
"Gue nggak mau."
"Mulut lo bisa nolak, tapi nggak sama pikiran lo?" ucap Vano sambil memainkan alis dengan senyum memikat dan secangkir minuman yang ia suguhkan.
"Lo yakin mau nolak minuman ini?. Udah, minum aja, gue tau kebahagian lo ada disini" lanjut Vano.
Sejenak Yola berfikir sambil menelan ludah, menatap Vano dan mengambil perlahan minuman yang Vano suguhkan. Jutek Yola mengatakan kalau ia meminum itu bukan karena paksaan darinya (Vano), tapi karena malam ini dia butuh minuman itu.
"Santai aja" ucap Vano menatap Yola sambil meminum secangkir minuman.
Beberapa waktu berlalu, dan beberapa cangkir minuman sudah Yola habiskan, begitu juga dengan Vano yang menjadi teman minumnya kali ini. Di secangkir minumannya kali ini, Yola merasa sudah mulai hilang keseimbangan. Senyum Vano menggoda Yola dengan mengatakan apakah dia sudah menyerah hanya dengan beberapa teguk minuman saja.
"Lo pikir, gue selemah itu" senyum Yola dengan kata-kata yang seolah menantang dan meminta secangkir minuman lagi.
Diteguk terakhir minumannya ini, Yola sudah merasa benar-benar lemas dan tubuh yang sudah tidak seimbang. Vano yang melihatnya pun segera membantunya dengan mengatakan pada Yola kalau ia sudah cukup banyak minum dan perlu istirahat.
"Gue baik-baik aja, gue cuma butuh minum" kata Yola.
__ADS_1
"Nanti kita minum lagi, tapi sekarang lo perlu istirahat."
Tak lama, Vano justru membawa Yola disebuah kamar penginapan yang mana hanya ada mereka berdua ditempat itu, yang khusus Vano sewa untuk dirinya dan Yola. Sayu Yola dengan cara bicara yang sudah melantur ia bertanya pada Vano kemana ia membawanya.
"Tempat yang damai, dan tenang" sahut Vano membaringkan Yola di atas kasur.
Klung klung klung..
Bunyi suara ponsel milik Garil, lirih Garil berjalan mengambil ponselnya. Yang mana itu adalah panggilan dari Mama Rita (Mama Yola).
Cemas Mama Rita menanyakan keberadaan Yola pada Garil, karena sebelumnya ia berpamitan untuk diner bersamanya (Garil). Namun, sudah larut malam seperti ini Yola tak kunjung pulang. Sahut Garil mengatakan kalau ia memang sebelumnya sudah membuat janji dengan Yola dan sudah bertemu Yola di resto, lalu Garilpun menjelaskan apa yang terjadi antara dirinya dan Yola saat di resto dan membuat mereka tidak melanjutkan dinernya malam ini.
"Jadi, sekarang kamu lagi nggak sama Yola?"
"Nggak Tan, Garil sekarang ada di rumah. Garil kira, Yola udah pulang dari tadi."
"Belum Ril, Yola belum pulang. Tante khawatir banget sama Yola, dan Tante telfon juga nggak dia angkat. Kamu tau kan Garil kalau Yola itu bener-bener cinta sama kamu, Tante takut dia ngelakuin hal yang buruk setelah pertengkaran kalian tadi" cemas Mama Rita.
__ADS_1
Kerut wajah Garil yang merasa bersalah dan juga khawatir karena meninggalkan Yola begitu saja, iapun meminta maaf dan mengatakan pada Mama Rita kalau ia akan mencari Yola dan membawanya pulang dengan selamat.
Bergegas Garil keluar dari kamar dan pergi mencari Yola. Kerut alis Davin yang melihat abangnya keluar kamar dan turun dari tangga dengan tergesa. Teriak lirih Davin bertanya pada Garil kemana ia akan pergi selarut ini, sahut Garil terus melanjutkan langkahnya dengan mengatakan kalau ia ada urusan mendadak.
"Urusan apa malem-malem kayak gini?" ucap Davin tak ambil pusing segera masuk ke kamarnya dengan secangkir air minum di tangan.
Terus Garil menelfon ponsel Yola, namun tetap dijawabnya. Disisi lain, Vano yang merasa terganggu dengan suara berisik dari ponsel Yola pun segera mengambilnya. Saat melihat kalau itu panggilan dari kekasih Yola, ia hanya tersenyum.
"Maaf ya Garil, malam ini, Yola jadi milik aku dulu" senyum liciknya dengan secangkir minuman ditangan dan segera mematikan ponsel Yola.
"Ahh, kenapa malah di matiin sih!. Ohiya, lokasi!"
Saat melihat lokasi keberadaan Yola, dengan wajah kecewanya Garil tidak menemukan lokasi dari ponsel Yola. Sekali lagi ia mencoba menelfon, tapi kali ini nomornya sudah tidak aktif.
"Ahhh!. Kenapa di matiin segala sih!"
***
__ADS_1