
Berjalan tergesa Davin menuju ruang rawat Sevi dengan wajah sumringah.
Klukk..
Membuka pintu ruang, lirihnya menyapa lembut Mami Dena dan Papi Glen.
"Pagi Tan, Om. Ini Davin bawa makanan untuk sarapan pagi."
"Astaga Davin, nggak perlu repot-repot gini harusnya. Makasih lo ya," ucap Mami Dena.
"Sama-sama Tan. Oh iya, Sevi?"
Sahut Mami Dena mengatakan kalau Sevi belum bangun dan masih tidur, mereka pun meninggalkan Sevi dan Davin berdua dan menunggu diluar ruangan sejenak sembari mencari udara segar.
"Yaudah, om tinggal dulu ya" ujar Papa Glen mengelus pundak Davin.
"Iya Om."
Berdua Davin di dalam ruangan, berjalan lirih mendekati Sevi. Senyumnya memegang wajah Sevi yang masih tertidur pulas sembari membenarkan sehelai rambut diwajah Sevi.
"Aku kangen kamu sayang, kamu cepet sembuh ya. Nanti kita bisa jalan bareng lagi, kita bisa ngobrol tentang banyak hal, aku bisa jailin kamu juga. Manisku!" gemas Davin.
"Aku nggak mau ganggu kamu, aku cuma pengen liat kamu aja. Denger kamu udah sadar, itu buat aku sedikit lega. Tidur yang nyenyak ye sayang, aku mau berangkat ke kantor dulu" lanjutnya.
Saat Davin melangkahkan kakinya, tiba-tiba tangan Sevi menggenggam erat pergelangan tangannya yang membuatnya spontan menoleh.
"Kenapa buru-buru sayang" ucap Sevi membuka mata dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Sayang, kamu.." terhenti.
"Iya, aku denger semua yang kamu ucapin. Aku sebenarnya udah bangun tadi, tapi kamu dateng jadi pura-pura tidur aja."
"Ihh, kok gitu sih (gemasnya mencubit pipi Sevi)."
"Aduh aduh sayang, sakit tau. Belum juga sembuh, udah disakitin lagi" manja Sevi.
"Iya maaf maaf sayang. Lagian, kamu kok gitu sih. Kamu nggak mau ketemu aku apa, emang kamu nggak kangen sama aku?"
"Kangenlah, kangen banget sayang. Aku cuma bercanda aja hhe."
Kerut bibir Davin bertanya pada Sevi bagaimana bisa ia sampai terjatuh dari tangga.
Terdiam sejenak Sevi mengingat kejadian saat itu, bingung ia bagaimana harus menjelaskan pada Davin soal Yola. Tetiba ia teringat dengan flashdisknya yang entah jatuh kemana.
"E-nggak sayang, nggak ada yang sakit kok. "
"Aku tadi nanya, kenapa kamu sampai bisa jatuh dari tangga?"
Tak menjawab Sevi dan meminta Davin untuk segera berangkat bekerja terlebih dahulu.
"Tu udah jam 08:00 WIB sayang, nanti kamu telat."
"Oh iya bentar lagi aku ada meating sayang, aku sampai lupa. Yaudah, aku berangkat dulu ya sayang, nanti pulang ngantor aku kesini lagi."
"Iya sayang, hati-hati ya. Love you."
__ADS_1
"Love you too" balas Davin dengan sedikit berbisik.
Senyum mereka saling menatap lembut diiringi lambaian tangan.
"Dahh" lirih Sevi.
Sendiri Sevi di dalam kamar, melamun ia memikirkan apakah ia harus memberitahu Garil soal Yola atau tidak.
"Gue kasihan sama Garil, dia harus menanggung sesuatu yang bukan bagian dari tanggung jawabnya. Gue harus apa, apa gue harus kasih tau dia. Tapi, gue nggak punya bukti apapun. Dan sekarang, apa mungkin Garil sama Yola sudah menikah?" berfikir.
Tak berselang lama Mami Dena datang menyambut Sevi.
"Hei, anak Mami udah bangun. Kenapa ngelamun gitu, mikirin apasih. Perasaan Davin baru aja dateng" goda Mami Dena.
"Hhe apaan sih, Mi. Mami abis darimana?"
"Nggak kemana-mana sayang, Mami tadi ada di depan."
Canggung dan sedikit memberanikan diri, Sevi bertanya pada Maminya apakah Garil dan Yola sekarang sudah menikah. Mendengar pertanyaan Sevi Mami Dena langsung teringat dengan apa yang diucapkan Garil padanya saat itu mengenai Shena. Batinnya bertanya-tanya apakah anaknya itu masih memiliki rasa pada Garil.
"Belum sayang, Garil sama Yola belum menikah. Kamu kenapa nanyain itu?" penasarannya.
Sevi pun mencari alasan dengan mengatakan kalau ia tidak enak, karenanya pernikahan Garil dan Yola harus tertunda. Mami Dena meminta agar Sevi tidak perlu mencemaskan hal itu, karena itu bukanlah salahnya, malainkan kecelakaan. Ia juga mengatakan kalau Garil dan Yola akan kembali melangsungkan pernikahan besok.
Terdiam Sevi mengangguk.
...
__ADS_1