
Malam hari sekitar pukul 23:00 WIB, Shena sedang belajar bersama Chika dikamar.
Tuk tuk tuk..
Mereka mendengar suara ketukan pintu, Shena menyuruh Chika untuk membuka pintu.
Chika berjalan sedikit kesal, "Ihh siapa sih malem-malem gini bertamu. Emang rumah lo sering kayak gini apa Sen."
Jawab shena menoleh, "Ya nggak lah, rumah gue mah hening."
Chika berjalan membuka pintu sambil berteriak, "Tunggu sebentar!"
Klukk..
Pintupun dibuka, sedikit terkejut melihat Garil dan Exel datang. Chika tersenyum tipis dan bertanya kenapa mereka malam-malam datang kerumah Shena. Exel mengejek Garil dengan mengatakan pada Chika kalau Garil mau belajar bersama mereka.
Ejek Chika, "Mau belajar, apa kangen sama Shena?. Yaudah, ayo masuk dulu"
Merekapun segera masuk, Garil membawakan sebuah makanan (martabak) dan memberikannya pada Chika.
Lanjut Garil, "Nihh, buat lo sama temen lo."
Chika menatap tersenyum, "Iya iya, gue tau kok."
Chika berteriak keras memanggil Shena untuk segera turun, "Senn, buruan turun!. Liat ni siapa yang dateng."
__ADS_1
Shena sedikit terganggu ngedumel sedikit kesal, "Ihh siapa sih yang dateng malem-malem, ganggu aja."
Menutup buku berjalan keruang tamu, tiba diruang tamu sedikit terkejut mengerutkan kening melihat Garil dan Exel datang. Shena lalu bertanya apa yang mereka lakukan malam-malam datang kerumahnya, Garil menjawab santai kalau dia mau belajar bersama.
"Kan bisa besok lagi, lagian ini udah malem. Udah sana pulang ah, gue juga lagi nggak mood." Tekan Shena.
Sahut Exel sedikit mengejek, "Gue tadi sebenarnya udah bilang sama dia, cuman dia ngebet banget pengen ketemu lo katanya."
Garil membalas exel dengan gugup, "Ngaco deh lo. nggak nggak, nggak gitu."
Chika mencoba merayu Shena dengan memberikan martabak pemberian Garil, "Udah Sen, Garil tu pengertian lo. Nih dia bawain martabak keju kesukaan lo, udah duduk gih (menarik tangan Shena menyuruhnya duduk)."
Shena terduduk menatap datar Garil, "Oh, ceritanya lo mau nyogok gue."
Lalu mengambil pelan martabak dengan tatapan masih tertuju pada Garil dan mengatakan kalau dia terpaksa daripada martabak itu mubazir. Merekapun tertawa lirih yang membuat Shena salting dan mengulangi lagi perkataanya kalau dia hanya terpaksa.
Shena memakan pelan martabak tersenyum senang, "Hmm.. enak banget. Btw makasih martabaknya."
Lirih Garil tersenyum melihat Shena, "Sama-sama, ternyata bahagia lo sederhana ya."
Tertegun sebentar, Shena pun segera mengajak mereka belajar dan pamit sebentar mengambil beberapa buku diatas. Shena duduk disamping Garil yang begitu semangat dalam belajar sambil makan martabak.
Lirih Shena, "Kalo gue liat-liat, sebenernya lo lumayan rajin sih."
"Emang dari dulu gue rajin."
__ADS_1
Lanjut Shena, "Lo nggak mau makan martabak lo dulu, banyak banget loh ini."
Sambil menulis Garil mengatakan kalau nanti dia akan mengambilnya sendiri, karena kalau sedang belajar dia tidak bisa diganggu.
Shena mengambil martabak dan menyuapkan pada Garil, melihat itu Garil menatap lembut Shena. Shena memberi isyarat memainkan alis menyuruhnya untuk segera memakan
martabak itu.
"Buruan makan," ucap Shena.
Garil memajukan kepala dengan mulut terbuka dan mata melihat kearah wajah Shena, dengan senyum tipis bicara lirih mengucapkan terima kasih.
Chika dan Exel yang melihat, langsung menggoda, "Ciee, bunga-bunga cinta bermekaran."
Tatapan sinis Shena pada Chika, untuk tidak berfikir berlebihan. Ia hanya membantu Garil saja, karena dia terlihat begitu sibuk. Angguk Chika dengan senyum mengejek tak percaya.
"Iya iya. Mau lebih juga nggak papa sih.".
"Apaan sih" sambung Shena.
"Apaan sih. Udah jadi yel yel banget ya" ejek Garil.
"Apaan sih (tertegun malu). Udah ah, mau lanjut belajar nggak nih. Kalo nggak pulang deh."
"Iya iya belajar," senyum receh Garil melihat Shena.
__ADS_1
***