
Shena menghentikan langkah, garil menoleh dan bertanya ada apa dengannya. Shena meminta maaf karenanya baju yang dipakai garil menjadi basah.
"Sorry banget ya.. Gue bersihin sini." Mengelap tipis baju garil.
Garil tersenyum melihat shena yang begitu perhatian dengannya, shena menatap mata garil heran.
"Kenapa lo senyum-senyum gitu."
Sahut garil, "Nggak papa, gue seneng aja."
Sambung shena, "Seneng?. Seneng kenapa?. Orang baju basah kok seneng, aneh deh lo."
"Ya.. kalo bisa tiap saat aja baju gue basah. Kalo dengan kayak gini bisa buat lo perhatian sama gue."
Shena tersenyum menahan malu perlahan menundukan kepala, menepuk dada garil.
"Ya nggak gitu juga kali, ini air es. Ntar kalo lo masuk angin gimana?."
"Ya.. kalo anginnya masuk, ntar tinggal keluarin aja lah."
Ucapan garil itupun membuat shena tertawa geli.
"Hhahha, ada-ada aja deh lo. Emang kalo lo nyuruh angin itu keluar, anginnya langsung keluar gitu aja?. Ya nggak lah, lawak banget deh lo. Hhahha."
Lanjut shena, "Udah sini biar gue elap sama lengan baju gue aja (mengelap pelan baju garil)."
Garil menatap lembut wajah shena, mengangkat perlahan tangannya dan memegang pergelangan tangan shena. Shena sedikit terkejut merasa bingung membuat mereka saling menatap, perlahan garil mendekatkan wajahnya ke wajah shena.
__ADS_1
Shena semakin bingung bercampur gugup dengan wajah yang begitu tegang.
Sett...
"Makasih.." Bisik garil dengan lembut.
"Ihh.." Shena melepaskan pegangan garil.
"Kenapa sih?. Tegang banget. Tenang, gue nggak bakal macem-macem kok."
Berjalan beriringan.
Tanya shena, "Oh iya.. Lo kenapa sih kayak ngehindar gitu dari dara, padahal diakan cantik, kaya pula. Lagian dia kayaknya ngejer-ngejer lo banget tu, kenapa lo nggak mau?."
Balas garil dengan senyum, "Lo tau sendiri lah ya sikap dia tu kayak gimana, sukanya cuman bikin onar aja. Lagian ya.. yang kaya, yang cantik itu belum tentu bisa buat kita nyaman, bisa buat kita happy. Beda sama yang ini (lirihnya)."
Gugup garil, "Ha-ha nggak apa-apa kok."
Shena kembali menghentikan langkahnya dimana dia berhenti tidak jauh dari ruangannya.
"Kenapa berhenti?."
Senyum shena, "Lo nggak mau masuk ruangan lo, apa lo mau ngikutin gue."
Garilpun mengetakan kalau dia akan mengantar shena kedepan ruangannya, shena membalas kalau ruangannya sudah tidak jauh lagi namun garil sedikit memaksa dengan senyum.
"Yaudah deh, terserah lo aja deh. Lagian nggak lo anterin gue pasti sampek kok." Ucap shena.
__ADS_1
"Ya siapa tau kan. Ntar nggak gue anter lo dijalan diinjek semut gimana." Candaan garil.
"Hehehe (tawa lepas shena). Lagian nggak ada ceritanya kalo orang diinjek sama semut, yang ada malah semutnya yang kita injek. Ngaco deh lo, hha."
Tersenyum garil menggaruk kepala.
...
Beberapa saat shena sampai didepan ruangannya.
"Udah kan?, udah sampek. Sekarang tunggu apa lagi, buruan masuk keruangan lo sana."
"Ya.. lo masuk dulu lah, nanti kalo lo udah masuk gue juga bakal masuk keruangan gue."
Shena mengejek, "Lebay banget deh lo (tersenyum). Yaudah gue masuk dulu ya."
Garil mengangguk, "Iya.. semangat.."
Shena segera masuk, menoleh garil yang mengikutinya masuk.
"Heh.. lo mau kemana?. Ini kan ruangan gue."
"Oh iya lupa. Gini nih kalo nervous. Yaudah buruan masuk sana."
Shena mengangguk segera masuk.
Lirih garil menepuk kepala, "Garil-garil, kebiasaan deh."
__ADS_1