shena menahan kesedihan mengerutkan bibir, berdiri dan mengangguk lirih mengatakan kalau yang dikatakan Mama Ika itu benar. Dia memang bukanlah wanita yang tepat untuknya.
"Kamu berhak dapet wanita yang baik, bukan wanita yang penuh noda kayak aku ril" lanjutnya.
Mengambil tas dan berjalan pergi, kejar Garil menahan Shena menjelaskan padanya kalau dialah wanita yang tepat dan tidak ada yang lain.
Terpaksa Shena melepaskan pegangan tangan Garil dan segera pergi meninggalkannya dengan menyembunyikan kesedihan. Garil mencoba mengejar Shena, henti Mama Ika dengan tatapan kesal memecahkan sebuah gelas. Berteriak memanggil Garil dan mencoba menyayat tangannya jika Garil memilih mengejar Shena.
"Mah, kenapa Mama jadi nekat gini" bingung Garil memilih mengejar Shena atau menuruti ucapan Mamanya.
"Mama nggak perduli. Kalau kamu mau liat mama nggak ada, kamu boleh kejar Shena."
"Pah, kenapa papa diem aja. Bilangin sama Mama dong Pah" keluh Garil.
__ADS_1
"Papa harus gimana, semua keputusan ada sama kamu."
Bingung Garil menggaruk kepala penuh emosi, menghampiri mamanya karena ia juga tak mau egois dan melihat mamanya kenapa-napa. Ia pun Menenangkan mamanya sambil meminta mamanya untuk membuang pecahan gelas yang akan melukai.
"Udah Ma ya, udah buang."
Sahut Mama Ika mengatakan kalau ia tidak akan membuang itu sebelum Garil berjanji untuk menikah dengan Yola.
"Mah, nggak bisa gitu dong."
"Itu artinya, kamu memang udah nggak sayang sama Mama. Lebih baik Mama pergi dari dunia ini!" emosi Mama Ika mencoba menyayat tangan.
Cepat Garil mengambil pecahan gelas dari tangan mamanya, langsung membuang dan memeluk erat Mama Ika. Tangis Mama Ika meminta Garil berjanji untuk mendengarkan ucapannya, dengan penuh tekanan iapun mengiyakan ucapan mamanya.
"Mama cuma pengen kamu bisa dapet wanita yang baik-baik" tangis Mama Ika dipelukan Garil.
***
__ADS_1