
Sebelum pulang kuliah, Chika mengajak Shena melihat pertandingan basket dimana Garil dan teman-temannya akan bertanding. Shena memberi isyarat setuju dengan memainkan alis, lirih Chika menarik tangan Shena.
Shena menyuruh Chika memelankan langkahnya, karena dia membawa beberapa buku yang berat.
Chika menghentikan langkah dengan wajah polos, "Ah elah Sen, kebiasaan deh lo. Minjem buku sebanyak ini, mana tebel banget lagi. Sini gue bantu bawak" mengambil 2 buku dari 4 buku yang Shena bawa.
Shena dan Chika berjalan menuju aula basket, Garil dan Exel yang berjalan dibelakang merekapun langsung memanggil. Exel memanggil Chika dengan panggilan sayang, Garil mencoba mengejek mereka.
"Yaelah, sayang-sayangan segala."
Sahut Exel, "Dihh, sirik aja lo. Eh, tumben banget bawak buku (mengejek Chika)."
Tawa receh Chika mengatakan kalau ia hanya membantu Shena membawakan bukunya.
Seru Shena, "Buku gue!"
Garil menggoda Shena apakah kedatangannya kesini untuk memberi semangat, Shena menjawab kalau dia hanya mau menonton dan itupun di paksa Chika.
Spontan Chika menjawab sedikit terkejut sambil menunjuk dirinya, "Hah gue!. Gue tadi cuman ngajak Shena, bukan maksa."
"Sama aja" segera Shena masuk ke aula basket.
Tiba-tiba Dara bersama Raya menghampiri Garil dan Exel langsung memegang tangan, kesal Chika melihat raya mengang tangan Exel dan menyuruhnya untuk melepaskan. Tolak Raya dan malah memegang erat tangan Exel. Begitu juga Dara memegang tangan Garil, risih Garil melepaskan pegangan dara sedikit keras.
Kesal dara bicara memuncungkan mulutnya, "Ihh Garil, lo tu kenapa sih. Lo tu harus tau kalo cewek yang selalu setia nemenin lo itu cuma gue. Yang selalu setia berjalan dibelakang lo tu cuma gue, harusnya lo hargain perjuangan gue dong."
Sahut Garil bicara tegas, "Kenapa harus, Kan gue nggak pernah nyuruh lo ngikutin gue" berjalan masuk aula.
Kesal Dara menggeramkan tangan berteriak memanggil Garil sambil menghentakkan kaki.
Chika mengejek, "Ihh, kalo gue malu dong langsung pulang masuk kamar tu nangis dipojokan" menarik tangan Exel mengajaknya masuk ke aula.
__ADS_1
Raya memanggil Exel bersyair dengan menggenggam tangannya yang memegang Exel.
Lanjut Dara dengan wajah kesal bicara lirih pada Raya, "Songong banget tu anak ya, dia nggak tau kalo kita udah turun tangan gimana."
"Bener banget dar, mereka dateng-dateng mau ngerusak aja. Kita memang harus turun tangan ini."
Dara mengangguk mengajak Raya segera masuk aula. Saat didepan pintu, tiba-tiba ada yang menabrak Dara (Fidin) dan membuat bahunya terbentur pintu.
Dara berteriak sedikit memaki sambil menunjuk, "Aduhh!, dasar lo ya. Kalo jalan pakek mata dong, sakit tau (memelankan suara)."
Raya terkejut dan bertanya pada Dara apakah dia baik-baik saja.
Sahut Fidin sedikit terburu-buru, "Sorry sorry, gue nggak sengaja" segera masuk aula.
"Wah, bener-bener tu cowok. Udah nyakitin gue, bukannya di bantuin. Malah di tinggal gitu aja, sok cakep banget."
Sahut Raya, "Tapi emang cakep sih Dar."
Dara dan Raya segera masuk aula basket, duduk didepan Shena dan Chika menatap sedikit sinis. Nyolot dara bicara pada Shena untuk tidak kegatelan jadi perempuan.
Chika membalas Dara, "Kegatelan?. Nggak salah, kayaknya omongan lo tu ngeroasting diri sendiri deh (tertawa lirih)."
Dara yang merasa geram mencoba menarik rambut Chika, tapi teman yang duduk disebelah Dara memintanya untuk duduk diam. Dara memalingkan pandangan dengan kesal.
