
Malam hari, duduk Sevi menatap laptopnya dimeja kerja sambil mengerjakan pekerjaan kantornya yang kebetulan sedang menumpuk. Lirih dumelnya merasa lelah dengan banyaknya pekerjaan yang tak kunjung selesai.
"Kayaknya nih kerjaan gue kerjain daritadi, tapi kenapa masih banyak aja. Duhh, capek banget" menyandarkan kepala dikursi.
Hela nafas Sevi sejenak kembali melanjutkan pekerjaannya, "Huh, semangat Sevi."
Beberapa jam berlalu, yang mana jam sudah menunjukkan pukul 01:33 WIB. Letih Sevi dengan mata menahan kantuk dan pekerjaan pun akhirnya ia selesaikan.
"Huh, oke, selesai juga. Tinggal kita pindahin, lalu tidur deh."
Lirih Sevi membuka laci untuk mencari flashdisk, dengan jelinya ia mencari namun tak dapat menemukan satu flashdisk pun. Lupa Sevi saat mengetahui kalau semua flashdisknya sudah ia bawa kekantor.
"Astaga, lupa gue bawa pulang lagi" mengusap wajah.
Sejenak Sevi terdiam dan teringat kalau masih ada satu flashdisk tersisa, berdiri dan mengambil flashdisk yang ia temukan tadi siang di cafe. Senyum Sevi sembari memegang flashdisk ditangan, terpaksa ia memakai flashdisk itu karena tak mau mengambil resiko jika ada kendala dilaptopnya.
"Coba dulu deh, siapa tau masih bisa dipakai."
__ADS_1
Kembali Sevi terduduk untuk mencoba flashdisk itu, dan beruntung flashdisknya masih aman dan masih bisa untuk digunakan.
Penasaran Sevi mencoba melihat isi flashdisk, namun ia tak menemukan adanya data penting didalamnya.
"Nggak ada apa-apanya, masih kosong. Apa ini flashdisk baru?" ucapnya.
Jiwa penasaran Sevi pun kembali meronta saat melihat sebuah video didalamnya, tertegun sejenak ia dan langsung membuka video itu.
"Yola?" lirihnya.
Kerut alis Sevi saat mengetahui kalau yang ada divideo itu tidak lain adalah Yola dengan seorang pria yang sedang membicarakan pembunuhan dan telah menjebak seorang gadis.
"Shena?" paham Sevi.
Saat nama Shena disebut, Sevi pun lantas teringat dengan Garil. Raut wajah kaget sekaligus tak percaya Sevi jika Yola akan melakukan kejahatan seperti itu hanya untuk mendapatkan cintanya.
"Gimana kalau Garil tau, kalau cewek yang sedang bersama dia saat ini adalah pembunuh dari cewek yang sangat dia cinta. Nggak kebayang sama reaksinya nanti, pasti dia bakal syok banget."
__ADS_1
Terus Sevi melihat video itu, namun seiring berjalan, Sevi justru merasa tidak asing dengan lawan bicara Yola (Sandi).
"Siapa dia?. Kenapa mukanya sangat-sangat familiar dan nggak asing. Rasanya, kayak gue sering ketemu sama dia. Tapi kapan, dan dimana?" heran Sevi mencoba mengingat.
Hingga di potongan video lainnya, Sevi melihat saat Yola memakai sebuah gelang yang ternyata sama persis dengan sebagian gelang yang ia temukan dikolong tempat tidurnya.
"Duh, mana sih?. Perasaan gue taruh disini," mencari gelang di laci mejanya
Saat menemukan gelang itu, Sevi pun mencoba menyamakannya dengan gelang yang dipakai Yola, dengan jeli matanya menyorot disetiap titik gelang itu.
"Sama, persis. Gimana bisa, dan kalaupun ini gelang Yola, kenapa ada disini?" raut wajah bingung.
Sekilas, Sevi mendapatkan bayangan samar-samar yang membuat kepalanya terasa sakit. Dalam bayangannya itu, Sevi melihat sebuah tangan (entah siapa) yang memberikan gelang itu padanya.
"Siapa dia, siapa?" dan teriak lirih Sevi kesakitan.
Terus bayangan itu mengelilingi kepalanya, hingga akhirnya ia melihat wajah laki-laki itu (Fidin).
__ADS_1
Tertegun Sevi dengan tarikan nafas yang cepat, "Si-siapa laki-laki itu?" bertanya-tanya.
...