BERIKAN AKU CAHAYAMU

BERIKAN AKU CAHAYAMU
Tugas


__ADS_3

"Huh. Astaga bik, jantung saya kayak habis maraton. Lagian kenapa bisa kebakaran sih bik?" Tanya Shena dengan raut wajah yang masih panik mengelap keringat.


Hela nafas pembantu, "Tadi bibik tinggal ke kamar mandi mbak, terus lupa narok lap dideket kompor. Tapi untung aja apinya belum sempat merambat, bibik aja sampek panik mbak."


"Yaudah bik, lain kali hati-hati deh ya. Kita mau balik ngerjain tugas dulu," Lanjut Shena memegang pundak pembantu.


Angguk pembantu itu dengan senyum tipis namun dengan wajah yang masih cemas.


Lirik bingung Shena yang melihat Fidin malah tersenyum.


"Lo kenapa senyum-senyum gitu. Orang kebakaran bukannya panik, tapi lo malah senang."


"Hhe, gue bukan seneng. Gue cuman lucu aja liat lo sama bibik tadi, udah tau kebakaran bukannya buruan di padamin apinya malah teriak-teriak gitu. Lagian, kalo api lo teriakin mau sekenceng apapun juga nggak bakal mati bisa-bisa tu api malah makin gede. Hha," Tawa geli Fidin.


Senyum garing Shena malu-malu, "Iya juga sih.. ya tapi kan, gue panik. Makannya gue teriak-teriak gitu, coba kalo nggak ada api ya gue juga nggak bakal teriak-teriak gitu hhe."


"Ya kalo nggak ada api, apa juga yang mau lo teriakin. Ternyata lo tu receh juga ya, hha"


"Gue bukan duit. Udah ah, ayo buruan kerjain tugas ini."


Merekapun kembali mengerjakan tugas yang sempat tertunda karena drama api. Beberapa jam berlalu, letih mereka yang begitu fokus dengan buku-buku dan laptop terlihat jelas diwajah mereka.

__ADS_1


"Duhh, udah 4 jam. Capek juga mata gue" Lirih Shena mengucek mata.


"Iya sama, istirahat dulu deh capek banget" Hela nafas fidin menaruh buku yang dipegangnya lalu mengelap wajah dan menyandarkan badan disofa belakang.


Angguk Shena dengan wajah cemberut lemas dan mata sayup menaruh kepala diatas meja. Tanya Fidin pada Shena apakah Chika tidak mengerjakan tugasnya.


"Ngerjain. Tapi biasanya dia kalo ngerjain tugas-tugas gitu ya sekalian healing, kayak diresto atau ditempat-tempat yang nuansanya indah gitu. Makannya sekarang dia nggak ada dirumah."


"Lo kenapa nggak gitu juga?."


"Ya, kalo gue mah mau dimana aja yang penting nyaman dan bisa duduk."


"Bener-bener cewek unik banget lo," Liriknya pada Shena yang ternyata sudah tertidur pulas.


Sementara Yola, Dara dan Exel mengerjakan proyek mereka dirumah Garil, yang mana mereka ber-4 berada dalam satu kelompok. Yola yang ingin mencari kesempatan mendekati Garil selalu digagalkan oleh Dara, Kesal Garil mengatakan kalau proyek mereka tidak akan pernah selesai jika mereka tidak segera mengerjakannya.


"Lo sih, caper banget jadi cewek. Udah jadi mantan juga, move on woy move on" Bisik Dara mencibir.


Sinis Yola, "Bodo amat!, daripada lo nggak dianggep."


Jijik Dara menaikan bibir, "Dih.. kayak lo dianghep aja."

__ADS_1


Pusing garil mendengar percekcokan mereka, iapun meminta mereka untuk pulang jika tidak mau mengerjakan proyek itu.


"Tuh denger, pulang aja lo" Mata dan bibir Dara mengarah pada Yola.


"Lo aja yang pulang!."


"Kalian berdua!" Tekan Garil.


"Jangan dong," Ucap Dara dan Yola.


Garilpun mengatakan seharusnya mereka bisa fokus mengerjakan proyek mereka, bukan malah berdebat untuk sesuatu yang tidak penting. Merekapun terdiam saling menatap kesal.


Satu jam berlalu Shena terbangun dan melihat Fidin yang sudah tidak ada dengan menoleh-noleh melihat sekeliling. Niat ingin melanjutkan tugas, menyalakan laptop dengan terkejut melihat bahan presentasi mereka sudah selesai.


"Hah, udah selesai?. Beneran Fidin yang nyelesain ini, terus kemana tua anak??"


"Mbak cari masnya yang tadi ya?" Tanya Bibik pembantu.


"Iya bik, kemana dia?"


"Masnya tadi udah pamit pulang mbak. Masnya tadi bilang kalo mbak udah bangun, bibik disuruh sampek'in pesennya. Soalanya tadi kata masnya, mbaknya pules banget tidur jadi nggak tega mau dibangunin. Yaudah ya mbak bibik pergi dulu."

__ADS_1


"Astaga.. mana sama dia bener-bener diselesain lagi tugasnya" Senyum tipis Shena. melihat laptop..


__ADS_2