
Didalam aula kampus dengan tangan yang masih berpegangan, Garil menggoda Shena dan bertanya apakah dia akan membawanya ke ruang kelasnya.
"Betah banget ya megangin tang gue."
Toleh Shena spontan mengerutkan kening melempar sedikit keras tangan Garil, "Ihh, apaan sih!. Nggak usah gr ya, gue cu-cuman itu (gugup), tadi karena ada Dara aja. Gue males kalau harus ngeladeni dia, makannya gue bilang kayak gitu. Nggak usah gr ya lo!"
Senyum Garil mengejek, "Ahh.. Masak.."
Salting Shena, "Ihh apaan sih lo.. emang sama aja lo sama mereka. Sama-sama nggak jelas (menekan nada), dahlah males gue ngomong sama lo."
Berjalan pergi meninggalkan Garil.
"Kok baper sih!"
...
Tiba di ruang kelasnya, Shena segera duduk dengan sedikit kesal dan salah tingkah menutup wajah dengan kedua telapak tangan, "Gr banget sih jadi cowok!"
Lirih salah seorang temannya menghampirinya, "Sen.."
Shena yang masih kesal spontan bicara sedikit ngegas sambil menepuk meja, "Apaan sih!"
__ADS_1
Melongo kaget temannya, begitu juga dengan Shena yang menyadari kalau itu adalah temannya, iapun segera meminta maaf dan mengatakan kalau ia tadi sedang banyak fikiran.
"Sorry ya sorry banget."
"Ihh elo ya, mikirin apasih Sampek segitunya. Gue cuma mau nanya aja, apa tugas-tugas lo yang dikasih sama dosen kemarin udah selesai semua."
Balas Shena menjawab kalau semua tugasnya sudah selesai, kembali temannya pun bertanya dimana Chika yang tidak berangkat bersamanya. Sahut Shena mengatakan kalau Chika sedang pulang ke rumahnya, jadi mereka tidak bisa berangkat bersama. Angguk temannya mengerutkan bibir.
Tak lama, Chika datang dengan wajah yang terlihat begitu segar dan ceria segera duduk. Shena yang melihatnya bertanya apa yang membuat dia begitu senang hari ini dengan nada godaan.
"Gue pergi dulu ya" ucap teman Shena.
Sahut Chika, "Ya kali libur, ya libur. Tapi kayak biasa aja sih, cuma sehari."
Kerut bibir Shena sambil memainkan alis.
Colek Chika, "Oh iya Sen, semalemkan orang tua gue nanya tu. Nanyain lo, katanya lo tinggal sama siapa. Terus gue bilang dong sama orang tua gue kalo lo tinggal sendiri dan terpaksa pergi dari rumah karena papa lo, gue ceritain sedikit tentang papa lo sama orang tua gue. Nggak papa kan?"
Angguk lirih Shena, "Iya, nggak papa. Mau lo ceritain apa nggak, ya nggak bakal ngerubah keadaan juga."
Lanjut Chika, "Nah.. dan Mama sama Papa gue ngajak lo untuk tinggal bareng dirumah gue. Gimana?, lo mau ya."
__ADS_1
Shena menjawab dengan canggung kalau dia tidak enak dengan orang tuanya dan mengatakan kalau dia bisa menjaga dirinya sendiri.
"Lo nggak perlu khawatir, gue nggak papa kok tinggal dirumah sendiri."
Sambung Chika merayu sambil memegang tangan, "Jangan gitu dong Sen, gue maunya bisa bareng-bareng terus sama lo. Lo tinggal ya sama gue, pliss. Lo bisa anggep orang tua gue sama kayak orang tua lo sendiri kok, dan lo bisa anggep kita kayak keluarga lo sendiri. Ya ya ya.. Plisss.."
"Nanti deh gue pikir-pikir lagi aja ya."
Paksa Chika, "Udah, pokonya lo harus mau."
"Maksa banget."
"Semalem yang diner, lanjut paginya dijemput. Asik banget ya?" lanjut Chika menggoda Shena.
"Siapa yang diner?, orang gue cuma beli buku doang. Lagian nggak ada yang asik, biasa-biasa aja tu. Tadi pagi gue mau mesen gojek, eh malah dia dateng duluan. Yaudah gue ikut aja, sekalian ngirit duit."
Goda Chika mencolek dagu Shena "Ahh, Masyakk."
Geli Shena memalingkan pandangan menahan salting, "Ihh.. apaan sih, nggak usah lebay deh."
***
__ADS_1