
Beberapa hari berlalu, di kesempatan kali ini Sevi bersama Garil pergi untuk mensurvei proyek baru mereka. Senang mereka melihat proyek mereka yang sudah setengah jalan, bincang-bincang mereka mengenai penambahan sesuatu pada proyek itu. Disi lain, Yola yang selalu menaruh curiga pada Garil mencoba untuk mengikutinya secara diam-diam.
Tiba-tiba, jatuh suatubenda dari atas yang hampir mengenai Sevi. Sigap Garil langsung menarik Sevi dan membuat mereka berdua terjatuh, tertegun mereka saling menatap kaget. Yola yang melihat kedekatan mereka pun begitu kesal sambil melampiaskan amarahnya.
"Kalau gue terus-terusan diem, bisa-bisa Garil makin dekat sama cewek itu dan makin jauh dari gue. Nggak, gue nggak akan biarin cewek itu terus-menerus deket sama Garil. Kalau gue bisa jauhin Shena dari Garil, gue juga bisa jauhin dia dari Garil!" tekan Yola segera pergi dari tempat itu.
Sadar Sevi langsung melepaskan pegangan Garil, begitu juga sebaliknya dengan Garil. Gugup Sevi segera bangkit sambil membenarkan baju dan rambutnya mengucapkan terimakasih, angguk Garil menanyakan keadaan Sevi.
"Nggak kok, gue nggak papa. Sekali lagi makasih ya," lanjut Sevi.
Salah seorang pekerja bangunan datang menghampiri Garil dan Sevi, ia lalu meminta maaf karena kejadian tadi yang hampir mencelakai mereka.
"Maaf Pak, Buk. Tadi saya bener-bener nggak sengaja!. Bapak sama Ibuk, baik-baik saja?"
"Iya Pak, kita nggak papa kok. Lain kali hati-hati ya, Pak" ucap Sevi.
Lirik pekerja itu melihat ada luka di lengan kiri Sevi, "Tapi Buk, itu ada luka di tangannya."
Toleh Sevi melihat lengannya, "Oh, nggak papa Pak. Ini cuma luka kecil aja kok, saya nggak papa."
Dengan wajah khawatir, Garil langsung menarik tangan Sevi dan melihat lukanya. Garil pun segera mengajak Sevi untuk mengobati lukanya, kerut alis Sevi sedikit heran. Lirihnya mengatakan pada Garil kalau luka itu tidak akan membuatnya kenapa-napa.
__ADS_1
"Mau kecil atau besar, ini tetep luka dan harus di obati," khawatir Garil.
"T-tapi.."
"Nggak ada tapi-tapian. Sekarang ikut gue, biar gue obatin luka lo."
Sambung Garil menyuruh Sevi untuk duduk di kursi, ia lalu bergegas mengambil obat p3k di dalam mobilnya. Duduk ia disamping Sevi, dan perlahan mengobati lukanya. Sejenak Sevi menutup mata karena merasa perih pada lukanya, lembut Garil penuh perhatian meminta Sevi untuk menahan sejenak rasa sakit itu.
Lirik Sevi menatap lembut Garil, kerut bibirnya bertanya pada Garil kenapa ia begitu perhatian padanya.
"Apa karena muka gue yang mirip sama.. siapa tu mantan pacar lo?"
"Shena," lirih Garil.
"Bukan karena itu, tapi ini demi kemanusiaan. Apalagi kamu cewek, gue nggak bisa liat cewek terluka."
"Tapi kalau tunangan lo liat ini, pasti dia terluka. Secara, kalo gue liat dia posesif banget tu."
"Kalau itu beda cerita" lanjut Garil.
Kerut alis Sevi tidak paham dengan ucapan Garil, keponya bertanya apa yang sebenarnya dia maksud.
__ADS_1
"Dia nggak akan jadi tunangan gue, kalau bukan karena paksaan."
Terkejut Sevi menganggap Garil begitu gila, bagaimana ia bisa bertunangan tanpa dasar cinta, apalagi didasari hanya karena paksaan.
"Kalo lo nggak suka, lebih baik lo nggak usahl tunangan sama dia. Dengan cara lo kayak gini, lo justru nyakitin dia."
Sahut Garil dengan santai kalau ia sudah menjelaskan semuanya pada Yola, terutama perihal perasaannya. Tapi Yola tetep kekeh dan terus mendekatinya, Garil lalu mengatakan kalau pada saat itu ada suatu kejadian yang mengharuskannya untuk menikahi Yola.
"Kejadian apa?" tanya Sevi.
"Kenapa?. Kayaknya, lo mau tau banget?" goda Garil.
"Apaan sih. Gue cuma tanya aja, lagian gue juga nggak mau tau tentang urusan pribadi lo."
Tertegun Garil menatap lembut Sevi
Sejenak ia teringat dengan Shena saat mendengar ucapan Sevi, Garil merasa gelagat bicaranya sama seperti Shena. Kerut alis Sevi melihat Garil yang tiba-tiba terdiam seperti patung, bingungnya langsung menyenggol lirih pundak Garil. Terkejut Garil dengan gugup.
"Lo kenapa liat gue gitu banget?. Ada yang salah sama muka gue?"
"Oh, ng-nggak. Ini, luka lo udah gue obatin dan juga udah gue tutup."
__ADS_1
Lirik Sevi melihat lukanya, dengan senyum tipis mengucapkan terimakasih pada Garil.
***