Beberapa detik lagi pertandingan segera dimulai. Fidin yang kesal dengan kekalahan terakhirnya, menatap Garil dengan tatapan sinis membatin kalau kali ini dia akan mengalahkannya. Sementara Garil bersikap santai dan menatap kearah Shena sebelum mulainya pertandingan, Shena memberi senyum tipis dan membuat Garil semakin bersemangat.
Pertandingan siap dimulai..
Beberapa menit berlalu dimana tim garil masih memimpin jauh didepan, Permainan yang semakin panas membuat kedua tim bersaing ketat. Garil yang menganggap itu hanyalah permainan dan tidak memikirkan menang atau kalah pun bersikap enjoy, sementara Fidin hanya memikirkan bagaimana dia bisa menang kali ini.
Menit per menit berlalu, tim Fidin mulai bisa menyeimbangi dan mencoba menyalip poin. Dimenit terakhir poin pun seimbang, membuat kedua tim semakin panas.
__ADS_1
Dan akhirnya..
Tim Garil yang kembali mendapat kemenangan. Beberapa mahasiswa/i bersorak dan selamat, tidak terkecuali Shena dan Chika yang merasa kagum. Sementara Fidin yang merasa kesal dengan kekalahannya mencoba melempar keras Garil dari belakang dengan bola basket ditangannya. Garil yang tidak tahu sedikit bergeser tempat, alhasil bola yang dilempar Fidin mengenai kepala Shena.
Shena yang sedikit kaget dan tidak bisa menahan diripun terjatuh dengan kepala terbentur tiang. Spontan Garil berteriak lirih membantu Shena dan melihat kepalanya yang terluka dan berdarah, dengan tatapan tajam Garil berbalik menatap Fidin saling melempar cemohan dan mengakibatkan pertengkaran yang membuat suasana sedikit runyam.
Teriak Garil dengan emosi, "Gue tau lo sengaja kan ngelempar bola itu supaya kena gue!. Ini tu permainan bro, kalo lo nggak mau kalah ya nggak usah main!. Mending lo masak aja didapur!."
Beberapa mahasiswa mencoba melerai, Shena pun bangkit dengan memegang kepala sedikit sakit dan ikut melerai Garil dan Fidin. Chika menyuruh shenat untuk tidak menghampiri mereka dan mengobati lukanya, tapi Shena tetap bersikeras melepaskan pegangan Chika dan berjalan sedikit cepat.
Teriak Shena melerai dengan darah yang menetes diwajah, "Udah cukup!. Kalian bisa nggak sih nggak usah kayak anak kecil. Lo itu nggak usah lebay deh, gue nggak papa gue cuma luka kecil (menunjuk Garil). Dan lo juga, kalo nggak mau kalah ya lo nggak usah ikut tanding-tanding kayak gini, malu-maluin aja (menunjuk Fidin)."
Seketika pertengkaran terhenti dan terdiam, Chika menghampiri Shena memegang pundak Shena untuk tenang dan segera pergi mengobati lukanya. Lirih Garil memberi peringatan pada Fidin dan berjalan menggandeng tangan Shena. Terkejut Shena meminta Garil melepaskan tangannya, Garil yang tau mendengar justru memegang erat tangan Shena dan membawanya pergi dari tempat itu.
Ucap Shena sambil memontang-mantingkan tangan, "Lepas!. lepasin gue!, lo mau bawa gue kemana sih."
Chika dengan wajah bingung menyusul Shena dibarengi Exel.
Garil menyuruh Shena untuk duduk diam. Chika Garil datang dengan membawa kotak p3k. Shena bertanya pada Garil apa yang akan dia lakukan, Garil menjawab dengan wajah datar kalau dia akan mengobati lukanya.
"Gue nggak perlu obat, gue udah biasa luka dan luka kecil kayak gini juga nggak bakal buat gue kenapa-napa. Jadi lo nggak usah sok peduli deh" tekan Shena mencoba pergi.
Garil memegang tangan Shena dan menyuruhnya untuk tetap duduk, "Dasar kepala batu. Lo bisa nggak sih sekali ini nggak keras kepala, sekarang lo duduk biar gue obatin kening lo."
Chika menyuruh Shena untuk diam dan menurut dengan perkataan Garil, karena ini bukan soal peduli atau nggak tapi yang namanya luka memang harus diobati. Shena menatap Garil dengan muka datar, namun berbanding terbalik dengan Garil yang menatapnya begitu lembut.
Exel menggoda, "Hmm.. mau ngobatin apa cuma mau tatap tatapan aja."
Mereka saling terkejut, dengan cepat Garil mengobati luka Shena dan segera menutup lukanya.
***
__ADS_1