BERIKAN AKU CAHAYAMU

BERIKAN AKU CAHAYAMU
Sial!


__ADS_3

Tuk tuk tuk..


Tiba kedua orang Sevi dengan langkah kaki terburu dan raut wajah cemas menghampiri dan menanyakan keadaan Sevi pada Davin.


"Dimana Sevi, Dav. Sevi baik-baik aja kan?" cemas Mami Dena.


"Dokter bilang, dalam beberapa jam kedepan Sevi akan melewati masa kritisnya" ucap Davin tertunduk.


Terduduk lemas Mami Dena dengan ditenangkan Papa Glen disampingnya, begitu juga dengan Davin.


"Tante nggak perlu khawatir ya, Sevi itu gadis yang kuat. Davin yakin, pasti Sevi bisa melewati masa-masa sulit ini."


...


Waktu terus berjalan diiringi doa yang mereka panjatkan untuk kesadaran Sevi. Hingga beberapa jam berlalu, yang mana jam sudah menunjukkan pukul 20:00 WIB. Namun, Sevi tak juga kunjung sadar yang membuat mereka semakin cemas. Sedih Mami Dena melihat Sevi dari balik kaca pintu ruangan didampingi Papa Glen.


"Pah, Sevi?. Mami pengen peluk dia, Mami pengen ada disamping Sevi Pah" ringik Mami Dena.


"Mama yang tenang ya, Papa juga pengen ada disamping Sevi. Tapi kita harus dengerin ucapan Dokter juga Mah, untuk saat ini kondisi Sevi sedang kritis" lembut Papa Glen.


"Sevi.." tangis Mami Dena.

__ADS_1


Didalam ruang tindakan, terus dokter berusaha menolong Sevi yang keadaannya justru semakin kritis dengan detak jantung yang mulai melemah. Melihat keadaan Sevi, semua orangpun dibuat khawatir kecuali dengan Yola yang terus berharap agar Sevi (Shena) tiada.


Tak berselang lama, Dokter pun keluar yang membuat semua orang menunggu pernyataannya.


"Bagaimana keadaan anak saya, Sevi baik-baik aja kan Dok!"


Panjang Dokter menghelakan nafas, sambil mengangguk Dokter mengatakan bahwa pasien sudah melewati masa kritisnya dan membuat semua orang bisa bernafas dengan lega.


"Saya boleh lihat anak saya kan, Dok?"


"Silahkan, tapi hanya boleh untuk dua orang ya. Karena pasien sedang dalam tahap pemulihan" ucap Dokter lalu berjalan pergi.


Melihat keadaan Sevi yang sudah membaik, Garil pun menghampiri Davin dengan mengatakan kalau ia akan mengantarkan orang tuanya beserta Yola pulang terlebih dahulu.


Angguk Garil dengan senyum leganya mengusap lembut pundak Davin.


...


"Kamu, pulang dulu ya" ucap Garil menghentikan laju mobilnya didepan rumah Yola.


Bingung Yola dengan wajah cemasnya terdiam turun dari mobil.

__ADS_1


"Aku pulang dulu" lanjut Garil melajukan mobilnya.


Klukk..


Lemas Yola membuka pintu rumah, yang mana kedua orang tuanya telah menunggu diruang tamu. Bergegas Mama Rita menghampiri anaknya itu.


"Gimana, semua baik-baik aja kan sayang?" cemas Mama Rita memegang pundak Yola.


"Yola mau kekamar Mah," lirih lesu Yola.


"Pah?" Toleh Mama Rita pada suaminya.


"Udah, Mah. Biarin Yola sendiri dulu, dia butuh waktu untuk sendiri dan nenangin pikiran dia. Dia pasti syok dengan apa yang terjadi hari ini, lebih baik kita nggak ganggu dia dulu."


Terdiam Mama Rita mengangguk setuju dengan suaminya, meski dengan sorot mata berbinar cemas.


Terduduk lemas Yola diatas kasur, dengan raut wajah yang lelah bak depresi atas apa yang terjadi. Dimana beban pikiran dan masalahnya, semakin hari justru semakin bertambah.


"Gue cuma pengen bahagia sama Garil, udah cukup!. Tapi kenapa, disaat gue udah deket sama kebahagiaan gue, justru yang dateng cuman masalah dan masalah, sial!!" kesal Yola.


Sekejap, Yola merasakan keram pada perutnya dengan tatapan sinis yang ia berikan.

__ADS_1


"Kalau bukan untuk tujuan gue, gue nggak mau pertahanin lo!" ucapnya sembari memegang perut menahan sakit.


...


__ADS_2